Senasib dengan Bima di KKN Desa Penari, Ini Kisah Nyata Seorang Pria Kawin dengan Kuntilanak

Senasib dengan Bima di KKN Desa Penari, Ini Kisah Nyata Seorang Pria Kawin dengan Kuntilanak

Senasib dengan Bima di KKN Desa Penari, Ini Kisah Nyata Seorang Pria Kawin dengan Kuntilanak

Senasib dengan Bima di KKN Desa Penari, Ini Kisah Nyata Seorang Pria Kawin dengan Kuntilanak

7MSPORT LIVESCORE – Belakangan ini dunia maya digemparkan dengan kisah segerombolan mahasiswa bernasib tragis karena harus berurusan dengan makhluk halus.

Kisah 6 orang mahasiswa itu dikenal dengan sebutan KKN Desa Penari, yang ceritanya terungkap dari sebuah thread di Twitter.

Dari 6 orang mahasiswa itu, adalah Bima yang dikisahkan memiliki hubungan dengan makhluk halus.

Nasib Bima berujung tragis karena mengawini sesosok wanita penari yang ternyata bukanlah manusia melainkan siluman ular.

Cerita KKN Desa Penari ini belum dapat dipastikan keasliannya, meskipun sang penulis mengatakan ini adalah kisah nyata.

Tapi cerita serupa benar-benar terjadi di Desa Toblopo, Kecamatan Amanuban Barat, Soe, NTT.

Seorang pria bernama Simon Talan mengaku telah mengawini sesosok kuntilanak.

Bahkan Simon Talan memiliki 2 orang anak dari perkawinannya dengan kuntilanak.

Pengakuan Simon Talan itu disampaikan oleh putranya sendiri, Oma Talan.

“Selasa malam itu bapa menginap di rumah saya usai keluar dari rumah sakit karena mengalami kejang-kejang usai mabuk berat pada Minggu (25/8/2019) hingga Senin pagi.

Saat berada di rumah saya, bapak mengaku kalau dia sudah kawin dengan kuntilanak dan punya anak. Si kuntilanak ini meminta tumbal dari anggota keluarga kami.

“Tetapi bapak menolak dan menjadikan dirinya sebagai tumbal,” ungkap Oma kepada pos kupang. com.

Sebelum tiba-tiba menghilang pada Rabu pagi lanjut Oma, pada Selasa malam Simon sudah meminta untuk pulang kembali ke rumahnya di tepi Embung Toblopo.

Simon Talan bahkan sempat merobek-robek sarung bantal dan memaksa untuk pulang.

Karena khawatir melihat sikap sang ayah, Oma memutuskan untuk memanggil pendoa, untuk mendoakan sang ayah.

Usai berdoa, sang pendoa meminta agar Oma dan keluarganya yang lain untuk terus memperhatikan sang ayah.

Karena jika tidak sesuatu yang buruk akan terjadi pada sang ayah.

Akhirnya, Rabu pagi sekitar pukul 05.30 WITA Oma dan sang suami mengantarkan Simon kembali ke rumahnya.

Setiba di rumah, Simon sempat duduk sebentar di dalam rumah sebelum keluar kembali untuk memanjat pohon kelapa untuk diambil buahnya.

Saat keluar dari rumah, Simon melihat pancing miliknya, bukannya pergi memanjat pohon kelapa, ia justru pergi memancing ikan di Embung.

Simon masih menunjukkan gelagat yang wajar, tapi ternyata hari itu adalah puncak dari perjanjiannya dengan si kuntilanak.

Diduga Simon Talan melakukan aksi bunuh diri di Embung Toblopo.

Simon Talan ditemukan tewas mengambang di Embung Toblopo, Soe, NTT.

Dikatakan Oma, sebelum korban tenggelam di Embung Toblopo pada Rabu (28/8/2019), “Saat bapa duduk pancing di pinggir Embung itu saya juga ada sementara cuci pakaian kotor milik bapa.

Bapa masih tanya saya cuci apa dan saya masih sempat jawab.

Saat saya naik ke rumah untuk siap makan siang, tiba-tiba bapa sudah tidak ada lagi di tepi Embung,” tutur Oma.

Oma bersama keluarga sudah sempat berkeliling mencari korban kehutan, kebun dan rumah tetangga namun tidak menemukan keberadaan korban.

Awalnya, Oma dan keluarga tak menduga kalau korban tenggelam di Embung karena korban diketahui pandai berenang.

Namun, saat tas plastik sirih pinang korban terlihat mengapung di atas permukaan Embung, Oma dan keluarga menduga jika korban tenggelam di dalam Embung.

“Kami sudah cari keliling bapa tapi tidak ketemu. Ternyata bapa tenggelam di embung,” ceritanya.

Pantauan pos kupang.com, proses pencairan korban di Embung Toblopo menarik perhatian masyarakat.

Sekitar 100 orang masyarakat desa Toblopo nampak duduk di tepi Embung untuk menyaksikan proses evakuasi korban.

Begitu jenazah korban terlihat, tangis histeris keluarga korban langsung pecah.

Jenazah korban yang sudah mulai kaku lalu di angkat dari air dan dibawa ke rumah duka.

Keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi dan menerima kematian korban sebagai musibah.

Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di samping jenazah sang cucu sesuai permintaan korban sebelum meninggal.

Hal itu dimaksudkan agar keluarga korban bisa sering melihat makamnya. CERDASPOKER