Sepak Terjang Maskapai Penerbangan CIA di Asia Timur dan Tenggara

Sepak Terjang Maskapai Penerbangan CIA di Asia Timur dan Tenggara

Sepak Terjang Maskapai Penerbangan CIA di Asia Timur dan Tenggara

Sepak Terjang Maskapai Penerbangan CIA di Asia Timur dan Tenggara

Pada Perang Dunia II, atas perintah Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt, dibentuk grup sukarelawan yang terdiri dari para penerbang dan teknisi dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Korps Marinir Amerika Serikat yang bernama Flying Tigers. Agodapoker Poker Legenda

Sepanjang perang berlangsung, armada ini beroperasi di sekitar Tiongkok, Burma, dan India untuk melawan militer Jepang. Menurut Don Moser dan kawan-kawan dalam World War II: China-Burma-India (1986:70), Flying Tigers merontokkan lebih dari 1.200 pesawat terbang Jepang. Namun, armada yang dipimpin oleh Claire Lee Chennault ini termasuk perlu kehilangan 573 pesawatnya.

Sebelum memimpin Flying Tigers, Chennault telah malang melintang di armada udara. Pada 1937, ia berada di Tiongkok untuk menjadi penasihat Angkatan Udara Republik Tiongkok yang selagi itu presidennya Chiang Kai Shek–yang berseteru bersama dengan Partai Komunis Tiongkok. Dan setelah Perang Dunia II selesai, Chennault ulang menopang Chiang Kai Shek yang pada akhirnya terdesak ke Taiwan.

Pada pertengahan 1946, ia bersama dengan Whiting Willauer mendirikan sebuah maskapai penerbangan bermodalkan pesawat angkut 19 Curtiss, C-46 Commando, dan Douglas C-47 Skytrain sisa Perang Dunia II. Menurut Earle Rice dalam Claire Chennault (2013), bekas anggota sukarelawan dalam Flying Tigers tersedia yang direkrut menjadi penerbangnya.

Mulanya maskapai yang bernama Civil Air Transport (CAT) dan yang bermarkas di ibukota Taiwan ini tak tersedia jadwal penerbangan domestik rutin. Maskapai ini beroperasi layaknya pesawat angkut skuadron hawa untuk misi-misi militer.

Pada awalnya, CAT bekerja untuk kepentingan pasukan Nasionalis Tiongkok pimpinan Chiang Kai Shek dalam melawan Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong. Tak hanya membawa pasukan, mereka termasuk mengangkut pengungsi yang tak bahagia hidup dalam komunisme di daratan Tiongkok.

”Kami memberi tambahan harapan kepada ribuan pengungsi perang yang mencintai kebebasan bersama dengan menerbangkan mereka ke Taipei,” ujar Felix Smith yang belakangan menjadi Ketua Asosiasi CAT.

Perang sipil di Tiongkok sesudah itu berakhir bersama dengan kekalahan pasukan Chiang Kai Shek yang berimbas terhadap seretnya kondisis keuangan CAT. Ketika pecah Perang Korea (1950-1953), CAT diambilalih oleh Smith.

”Kami telah menjadi maskapai tanpa area tujuan. Saat itu musim semi 1950. Kami tidak mengerti bahwa perang bakal segera terjadi,” imbuhnya.

Dalam perkembangannya, CAT secara hukum adalah semacam BUMN milik Amerika Serikat. Namun sebetulnya armada hawa Central Intelligence Agency (CIA) yang menopang kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Asia, terlebih Asia Timur dan Asia Tenggara. CAT pada akhirnya punya jadwal penerbangan reguler dan secara rahasia mengangkut kargo untuk kepentingan CIA.

Dari Perang Indochina sampai Permesta
Setelah Perang Korea berakhir, Perang Indochina meletus. CAT dapat pekerjaan baru, yakni menopang Prancis menerjunkan pasukan payung dan juga pasokan logistik dalam Pertempuran Dien Bien Phu yang pada akhirnya dimenangkan oleh Vietnam pimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap. Dalam operasi berikut CAT meminjamkan 6 pesawat C-119 bersama dengan Mengenakan simbol Angkatan Udara Prancis.

Beberapa tahun sesudah itu terjadi Perang Vietnam. CAT beraksi ulang degan menjadi mitra tentara Amerika Serikat. Dalam Perang Vietnam, tepatnya sejak 1959, CAT telah ditata ulang sebagai Air America yang beroperasi di Laos.

Di Indonesia, CAT termasuk ikut bermain. Pada 1958, seorang pilot CAT bernama Allen Lawrence Pope ditembak jatuh, dan setelah mendarat di air ia ditemukan bersama dengan kaki patah. Pope kata Felix Smith ”dihukum mati oleh pengadilan militer Komunis selama selagi itu, Allen menempel terhadap pengakuan Duta Besar A.S. bahwa ia dibayar oleh pemberontak setempat. Lima tahun sesudah itu Robert Kennedy menegaskan pembebasannya.”

Perang melawan komunis membawa dampak CAT benar-benar aktif di Asia. Allen Lawrence Pope yang ditembak militer Indonesia bahkan mengaku dirinya anti komunis dan menginginkan menghabisi komunis sebanyak yang dia bisa. Sementara beberapa pilot CAT lain tidak seberuntung Allen Pope. James B. McGovern Jr. dan Wallace Buford misalnya, mereka terbunuh pertempuran Dien Bien Phu terhadap Mei 1954.

CAT kerap berkenaan bersama dengan keluarga besar pendiri Republik Tiongkok. Salah seorang cucu Sun Yat Sen, Nora Sun, sempat menjadi pramugari CAT terhadap 1955. Allen Cates dalam Honor Denied: The Truth About Air America and the CIA (2011) menyebutnya sebagai pramugari termuda CAT. Nora Sun sesudah itu bertemu bersama dengan kapten pilot Connie Siegrist dan sempat menjadi suaminya.

Connie Siegrist sempat ikut operasi rahasia di sekitar Indonesia Timur. Menurut Mitchell McKay dalam It’s Not Hollywood, But (2011:16), Connie terlibat dalam Operasi Haik yang berkenaan PRRI-Permesta. Mulai tahun 1968, CAT tak ulang beroperasi. Dan terhadap 1976 maskapai penerbangan CIA itu dianggap bubar.