Sejarah Gempa Ambon Tahun 1674 yang Tewaskan Ribuan Orang

Sejarah Gempa Ambon Tahun 1674 yang Tewaskan Ribuan Orang

Sejarah Gempa Ambon Tahun 1674 yang Tewaskan Ribuan Orang

Sejarah Gempa Ambon Tahun 1674 yang Tewaskan Ribuan Orang

Gempa bumi yang mengguncang Maluku, termasuk Ambon, pada Kamis (26/9/2019) lalu menewaskan 23 orang dan 15 ribu warga lainnya harus mengungsi. Sejarah mencatat, tahun 1674 silam, gempa berkekuatan besar juga melanda kepulauan di kawasan timur Indonesia itu dan menelan korban jiwa mencapai ribuan jiwa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi yang melanda Maluku kemarin berkekuatan Magnitudo 6,8 dan berpusat pada kedalaman 10 kilometer. Titik lokasi pusat gempa berada sekitar 40 kilometer arah timur laut Ambon, atau di daratan pulau tersebut.

BMKG juga menyebutkan guncangan akibat gempa yang berlangsung pada pukul 08.46 WIT ini dirasakan di berbagai wilayah di Maluku, termasuk Ambon, Kairatu atau Seram Bagian Barat, hingga Banda. Namun, BMKG memastikan gempa ini tidak memicu gelombang tsunami.

Setelah gempa pertama terjadi, terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil beberapa waktu berselang. Laporan BMKG menyebut gempa berkekuatan magnitudo 5,6 itu terjadi pada pukul 09.39 WIT.

http://68.183.232.134/

Hingga artikel ini ditulis, sebanyak 23 orang disebutkan menjadi korban meninggal dunia dari berbagai titik lokasi. Menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban tewas tertinggi diidentifikasi di Kabupaten Maluku Tengah yakni sebanyak 14 orang.

Selain itu, sekitar 15 ribu warga harus diungsikan ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka mengalami kerusakan, juga untuk mengantisipasi terjadinya gempa susulan yang berpotensi bisa membahayakan warga.

Gempa & Tsunami Ambon 1674
*“Lonceng-lonceng di Kastil Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng, mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman.” *

*“Akan tetapi, sayang sekali tidak seorangpun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai.” *

*“Semua orang berlari ke tempat lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan gubernur. Ia memimpin doa di bawah langit yang cerah sambil mendengarkan bunyi ledakan seperti meriam di kejauhan, terutama terdengar dari utara dan barat laut.” *

Demikian yang digambarkan George Everhard Rumphius usai mengalami sendiri tragedi yang melanda Ambon pada 17 Februari 1674. Maluku kala itu diguncang gempa bumi dahsyat, disusul dengan gelombang tsunami tinggi yang menerjang Laut Banda.

Rumphius, ahli botani asal Jerman yang saat itu bekerja untuk VOC di Ambon, memang lolos dari maut. Tetapi tidak dengan istri dan anak perempuannya yang harus kehilangan nyawa bersama 2.322 orang di Ambon dan Pulau Seram, termasuk 31 orang Eropa.

Dikutip dari dokumen terbitan UNESCO bertajuk Air Turun Naik di Tiga Negeri: Mengingat Tsunami Ambon 1950 (2016) yang disusun oleh Hamzah Latief dan kawan-kawan, Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu.

Hila di dekat Hitu, disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. Rumphius menuliskan sedikitnya ada 13 desa yang terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami tersebut. Desa-desa itu terbentang di sepanjang pesisir utara Leihitu di Maluku Tengah, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur.

Rumphius juga mencatat tempat-tempat di Pulau Seram yang juga terkena dampak gempa bumi dan tsunami dahsyat itu, yakni di daerah Huamual seperti Tanjung Sial dan Luhu. Ada pula catatan lain dari wilayah Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Mega-tsunami yang menyapu Kepulauan Maluku dan sekitarnya kala itu disebut-sebut sebagai yang gelombang terbesar dan belum pernah ada tandingannya dalam sepanjang sejarah Nusantara.

Sebagai perbandingan, gelombang tsunami yang melanda Aceh dan menewaskan sekitar 280 ribu jiwa pada 2004 lalu “hanya” setinggi 24 meter. Sedangkan tsunami di Maluku pada 1674 disebut-sebut memiliki tinggi gelombang mencapai 80 meter

Indonesia, termasuk Kepulauan Maluku, memang termasuk wilayah rawan gempa bumi dan tsunami karena merupakan pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Australia.

Catatan dari Catalogue of Tsunamis on the Western Shore of the Pacific Ocean (1974) yang disusun oleh S.L. Soloviev dan Ch. N. Go menyebutkan, antara tahun 1600 hingga 2015 terdapat lebih dari 85 peristiwa gempa dan tsunami di wilayah Maluku.

Setelah bencana tahun 1674 itu, ada beberapa kejadian gempa bumi, juga tsunami, lainnya yang melanda wilayah Kepulauan Maluku dan sekitarnya serta menewaskan ribuan orang, termasuk pada 1820, 1889, 1871, 1938, 1950, dan seterusnya.