Toilet Premium Buat Heboh Thailand saat Pandemi Covid-19

Toilet Premium Buat Heboh Thailand saat Pandemi Covid-19

Toilet Premium Buat Heboh Thailand saat Pandemi Covid-19

Toilet Premium Buat Heboh Thailand saat Pandemi Covid-19

Jaringan toilet umum premium menarik perhatian warga Thailand di tengah pandemi Covid-19. Fasilitas tersebut menawarkan sejumlah keunggulan dari segi kenyamanan hingga jaminan kebersihan.
Fasilitas ini dioperasikan oleh Mister Loo, sebuah perusahaan start-up Swiss yang memang berambisi untuk membuat ‘Starbucks of toilet’ atau ‘Starbucks’ di industri toilet.

“Sangat bersih, dan tidak ada bau busuk. Harganya 10 baht (sekitar Rp4.700),” kata Chanyarot, 48 tahun, setelah menggunakan kamar kecil yang dioperasikan oleh Mister Loo di sebuah pusat perbelanjaan di Chinatown Bangkok, dikutip dari pokerrepublik.

Toilet berpanel kayu ini dilaporkan ber-AC, dengan musik populer Thailand yang diputar sebagai latar. Aroma harum pun memenuhi ruangan.

Rata-rata, toilet umum di Thailand, termasuk yang ada di resor wisata, dibanderol dengan harga sekitar 3 baht atau Rp1.400 per sekali pakai.

Sementara Mister Loo mengenakan biaya 10 baht (Rp4.700) untuk toilet premium ber-AC dan 5 baht (Rp2.350) untuk toilet biasa.

Di mall Chinatown sebenarnya juga tersedia toilet gratis, tapi para pengunjung kini dilaporkan lebih banyak yang memilih Mister Loo.

Mister Loo semula menargetkan pengguna yang berasal turis dari luar negeri, tetapi jumlah wisatawan asing menurun karena pembatasan masuk terkait pandemi.

Kendati demikian, popularitas toilet premium di kalangan pengguna lokal telah lebih dari sekadar menutupi penurunan pengguna asing. Bahkan, pendapatan perusahaan untuk tahun lalu disebut melampaui tahun sebelumnya.

Daya tarik utama Mister Loo toilet adalah kebersihannya. Dengan menggunakan pembersih khusus, petugas mendisinfeksi bilik-bilik toilet setelah digunakan.

Di bilik premium, sebagian besar perlengkapan – dari tombol siram hingga tempat sanitasi dan dispenser sabun – dikontrol oleh sensor, sehingga pengguna dapat menggunakan tanpa harus menyentuhnya.

Setiap petugas telah menerima pelatihan dalam membersihkan toilet, sementara perusahaan terus memantau saran yang disampaikan pelanggan menggunakan kode QR yang ditampilkan di setiap fasilitas.

Mister Loo didirikan oleh Dominik Schuler dan Andreas Wanner, mantan bankir perusahaan dan investasi di UBS yang berbasis di Swiss.

Perusahaan ini telah mengumpulkan sekitar US$2,8 juta sejak didirikan pada 2015 dan sekarang beroperasi di 40 lokasi di Thailand dan dua di Vietnam.

Belum lama ini, Mister Loo jugadigandeng oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan untuk menggarap proyek toilet dan air bersih berstandar internasional di area-area wisata Danau Toba, Sumatera Utara.

Selain sedang dikembangkan di Indonesia, perusahaan ini juga berencana untuk mendirikan fasilitas serupa di Filipina.

“Berdasarkan potensi pasar yang belum tergali dan melalui kolaborasi dengan mitra bisnis, Mister Loo menargetkan dapat memperluas portofolionya saat ini dari 42 lokasi menjadi 1.400 lokasi pada 2025,” kata Schuler. “Untuk membiayai pertumbuhan ini, Mister Loo sedang dalam proses untuk mengumpulkan US$10 juta.”

Di Thailand, sekitar 12 ribu orang menggunakan toilet Mister Loo setiap hari. Pendirinya mengatakan bahwa toilet yang tidak bersih tidak lagi ditoleransi dan bahwa perusahaan telah menjadi jawara di tengah pandemi.

“Penting untuk membangun reputasi merek yang luar biasa agar pelanggan mengetahui layanan premium dan keunggulan bisnis yang ditawarkan di setiap lokasi. Jadi, Mister Loo ingin menjadi ‘Starbucks’ di industri toilet,” kata Wanner.

Pada sejumlah lokasi, Mister Loo menawarkan ruang relaksasi di beberapa fasilitas kelas atas di mana pengguna juga dapat memeriksa indikator kesehatan mereka seperti tekanan darah dan lemak tubuh.

“Ruang tunggu pelanggan (itu) menawarkan layanan di luar toilet murni dan akan dikembangkan menjadi pusat kesehatan elektronik yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat,” kata Schuler.

Membuat toilet higienis tersedia secara luas telah lama menjadi tantangan global. Menurut data UNICEF, pangsa populasi dunia dengan akses ke toilet higienis naik dari 28 persen pada 2000 menjadi 45 persen pada 2017, tetapi 4,2 miliar orang masih kekurangannya.