Tanpa Menjual Tanah pun Warga Desa Itu Sebenarnya Sudah Kaya

Tanpa Menjual Tanah pun Warga Desa Itu Sebenarnya Sudah Kaya

Tanpa Menjual Tanah pun, Warga Desa Itu Sebenarnya Sudah Kaya

Tanpa Menjual Tanah pun, Warga Desa Itu Sebenarnya Sudah Kaya

Senjaqq Domino99 -Tain (38) sosok warga inspiratif yang tidak ikut arus berbelanja barang mewah meski telah menjadi miliarderPada pekan ini, kita telah disuguhi berita dari berbagai media tentang keadaan warga Desa Sumurgeneng Tuban yang tanahnya dibeli oleh pihak Pertamina, sebagai bagian dari rangkaian proses pembebasan lahan untuk proyek kilang minyak.
Sekonyong-konyong mereka yang telah dibeli tanahnya itu pun dipersepsikan sebagai orang kaya baru, baik itu oleh warga yang lain maupun media.
Oleh sebab pihak Pertamina membeli tanah mereka dengan nilai yang sangat tinggi sebagai kompensasi atas pembebasan lahan ini, maka warga desa itu pun serasa mendapat durian runtuh alias rejeki nomplok.
Fenomena ini ternyata berlanjut dengan aksi beberapa warga desa itu yang secara berduyun-duyun membeli sejumlah 176 mobil dengan memanfaatkan aset mereka itu.
Aksi mereka ini pun ditengarai oleh pertimbangan mereka yang juga tengah memanfaatkan kebijakan dari pemerintah yang menetapkan pajak 0 persen untuk pembelian mobil baru.
Secara sekilas, peristiwa ini mungkin akan berkesan sebagai anomali mengingat sebagian besar warga kita yang tengah mengalami kesulitan finansial akibat pandemi. Dengan pundi-pundi harta yang ada dalam genggaman, mereka seakan justru tampak begitu mudahnya untuk menghamburkan dana segar ini.
Saya ulangi sekali lagi, saya menyebutnya sebagai dana segar. Sebagaimana air yang segar, ia berkecenderungan untuk menjadi daya pikat bagi siapa saja untuk segera mereguknya.
Terutama di tengah-tengah dahaga akibat kemarau perekonomian sebagai dampak dari pandemi yang berkepanjangan ini. Bisa jadi dana segar itu ibarat tirta harapan yang telah menjelma kenyataan.
Baiklah, masih dalam bahasan dana segar ini. Jika kita boleh meminjam istilah dari ilmu akuntansi, dana segar ini sebenarnya termasuk dalam kategori aset lancar (current assets) yang dimiliki oleh seseorang atau pemilik usaha.
Kelompok aset lancar itu sendiri antara lain meliputi kas, piutang, perlengkapan, persediaan bahan baku, dan bermacam aset lainnya.
Kelompok ini termasuk dalam kategori aset lancar oleh sebab sifat mereka yang likuid alias relatif mudah untuk diuangkan, dicairkan atau untuk ditransaksikan dibanding kelompok harta lain yang masuk kategori aset tetap.
Sedangkan aset tetap (fix assets) atau yang biasa dikenal dengan harta tetap itu sendiri merupakan kebalikan dari aset lancar tadi. Ia merupakan sekelompok harta tersendiri yang relatif lebih sulit untuk dicairkan akibat sifatnya yang cenderung lebih berharga (mahal) dibandingkan aset lancar tadi.
Adapun harta yang masuk kategori aset tetap itu antara lain: peralatan, kendaraan, gedung, tanah, dan lain sebagainya.
Biasanya, untuk kelompok harta tetap ini diestimasikan nilainya semakin menurun setiap tahunnya, sehingga ia pun dihitung dengan menggunakan metode penyusutan nilai atau depresiasi, kecuali untuk aset tanah yang nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Berdasarkan gambaran tadi, kita pun kiranya menjadi lebih paham bahwa tanah itu merupakan kelompok harta tetap yang sifatnya tak likuid atau tidak mudah dicairkan seperti halnya uang.
Akan tetapi, ternyata di balik keadaannya yang kurang likuid itu, ternyata ia menyimpan nilai intrinsik yang sangat berharga.
Sebagai buktinya, aset tanah tersebut akan tampak harganya ketika ia telah dijadikan jaminan (agunan) pinjaman pada bank, atau ketika ia hendak dijual.
Sebagai contoh konkritnya, ya, seperti halnya fenomena yang baru saja terjadi pada warga Desa Sumurgeneng Tuban itu.
Dan selain itu, tinggi rendahnya nilai tanah tersebut antara lain juga ditentukan oleh seberapa strategis lokasi tanah tersebut, selain juga ditentukan oleh siapa atau pihak mana yang akan membelinya.
Dan pada realitas ini, pihak pembeli tanah itu adalah PT Pertamina yang bekerja sama dengan Rosneft, salah satu perusahaan asal Rusia. Dan sama-sama kita tahu bahwa pada umumnya perusahaan ber-plat merah itu untuk perihal harga secara relatif bukanlah hal yang memiliki kendala cukup berarti.
Masih segar dalam ingatan penulis, sekitar lima tahun lalu, di daerah penulis sendiri juga terdapat kasus yang hampir serupa. Dimana pada waktu itu ada pihak Pertamina yang hendak membeli beberapa petak sawah milik warga untuk area SPBU.
Waktu itu, harga pasar tanah masih sekitar 8 juta per Ru (14 m2). Akan tetapi, pihak Pertamina waktu itu ternyata sanggup membayar hingga harga Rp 15 juta sebagai tebusan untuk setiap Ru tanah tersebut.
Tentu saja, dengan harga yang hampir dua kali lipat ini menjadi tawaran yang menggiurkan bagi si pemilik sawah sekaligus pemilik lahan di sekitarnya.
Oleh sebab itulah, tidak mengherankan jika kemudian para pemilik sawah yang lokasinya berdekatan pun ikut menawarkan aset mereka pada pihak Pertamina agar mendapat kompensasi yang serupa. Dan tentu saja, tawaran itu tak dihiraukan sebab tak masuk rencana usaha.
Kembali lagi ke bahasan warga Desa Sumurgeneng tadi. Jika kita melihat fenomena masyarakat yang begitu mudahnya membelanjakan kembali “harta runtuhan” itu, sebenarnya penulis sendiri merasa ngeri-ngeri sedap.
Penulis merasa sedap sebab ikut bergembira melihat keadaan mereka yang memperoleh gelimang harta yang dapat segera mereka gunakan. Misalnya saja, untuk membeli barang yang kategorinya sangat mewah untuk sebagian kalangan ini.
Akan tetapi, perasaan ngeri juga terlintas dalam angan penulis. Kengerian ini muncul ketika penulis membayangkan bahwa faktor pendorong mereka berbelanja barang mewah itu adalah karena euforia atau latah sebab ikut-ikutan saudara-tetangga.
Berbelanja barang dengan motif ikut-ikutan itu jelas akan menimbulkan dampak yang kurang bahkan tidak baik pada kondisi finansial seseorang. Sebab, tidak semua orang memiliki latar belakang perekonomian yang sama.