Sjogren Syndrome Penyakit Autoimun yang Bikin Mata Kering

Sjogren Syndrome Penyakit Autoimun yang Bikin Mata Kering

Sjogren Syndrome Penyakit Autoimun yang Bikin Mata Kering

Sjogren Syndrome Penyakit Autoimun yang Bikin Mata Kering

Mata kering yang tak kunjung sembuh bisa jadi salah satu tanda Sjogren’s syndrome. Nama terakhir merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar penghasil cairan seperti air liur (mulut) dan air mata (mata).
“[Sjogren’s syndrome] sifatnya kronis, bisa terjadi [selama] jangka panjang, sistemik seperti lupus,” ujar dokter dari Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Alvina Widhani di Jakarta, Kamis (6/8), melansir pokergalaxy.

Penyakit autoimun ini juga bisa mengenali area luar kelenjar seperti saraf, paru, ginjal, dan berbagai organ lain. Sjogren’s syndrome kebanyakan dialami kaum perempuan berusia di atas 40 tahun

Sayangnya, mata kering menjadi gejala sejumlah masalah kesehatan lain. Hal itu membuat Sjogren’s syndrome sering kali terlambat didiagnosis.

Gejala Sjogren’s Syndrome

Umumnya, orang dengan Sjogren’s syndrome akan merasa matanya perih seperti terbakar. Mata juga akan terasa gatal, utamanya setelah lama menatap layar komputer sehingga harus meneteskan obat tetes.

Tak hanya pada mata, ada juga penderita yang mengalami mulut kering, sulit menelan makanan tanpa air, perubahan pengecap, jamur di mulut, batuk kering, vagina kering, mudah lelah, nyeri sendi, hingga gangguan kognitif.

Yennel S Suzia, misalnya. Dia sempat mengalami kesulitan untuk menelan. Saking sulitnya, dia harus menyendokkan makanan sedikit demi sedikit ke mulutnya, atau menyambinya dengan meminum air.

“Kalau makan harus hati-hati, tidak bisa banyak-banyak. Setengah sendok disambi air minum,” ujar Yennel.

Perempuan asal Bekasi, Jawa Barat itu juga mudah merasa lelah, nyeri, bahkan hingga pingsan dan lumpuh. Akibatnya, Yennel harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan selama sekitar 50 hari.

Yennel sendiri mengaku baru mulai mengalami gejala tersebut pada 2012 lalu. Butuh waktu selama dua tahun hingga akhirnya diagnosis Sjogren’s syndrome dikeluarkan.

Melihat apa yang terjadi pada Yennel, Alvina mengatakan bahwa gejala yang dialami termasuk lengkap dan berada di luar kelenjar dengan keluhan sistemik termasuk kelelahan.

Berbagai faktor berkontribusi mencetuskan Sjogren’s syndrome. Beberapa di antaranya faktor genetik, lingkungan, dan hormon.

Faktor lingkungan bisa berupa infeksi virus, penggunaan bahan seperti silikon, polusi, hingga ketidakseimbangan mikrobiota di saluran cerna sehingga menyebabkan gangguan kekebalan tubuh.

Selain itu, faktor stres berat juga berkontribusi terhadap munculnya Sjogren’s syndrome. Ditambah faktor hormon, di mana peran estrogen menurun di usia di atas 40 tahun.