Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang

Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang

Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang

 

Sendirian Menghadapi Topan dan Huruf Kanji di Jepang

Cerdaspoker Dominobet – Baru dua bulan saya merantau di Tokyo. Beasiswa S2 menciptakan saya mesti menetap sedangkan di ibu kota Jepang ini. Bisa menikmati Negeri Sakura sudah lama menjadi khayalan saya semenjak kecil.

Disiplin kata yang dapat menggambarkan Jepang. Bukan melulu soal antre atau menepati janji, warga Jepang pun disiplin dalam hal melemparkan sampah.

Jika terdapat yang telah pernah berwisata ke Jepang tentu bingung kenapa jalanan dapat bersih sedangkan jarang didatangi tempat sampah.

Di sini sampah yang dilemparkan harus diceraikan terlebih dahulu. Tempat sampah di pinggir jalan pun terbagi empat, yang dipisahkan dengan warna cocok jenis sampah; gampang terbakar, tahan api, plastik, dan kaleng.

Berbeda dengan Indonesia, terdapat hari tertentu di mana truk sampah akan mengitari pemukiman. Soal melemparkan sampah sempat menciptakan saya bingung, namun sekarang sudah terbiasa.

Jepang pun dikenal sebagai negara yang sering dilanda bencana alam, mulai dari topan hingga gempa.

Saat ini, Jepang sedang dilanda angin topan Hagibis yang mengakibatkan kehancuran yang parah di sejumlah daerah, tak terkecuali Tokyo.

Masyarakat Tokyo diberi peringatan guna tetap waspada terhadap topan yang dapat datang kapan saja. Kami diimbau meluangkan persiapan makanan, air minum, dan obat-obatan.

Untungnya sekitar ini Tokyo masih aman terkendali dan tak ada kehancuran parah. Sejak Topan Hagibis bertiup, terhitung saya melulu berada di lokasi tinggal selama satu hari sarat untuk berlindung dari angin kencang.

Ketika saya darurat berada di rumah sebab topan, saya sangat menikmati guncangan dan suara keras dampak tiupan angin yang menghujam bangunan apartemen saya. Melihat terbit kaca, langit mendung, tidak terdapat orang-orang di luar rumah.

Setengah jam lantas air hujan terasa tumpah dari langit. Petir bersahut-sahutan. Kalau terjadi lebih dari enam jam ketika topan datang, seringkali aliran listrik bakal dimatikan.

Kadar santai ketika mati lampu dan topan dilangsungkan di Jepang tidaklah sama dengan ketika mati lampu dan hujan deras di Jakarta. Percayalah.

Awalnya saya sempat fobia dan khawatir menghadapi situasi ini sendirian. Tapi sebab tahu pemerintah Jepang paling perhatian terhadap penduduknya dan mereka terus mengunggah informasi soal situasi topan terkini, kekhawatiran saya pelan-pelan sirna.

Di samping topan atau gempa, Jepang tetap mengasyikkan untuk ditinggali atau dikunjungi berwisata.

Kendala bahasa sudah tentu ada, sebab penduduk di sini – khususnya kaum lansia, jarang terdapat yang dapat berbahasa Inggris.

Pengurusan dokumen ketika kesatu pindah menciptakan saya repot, sebab semua bertuliskan huruf Kanji. Tapi dengan semakin canggihnya software penerjemah di ponsel, semua dapat diatasi.

Orang Jepang pun rata-rata mempunyai sifat pemalu. Untuk orang Indonesia yang terbiasa ramah, tadinya saya sempat canggung pun saat akan menggali teman baru di sini. Tapi andai niat anda baik, mereka lama-lama membuka diri guna berteman.

Kalau telah akrab berteman, orang Jepang pasti akan mengajak Anda guna karaoke. Tarif karaoke di sini mulai dari Rp250 ribu per dua jam.

Suasana berkaraoke dengan teman-teman saya di Jepang dapat dibilang sama serunya dengan di Indonesia. Mereka tak malu untuk berdendang dengan suara fals dan berjoget lucu.

Ada tidak sedikit hal baru yang saya bisa selama bermukim di Jepang, mulai dari disiplin, teratur, hingga sopan santun. Walau terbilang betah, masing-masing harinya saya masih memimpikan menu es teh manis dan ayam kremes yang dapat saya makan di Jakarta.