Yang Kerja Keras Belum Tentu Berhasil Yang Kerjanya Cari Muka Belum

Yang Kerja Keras Belum Tentu Berhasil Yang Kerjanya Cari Muka Belum

Yang Kerja Keras Belum Tentu Berhasil Yang Kerjanya Cari Muka Belum Tentu Gagal

Yang Kerja Keras Belum Tentu Berhasil Yang Kerjanya Cari Muka Belum Tentu Gagal

Senjaqq Domino99 -Begitulah gejala yang acapkali terjadi dalam dunia kerja. Mencari muka tersebut jamak terjadi di dekat kita. kita mungkin pun mempunyai rekan kerja yang gemar cari muka. Bahasa kasarnya mereka yang suka menjilat atasan. Mereka ini kelompok orang yang suka mengasyikkan atasan. Atau lebih dikenal dengan istilah ABS (Asal Bapak Senang). Anda barangkali merasa risih atau tak berakhir pikir dengan tipe orang yang demikian. kita mungkin berpikir orang yang laksana ini tidak bakal sukses. Mereka tidak bakal bertahan lama. Tapi nanti dulu. Karena tidak semuanya selesai dengan tragis.

Baiklah, kali ini saya bakal bercerita. Ini real terjadi dalam lingkungan kerja yang saya alami. kita mungkin pun mempunyai kisah yang serupa. Saya mempunyai dua orang teman kerja. Saya sebut saja namanya Arjuna dan Subali. Keduanya mempunyai posisi level yang sama dalam perusahaan. Arjuna ini ialah tipe pekerja keras. Ia pun seorang pekerja yang smart dan brilian. Ia tipe orang yang paling loyal untuk perusahaan. Waktu baginya ialah kesempatan guna mengabdi. Ia ialah pekerja yang tak ragu kembali sampai larut malam bila memang diburu deadline pekerjaan. Sumbangsihnya untuk perusahaan tidak dapat dibilang kecil. Ia menangani sekian banyak proyek yang menyebabkan uang yang tidak sedikit untuk perusahaan.

Lain Arjuna, beda pula dengan Subali. Ia ialah tipe pekerja santai yang melulu sibuk saat pekerjaan itu ada kaitannya dengan bos. Ia ialah orang yang gemar mengakui kegiatan yang ia sendiri bahkan tidak menyentuhnya. Ia mengklaim prestasi yang seharusnya menjadi kepunyaan orang beda didepan bos. Parahnya ia tidak jarang mengekspose kekeliruan orang beda di depan forum agar ia menemukan nama didepan bos. Orang-orang dikantor menyebutnya sebagai sekretaris individu direktur meskipun jabatan aslinya bukan itu. Itu sebab ia menempel pada bos. Itu terlampau kentara. Semua orang di kantor dapat melihat itu. Malahan kegiatan yang menjadi tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi) sendiri sering tidak teratasi dengan baik. Tetapi semuanya tersebut ditutupi dengan prestasi-prestasi beda yang ia laporkan langsung untuk bos. Tapi ya tersebut tadi: hasil kerja orang lain. Akhirnya bos pun melulu tahu bahwa ia baik.

Bagaimana nasib Arjuna dan Subali?

Ini menariknya. Arjuna tidak berkembang. Perannya di kantor terlihat tidak cukup menonjol. Penghargaan kerja juga tak diterima dengan semestinya. Walaupun berprestasi, ia tampak sama saja dengan karyawan beda yang kerjanya biasa-biasa saja. Malahan tidak sedikit tuduhan-tuduhan oleng yang dialamatkan kepadanya. Anehnya, bos malah termakan dan ikut terprovokasi dengan suara-suara oleng tersebut.

Lalu bagaimana dengan Subali?

Subali berkibar. Perannya semakin sentral dalam organisasi sebab ia mendapatkan keyakinan penuh dari bos. Ia paling menonjol dalam sekian banyak kesempatan. Karirnya bertambah dengan pesat. Ia menerima penghargaan seakan-akan ia ialah pegawai teladan. Bahkan ia diserahkan wewenang yang semakin luas termasuk memantau bagian-bagian lain. Lucu, tapi betul-betul terjadi.

Disclaimer

Artikel ini tidak bertujuan guna merendahkan orang-orang yang sudah bekerja keras meraih mimpi dan kesuksesan. Saya tidak menuliskan bahwa bekerja keras tersebut tidak baik. Kerja keras, kompetensi, loyalitas, kejujuran. Tentu saja tersebut semua ialah hal yang positif. Saya melulu memaparkan kenyataan unik dalam dinamika kerja yang nyata terjadi. Faktanya ialah banyak orang bekerja dengan menggali muka. Terkadang malah mereka mengungguli orang yang rajin. Mereka berhasil bukan sebab prestasi. Melainkan dengan teknik yang tidak elegan. Sukses dengan teknik mencari muka tersebut bukanlah sebuah teknik yang elegan.

Untuk tersebut baiklah andai kita bekerja dengan prestasi. Supaya anda meninggalkan nama yang baik. Semuanya tersebut memang pilihan. Apakah anda ingin diingat karena kepandaian kita dalam menggali muka atasan atau sebab kompetensi yang unggul.