Tiada Lagi Hidup, 400 Pilot 737 MAX Permintaan Boeing

Tiada Lagi Hidup, 400 Pilot 737 MAX Permintaan Boeing

Tiada Lagi Hidup 400 Pilot 737 MAX Permintaan Boeing

Tiada Lagi Hidup 400 Pilot 737 MAX Permintaan Boeing

 

Poker online Lebih dari 400 pilot pesawat Boeing 737 Max menuntut perusahaannya sebab telah mengakibatkan hidup mereka sengsara. Kehidupan mereka berubah sejak tidak sedikit pesawat dikandangkan sebab dua kemalangan fatal salah satunya menimpa Lion Air.

Para pilot ini mendakwa perusahaan menyembunyikan informasi urgen tentang kekeliruan dalam desain pesawat yang menciptakan Boeing 737 Max dikandangkan. Alhasil mereka menganggur dan finansial terganggu.

Mengutip laporan dari firma hukum berbasis di Chicago dan Australi, tuntutan class action tersebut ditujukan untuk Boeing pada Jumat pekan kemudian karena dalil keuangan dan kerugian lain dampak dikandangkannya armada Max.

Meski belum terdapat perhitungan resmi, semua pilot diperkirakan mengalami kerugian sampai jutaan dollar dampak lama menganggur.

Seperti diketahui armada Boeing 737 Max dilarang terbang semenjak Maret 2019 sesudah terjadi kemalangan fatal kedua yang menewaskan 157 orang di Ethiopia. Di Oktober 2018, musibah serupa dirasakan Lion Air yang menewaskan 189 orang.

Dalam laporannya, firma hukum ini melaporkan akibat dari larangan terbang 737 MAX sudah mengganggu penghasilan dan masa mendatang karier semua pilot.

Tuntutan sendiri sengaja dikemukakan saat perhelatan Paris Air Show untuk menyerahkan pesan bahwa tingkat penjualan takkan lagi mengabaikan hal keselamatan.

Sementara dalam dokumen di pengadilan, tuntutan pilot melafalkan mereka kehilangan sumber pemasukan secara signifikan diantara kerugian ekonomi dan non ekonomi lainnya semenjak maskapai penerbangan dunia mengandangkan pesawat 737 MAX.

Manajemen Boeing sendiri belum berkomentar bersangkutan timbulnya laporan tuntutan hukum tersebut.

Keamanan Boeing 737 Max tengah dipertanyakan. Dua musibah fatal maskapai Ethiopian Airlines dan Lion Air dalam kurun masa-masa lima bulan merenggut semua awak dan penumpang di dua pesawat buata Boeing itu.

Di mula kemunculannya, Boeing 737 Max sukses memikat pengelola maskapai penerbangan. Janji kenyamanan dan efisiensi bahan bakar menciptakan jumlah pemesan pesawat ini menjangkau 5000 unit..

Tetapi reputasi burung besi modern ini tercemar oleh dua kemalangan baru-baru ini yang telah unik perhatian internasional.

Pihak Boeing sendiri sudah menyangkal kabar soal ketenteraman pesawat terlaris tersebut. Namun badai kelihatannya takkan cepat berlalu.

Setelah tidak sedikit maskapai mengandangkan pesawat ini, hadir keluhan mengenai Boeing 737 Max 8 dari semua pilot di tanah kelahiran Boeing, Amerika Serikat.

Keluhan tentang ketenteraman Boeing 737 Max 8 sebetulnya sudah disuarakan sejumlah pekan sesudah terjadi kemalangan Lion Air JT610.

The Dallas Morning News mengungkapkan lima pilot AS sudah mengadukan keluhan tersebut untuk Federal Aviation Administration (FAA), pengawas penerbangan di AS.

Mereka mengeluhkan sistem penerbangan autopilot dan fitur The Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang paling mengkhawatirkan.

MCAS adalahfitur ketenteraman baru pada Boeing 737 Max 8 yang secara otomatis membalikkan pesawat pada posisi yang normal sesudah lepas landas.

Ketika pesawat lepas landas, MCAS akan memungut alih kontrol supaya hidung pesawat tidak berada dalam situasi menukik ke atas terus.

Berdasarkan keterangan dari satu insiden di AS pada November 2018, seorang pilot maskapai penerbangan komersial mengadukan bahwa ketika lepas landas, autopilot dinyalakan.

” Dalam 2 sampai 3 detik, pesawat tiba-tiba menukik tajam ke bawah sampai memicu sistem peringatan pesawat ‘Don’t sink, don’t sink!’,” kata pilot tersebut.

Namun sesudah sistem autopilot dengan cepat dimatikan, pesawat naik laksana biasa dan penerbangan berlangsung normal. Insiden ini terjadi sejumlah pekan setelah kemalangan Lion Air JT610 di Jawa Barat.

Dalam suatu insiden terpisah di AS pada bulan November 2018, seorang pilot mengadukan bahwa masalah dibuka ketika ia memakai autopilot guna menstabilkan posisi pesawat sesudah lepas landas.

” Co-pilot berbicara ‘DESCENDING,’ yang langsung disusul peringatan ‘Don’t sink, Don’t sink!’. Namun pesawat dapat distabilkan kembali sesudah sistem autopilot dimatikan,” kata pilot itu.

Dalam laporan lain, seorang pilot maskapai komersial mengeluh mengenai bagaimana FAA dan Boeing menangani masalah fitur MCAS. Agodapoker

” Meski telah menerbitkan arahan terpaksa pada 7 November 2018, FAA tidak mengerjakan apa juga untuk menanggulangi masalah sistem,” tulis pilot itu.

Pilot itu lebih lanjut menuliskan bahwa tuntunan manual penerbangan belum dimodernisasi dengan informasi yang mencukupi pada masa-masa itu.

” Sungguh paling riskan saat pabrikan, FAA, dan maskapai mengajak pilot terbang tanpa pelatihan yang baik, atau bahkan menyerahkan penjelasan melewati manual bahwa model ini lebih perumahan dari sebelumnya,” katanya.

Dalam laporan terpisah dari Oktober 2018, seorang pilot mengeluh bahwa sistem autothrottle Boeing 737 MAX 8 tidak bermanfaat sebagaimana harusnya.

Autothrottle ialah bagian kendali pesawat yang menyuruh pesawat guna berakselerasi ke kecepatan yang diputuskan dalam parameter tertentu.

Padahal, kru telah yakin sudah menggunakannya cocok dengan manual yang ada. Beruntung, sang pilot menyadarinya dengan cepat, dan bisa menyesuaikan desakan secara manual supaya pesawat dapat mendaki.

” Tidak lama lantas saya mendengar tentang kemalangan (JT610) dan saya bertanya-tanya apakah terdapat kru beda yang merasakan insiden serupa dengan sistem autothrottle pada MAX?” kata pilot tersebut.

Dalam laporannya, pilot tersebut menulis bahwa dia dan kaptennya masih baru memakai pesawat Boeing 737 Max 8.

” Jadi, saya tidak bisa mengidentifikasi apakah tersebut masalah pada pesawat atau saya yang tidak tahu caranya,” pungkasnya.

CEO Being, Dennis Muilenburg, mengakui perusahaan sudah membuat kekeliruan dalam menangani sistem peringatan kokpit yang bermasalah di pesawat 737 sebelum dua kemalangan nahas yang menewaskan 346 orang terjadi.

Muilenburg berjanji bakal lebih bersikap transparan dan bercita-cita pesawat yang pernah menjadi armada sangat laku Boeing itu dapat kembali beroperasi.

Dikutip dari Yahoo News, Senin 17 Juni 2019, Muilenburg menuliskan selama ini komunikasi antara Boeing, pelanggan dan publik tidak konsisten. “ Ini tidak dapat diterima,” katanya.

Sekadar informasi, Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat menghukum Boeing sebab tak memberi tahu regulator lebih dari satu tahun tentang indikator ketenteraman di kokpit tidak bekerja semestinya.

Para pilot pun marah Boeing tidak menginformasikan aplikasi baru yang menyebabkan kemalangan fatal di Indonesia dan Ethiopia.

Boeing dan FAA menyinggung lampu peringatan tak urgen untuk keselamatan penerbangan. Tak jelas pun apakah di antara tabrakan dapat dicegah bila sistem peringatan kokpit dapat bekerja dengan benar.

Produsen pesawat asal Amerika Serikat ini menuliskan semua pesawatnya, tergolong MAX, menyerahkan semua informasi penerbangan untuk pilot, tergolong kecepatan, ketinggian, dan kinerja mesin.

Sayangnya, komunikasi yang gagal sudah mengikis keyakinan terhadap Boeing. Perusahaan ini berusaha bangkit pulang dari kemalangan jet penumpang di dua negara.

“ Kami bersalah dalam implementasi kesalahan,” kata dia.

Muilenburg optimistis MAX 737 dapat terbang pulang tahun ini oleh regulator Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. “ Kami akan konsentrasi untuk meyakinkan MAX aman,” kata dia.

Model ini “ dikandangkan” sekitar tiga bulan di semua dunia. Regulator meminta Boeing untuk membetulkan piranti empuk sebelum mengudara.

Muilenburg mengatakan kemalangan jet Lion Air dan Ethiopian Airlines sebagai momen yang menilai untuk Boeing. Tapi, dia yakin musibah tersebut akan menjadikan perusahaannya menjadi lebih baik dan kuat. PREDIKSI TOGEL PALING JITU