Terkurung di Keraton Solo 3 Hari 2 Malam dari dalam Keraton Surakarta

Terkurung di Keraton Solo 3 Hari 2 Malam dari dalam Keraton Surakarta

Terkurung di Keraton Solo 3 Hari 2 Malam

Terkurung di Keraton Solo 3 Hari 2 Malam

Senjaqq Domino99 -Pasca keluar dari dalam Keraton Surakarta, setelah selama tiga hari dua malam hari 2 malam terkunci, dua orang putri raja, di antaranya adik Raja Hangabehi atau Putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari, alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng), dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani langsung berziarah ke makam para raja di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Baca juga: 2 Keturunan Raja Solo Terkurung Dalam Keraton, Lahap Menyantap Makanan Kiriman Kapolresta Solo

Selain kedua keturunan raja tersebut, para sentono serta para abdi dalem ikut serta melakukan ziarah ke Imogiri. Termasuk dua penari Tari Bedaya, yakni Ika Prasetyaningsih, dan Bulan Semayani Milawarna, serta seorang sentana dalem, KRMH Saptono Djati, juga ikut berziarah.

GKR Wandansari mengatakan, selain untuk berziarah ke makam para leluhur pendiri Kerajaan Mataram, juga untuk memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kondisi Keraton Kasunanan, kembali bersatu seperti dulu lagi.

“Hari ini saya langsung ke makam para leluhur untuk mendoakan para leluhur, dan meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Keraton Surakarta kembali baik, aktivitas budaya terus berjalan dan rukun damai semuanya,” papar Gusti Moeng.

Baca juga: Dramatis, Ibu Hamil di Sragen Dievakuasi dengan Perahu Karet di Tengah Terjangan Banjir

Selain itu, Gusti Moeng pun mendoakan agar orang-orang yang menghalang-halangi perdamaian antara Sinuhun Pakubuwono XIII dan adik-asiknya dengan mengaku sebagai utusan raja, segera pergi dari Keraton.

“Orang-orang yang tidak berkepentingan yang mengaku utusan raja, yang malah justru memperkeruh suasana Keraton Surakarta, dan menghambat perdamaian antara kakak dan adik, segera pergi dari keraton,” ujarnya.

Gusti Moeng yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan ini mengaku, sangat prihatin melihat kondisi keraton saat ini. Pasca konflik 2017 yang berujung pengusiran dirinya, dan anggota keluarga trah Mataram, serta para sentono dan abdi dalem lainnya yang dianggap berseberangan dengan Pakubuwono XIII, pada 15 April 2017 silam, kondisi keraton tidak terawat.

Sejak pengusiran itu, dirinya dan keluarga besar lainnya tidak bisa masuk lagi ke dalam Keraton. Pasalnya, seluruh akses masuk ke dalam ditutup. Dan harus mendapatkan izin dari PB XIII untuk bisa masuk. Baca juga: Ratusan Penumpang KM Tengiri Panik, Kapal Dihantam Angin Kencang dan Gelombang Tinggi

“Sehingga kegiatan aktifitas adat dan budaya yang berada di dalam karaton tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, di karenakan tertutupnya semua akses masuk bagi sentono dalem, abdi dalem garap (abdi dalem yang bekerja setiap harinya di dalam karaton),” terangnya.

Menurut Gusti Moeng, ada hikmah di balik dirinya dan Keponakannya (Putri PB XIII) terkunci didalam Keraton. Di mana dirinya bisa melihat dan mengabadikan kondisi di dalam keraton pasca pengusiran 2017 yang sangat memprihatinkan.

Dia menyaksikan, banyak yang bangunan cagar budaya yang rusak, tidak terawat. “Ada upaya pembiaran dari yang berkuasa saat ini di dalam keraton, dan sebagian besar sudah berhasil saya dokumentasikan,” papar Gusti Moeng.

Baca juga: Tanpa Gejala, Zumi Zola dan Patrialis Akbar Positif COVID-19 di Lapas Sukamiskin

Dua putri Raja, GKR Wandansari alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng) dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani bersama dua penari Tari Bedaya, serta sentono terkunci di dalam keraton selama tiga haru dua malam.