Villa Isola dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

Villa Isola dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

Villa Isola dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

Villa Isola dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

PESIARQQ – Belum lama ini beredar video yang merekam pekerjaan kelompok Sunda Empire di taman dekat Villa Isola, Bandung. Dalam tayangan Indonesia Lawyer Club, Rangga Sasana, salah seorang petinggi Sunda Empire mengklaim bila Isola ialah tempat lahirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia sendiri menyatakan menjabat sebagai The Heeren Zeventien atau Panitia 17 di kekaisaran itu.

“Isola tersebut apa tadi? Itu salah, memang benar isola tersebut International Soldier Leader. Itu lahirnya NATO di sana. Itu dengan kata lain belum mengenal sejarah,” katanya menyangkal pernyataan Roy Suryo dalam acara yang sama.

Sebelumnya, KRMT Roy Suryo sebagai kerabat Pakualaman dalam diskusi tersebut menjelaskan bila Villa Isola di bina pada 1933 oleh Willem Barretty. Bangunan ini dibangun guna mengisolasi pemakainya.

“Dia orang yang agak introvert. Makanya ditulis dalam ruangannya dulu m’isolo e vivo, dengan kata lain dia mengisolasi dirinya sendiri. Bukan lantas diterjemahkan menjadi International Soldier and Leader of the World. Ini benak yang menurut keterangan dari saya terlampau berlebihan,” ujarnya.

Dominic Willem Berretty ialah pemilik kesatunya. Seorang Indo-Eropa yang familiar di masyarakat Hindia Belanda. Ayahnya keturunan Italia-Prancis. Ibunya keturunan Jawa di Yogyakarta.

Berdasarkan keterangan dari C.J. van Dullemen dalam Arsitektur Tropis Modern: Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker, sebagai raja surat kabar yang kaya raya, Berretty suka berduel dan “juara dalam seni halus menciptakan musuh. Karenanya dalam masyarakat Hindia Belanda yang sarat gosip, Berretty tidak jarang merasa mesti mundur dan menjaga diri.”

Maka, tepat saat di dinding di atas aula Villa Isola diukir moto Italia berbunyi M’isolo e Vivo. Artinya saya mengisolasi diri saya sendiri dan kehidupan.

“Ciri ini terlukis dalam penampilan vila. Hal ini semakin ditekankan oleh moto Italia tersebut dan nama vila yang berasal dari bahasa Italia, ‘Isola’, dengan kata lain ‘pulau’,” jelas Dullemen.

Dari sisi gaya, Villa Isola unik sebagai suatu kreasi Art Deco bergaya ramping. Ia lebih serupa Gedung Amerika dibanding Indonesia maupun Belanda. Sayangnya, demikian terkenalnya Berretty, nama arsitek pembangun Villa Isola malah tak diketahui. “Terdapat kekosongan dalam sejarah arsitektur karya semua arsitek Belanda di Hindia Belanda, dengan kata beda arsitektur kolonial,” tulis Dullemen.

Baru pada 1984, Dullemen mengejar sebuah tulisan tentang Berretty dalam suatu edisi mingguan Belanda, Panorama. Di dalamnya, C.P. Wolff Schoemaker dinamakan sebagai arsitek Villa Isola. Pencarian Dullemen ternyata tak mudah. Rumah dan Studio Wolffman jadi korban pengrusakan semua pejuang sekitar periode revolusi yang kacau seusai Jepang menyerah. Gambar-gambar Villa Isola juga hangus menjadi abu dampak kebakaran yang menghancurkan rumahnya.

Perancang Misterius

Bagi Charles P. Wolff Schoemaker (1882-1949), Villa Isola dapat dibilang adalahsalah satu penugasan sangat sulit dan tidak sedikit dipublikasikan. Berdasarkan keterangan dari Dullemen, Wolff Schoemaker adalahsalah satu arsitek Belanda yang sangat penting dalam memperbarui lanskap perkotaan di Indonesia masa kolonial. Di samping Villa Isola, karya terkenalnya ialah Gedung Jaarbeurs dan Grand Hotel Preanger di Bandung.

Wolff Schoemaker bermunculan di Indonesia dan diajar sebagai arsitek di Belanda. Kariernya dibuka dengan menjadi insinyur militer di Hindia Belanda. Kemudian ia menjadi kepala Departemen Pekerjaan Umum Batavia.

Wolff Schoemaker bareng saudaranya, Richard Schoemaker, membuka biro arsitektur pada 1918. Namun, enam tahun lantas perusahaannya ditutup. Ia sepenuhnya menjadi profesor arsitektur Technische Hogeschool di Bandung (sekarang menjadi ITB), di mana di antara mahasiswanya ialah Sukarno.

Sembari mengajar, Wolff Schoemaker terus bekerja sebagai arsitek independen. Karya-karyanya yang sangat terkenal berasal dari periode ini.

“Apa yang kesudahannya membuatnya menjadi orang buangan dari komunitas Eropa ialah persahabatan abadinya dengan Sukarno, yang bahkan berlanjut sesudah Proklamasi kemerdekaan,” catat Dullemen.

Wolff Schoemaker dan Berretty lumayan lama saling mengenal. Pada mula 1920-an, dua-duanya bertugas dalam komite yang tercebur dalam pendirian Jaarbeurs Bandung.

“Hindia Belanda bisa diibaratkan sebagai suatu desa besar yang di dalamnya seluruh orang saling mengenal,” jelas Dullemen. “Mudah menginginkan pada sebuah pagi Berretty mampir ke lokasi tinggal Wolff dan mengucapkan rancangannya.”

Ambisi Berretty

Berretty tadinya sedang menggali tanah untuk membina sebuah bungalow sederhana salah satu Bandung dan Lembang. Ambisinya mencetuskan Villa Isola hingga nyaris membuatnya menjadi pengemis.

“Gosip jahat mengaitkan gedung dengan kenyataan bahwa Berretty telah memasarkan dirinya sendiri untuk orang Jepang,” jelas dia.

Pada Maret 1933, Vila mulai di bina oleh biro Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA) yang pun membangun Koloniale Bank di Surabaya. Gedung tersebut telah siap pada Desember 1933.

Villa Isola tak sekadar lokasi rekreasi untuk keluarga Berretty. Karena jaraknya tak terlampau jauh dari Batavia, vila tersebut juga meluangkan ruang kerja baginya yang tak waras kerja dan hunian untuk sekretarisnya.

Karena megahnya, vila tersebut kemudian tidak jarang disebut istana. Dana guna membuatnya pun tak sedikit, menjangkau 500.000 gulden. “Jumlah ini tegolong spektakuler besar kala itu, terutama di wilayah koloni,” kata Dullemen. “Sebagai perbandingan, total kontrak guna Grand Hotel Preanger ialah 325.000 gulden.”

Kendati begitu, Berretty tak dapat lama merasakan vila ini. Dia nyaris bangkrut saat vila berlalu dibangun. Alasan tersebut juga yang mendorongnya pergi ke Eropa guna mencari peluang baru. Namun, nasibnya nahas. Ia sebenarnya hendak tiba di Bandung saat Natal pada 1934. Namun, pesawat Uiver yang membawanya kembali tak pernah mendarat di Batavia. Pesawat tersebut terjebak di badai pasir hebat dekat Baghdad, kemudian jatuh di padang pasir. Semua penumpangnya tewas.

Berubah-ubah Fungsi

Sepeninggal Berretty, Villa Isola dibeli empunya Hotel Savoy Homann. Vila ini diolah menjadi pavilion mewah dengan nama Hotel Isola. Tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II, villa itu dipungut alih pemerintah. Ia dipakai sebagai markas besar Mayor Jenderal Pesman, Komandan Divisi Angkatan Darat Bandung.

“Villa Isola informasinya terkena ledakan bom, saat terjadi peperangan hebat di sisi unsur utara Bandung dalam hari-hari terakhir sebelum kapitulasi,” jelas Dullemen.

Jepang pernah sejumlah kali meminta gambar Villa Isola untuk Wolff Schoemaker. Rencananya inginkan direnovasi guna akomodasi seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Tapi tak jadi. Villa Isola terbengkalai sekitar tahun kesatu pendudukan Jepang. Akhirnya, pada 8 November 1943 gedung ini dimulai oleh pasukan Jepang dengan upacara besar sebagai museum perang dan kemenangan Jepang.

Villa Isola lantas sempat digunakan untuk Kongres Pemuda pada 16-18 Mei 1945. Berdasarkan keterangan dari sejarawan Universitas Gadjah Mada, Suhartono W. Pranoto, dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi, sekira 300 pemuda datang dari kota-kota di Jawa ke tempat tersebut untuk mendiskusikan politik berkaitan dengan menurunnya kekuatan militer Jepang di medan Pasifik.

“Tak diragukan lagi kongres ini ialah atas prakarsa Angkatan Muda Bandung di bawah pimpinan Jamal Ali, Hamid, dan M. Tahir,” tulis Suhartono.

Setelah Proklamasi kemerdekaan, gedung tersebut direstorasi sepenuhnya. Ia kemudian dipakai sebagai markas besar Divisi Siliwangi. “Nama Bumi Siliwangi masih dapat disaksikan pada fasad,” kata Dullemen.

Alwin Suryono, pengajar arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dalam “Conservation of Dutch Colonial Architecture Heritage on Rectorate Building of Education University of Indonesia in Bandung” termuat di Journal of Basic and Applied Scientific Research 2013, menyatakan pada 1954, Villa Isola lantas difungsikan sebagai kampus Universitas Pendidikan Guru. Saat itu dilaksanakan perbaikan bangunan. Ruang interior dan lantai atap diubah, dicocokkan dengan ruang kuliah. Lalu pada 1996, gedung tersebut difungsikan sebagai kantor rektor.

“Bangunan ini lebih bermakna sebagai lokasi tinggal yang dapat melihat pemandangan alam sekitar, cocok mempunyai nama Villa,” tulis Alwin.

Di atas segalanya, menurut keterangan dari Dullemen, Villa Isola ialah sebuah kendaraan yang ingin dipakai Berretty untuk menciptakan orang-orang di sekelilingnya terkesan: “Berretty hendak menunjukkan bahwa walaupun dia ialah seorang Indo-Eropa, dia dapat mendahului posisi yang diutamakan untuk kumpulan ini.”