Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan

Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan

Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan

Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan

 

Agodapoker poker republik – Bicara soal sampah dan penguasa korup seolah tak ada habisnya. Di tiap-tiap era, tentu ada orang yang menjadi penguasa sekaligus pencuri duwit rakyat. Lalu apa kabar bersama kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran di sedang sikap tidak adil dan tidak jujur yang makin lama menggila?

Jawabannya, tentu tidak sederhana. Sama halnya bersama betapa tidak sederhananya menampilkan ulang lakon yang telah dipentaskan 40 th. lalu ke jaman sekarang. Sebuah lakon yang dulu digarap Nano Riantiarno ulang ada untuk menyentil hati penduduk bersama judul J.J Sampah-Sampah Kota. Pentas berikut digelar sejak 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dalam menulis naskah yang mulanya berjudul J.J Jian Juhro, Nano membagi tiga bagian atau tiga ruang cerita. Pertama, penguasa yang memerintah. Dia adalah tokoh yang tidak terlihat keberadaannya, tetapi justru memiliki kebolehan paling besar didalam memainkan nasib rakyat. Posisi kedua adalah para tokoh di tengah, dan berinteraksi segera bersama rakyat. Kemudian ketiga adalah rakyat biasa atau rakyat kecil.

Dalam naskah, tokoh ketiga disimbolkan bersama kalangan pemulung sampah, pelacur, dan gelandangan. Golongan ini adalah kalangan yang secara realis hidup di kira-kira kita. Kini di jaman milenial, tiga ruang beda kasta ini dipertemukan ulang didalam panggung yang ditangani oleh Rangga Riantiarno.

Cerita J.J Sampah-Sampah Kota bermuara pada kisah sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Ia digaji harian dan tidak memiliki jaminan jaman depan. Meski begitu dia tetap bekerja bersama jujur, rajin, giat dan gembira.

Bersama Juhro, yang sedang hamil tua, dan teman-teman pemulungnya, mereka dapat hidup suka dan tenang meskipun hanya didalam bunga tidur. Semua ini tak terlepas dari pengawasan mandor kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka inginkan menyaksikan sampai sejauh mana kejujuran Jian dapat dipertahankan.

Suatu hari, para Pemutus menjatuhkan tas berisi duwit yang sangat banyak di kira-kira area Jian bekerja. Jian panik, dan berupaya melacak pemilik di sedang kondisi yang sulit. Perbuatan jujur pun nyatanya tetap tertutupi oleh intrik politik yang terus mencekik kaum miskin. Nestapa Jian, seorang yang tetap dianggap sampah ini pada kelanjutannya terjerat didalam perangkap. Ia dianggap sebagai pencuri dari duwit tas yang ia kembalikan.

Carut-marut persoalan tidak berujung ini menjadi cermin dan penyadar diri, bahwa pentingnya mempertahankan kejujuran meskipun dapat berujung sakit. Karena jika kejujuran lenyap, maka barbar seluruhnya.

“Ada pesan di mana kami seharusnya berupaya terlihat dari kekacauan, jangan menjadi bagian dari kekacauan. Kita dengarkan suara Juhro. Kita cari ulang kejujuran apa tetap ada di diri kita. Kita ternyata hanya menjadi mainan penguasa aja,” paham Rangga, waktu dijumpai awak fasilitas pekan lalu. Agodapoker poker republik

Rangga pun merasa bahwa kisah lama ini sebetulnya tidak lekang oleh waktu. Meski, kondisi waktu ini tidak mirip bersama 40 th. lalu, tetapi tetap ada hal-hal yang tidak berubah. Bagaikan mata duwit yang tak terpisahkan, bakal tetap ada orang-orang jujur dan orang-orang korup. Dengan demikian, kekuasaan dan kejujuran tidak bakal dulu dapat sejalan.