Unjuk Rasa Antara Negara Hongkong dan China Menjadi Besar

Unjuk Rasa Antara Negara Hongkong dan China Menjadi Besar

Unjuk Rasa Antara Negara Hongkong dan China Menjadi Besar

 

Unjuk Rasa Antara Negara Hongkong dan China Menjadi Besar

 

Demo besar anti-pemerintah yang dirangsang oleh kemarahan rakyat yang meningkat sekitar bertahun-tahun atas pemerintahan China kembali hadir di Hong Kong, Minggu (20/7).

Munculnya pawai yang berkelanjutan sekitar berminggu-minggu, serta konfrontasi kekerasan sporadis antara polisi dan pengunjuk rasa yang keras tersebut membuat Kota Hong Kong jatuh dalam krisis terjelek dalam sejarah.

Protes tersebut tadinya disulut oleh RUU yang kini telah ditangguhkan tentang ekstradisi ke daratan China.

Namun, sejak tersebut para pengunjuk rasa sudah berkembang membuat gerakan yang lebih luas, menyerukan reformasi demokratis, dan hak pilih universal.

Anita Poon (35) di antara pengunjuk rasa menyatakan bahwa keinginannya guna ikut berunjuk rasa hadir setelah menyaksikan unjuk rasa dari orang-orang tua seminggu sebelumnya.

“Ketika nenek-nenek saja turut serta, bagaimana kita dapat hanya menyaksikan TV? Pemerintah belum merespons suara rakyat, itulah sebabnya ini (unjuk rasa) terus terjadi,” kata Poon untuk AFP.

Biasanya unjuk rasa dilangsungkan damai. Namun kadang aksi dibuntuti dengan perselisihan antara polisi dan sejumlah kumpulan demonstran yang lebih brutal.

Para perusuh merasa demonstrasi yang dilangsungkan damai sekitar bertahun-tahun tak tidak sedikit membuahkan hasil. Hasilnya, kini ketenteraman diperketat di pusat kota.

Pada akhir unjuk rasa, semua demonstran menempati jalan protokol dekat dengan gedung DPRD dan beberapa pengunjuk rasa berkumpul di luar markas kepolisian yang sebelumnya telah dikepung dua kali.

Pihak anti huru-hara tidak tidak sedikit muncul supaya menjaga suhu unjuk rasa tetap berlangsung kondusif, meskipun polisi menuliskan telah memblokir ruang tanggap gawat terpaksa di markas mereka.

Di bawah kesepakatan penyerahan dengan Inggris pada 1997, China berjanji mengizinkan kemerdekaan Hong Kong laksana independensi peradilan dan kemerdekaan berpendapat.

Namun tidak sedikit yang menyatakan peraturan tersebut sudah dibatasi, mengacu pada permasalahan penjual kitab yang lenyap, penyingkiran semua politisi, dan penahanan pemimpin protes pro-demokrasi.

Pemerintah setempat juga terus menampik seruan permintaan pemilihan kepala wilayah secara langsung oleh rakyat

Para pengunjuk rasa sekarang telah berjanji guna terus menggerakkan massa sampai tuntutan inti mereka terpenuhi, yaitu pengunduran diri pemimpin kota Carrie Lam, serta investigasi independen terhadap polisi, amnesti dan penarikan permanen tagihan, serta menyerukan hak pilih universal.

Di sisi lain, sekelompok aktivis dari gerakan berdikari membacakan sebuah pernyataan sebelum unjuk rasa yang mencerminkan rasa putus asa para demonstran. Kalimat yang mereka ucapkan sama dengan yang pernah dibawakan pada penyerbuan DPRD pada 1 Juli.

“Sudah terlampau lama pemerintah berdusta dan menipu dan menampik merespons permintaan rakyat meskipun sebanyak demonstrasi massa terjadi dalam sejumlah bulan terakhir,” kata pernyataan semua aktivis itu.

Steve Vickers, seorang mantan kepala Biro Investigasi Kriminal Polisi menuliskan situasi ketertiban umum dapat jadi bakal memburuk dalam sejumlah pekan mendatang.

“Polarisasi dalam masyarakat Hong Kong dan kondisi yang semakin memanas antara polisi dan demonstran semakin besar,” kata Vickers dalam daftar kepada kliennya.

Ketegangan semakin meningkat sesudah polisi pada hari Sabtu menuliskan telah mengejar laboratorium amatir yang menciptakan bahan peledak berkekuatan tinggi.

Seorang lelaki berusia 27 tahun pun diciduk disertai dengan sebanyak materi mengandung pro kebebasan Hong Kong sebagai bukti pendukung.