Sarri Lebih Fokus Bawa Juventus Scudetto ketimbang Memikirkan Istri

Sarri Lebih Fokus Bawa Juventus Scudetto ketimbang Memikirkan Istri

Sarri Lebih Fokus Bawa Juventus Scudetto ketimbang Memikirkan Istri

Sarri Lebih Fokus Bawa Juventus Scudetto ketimbang Memikirkan Istri

Kegagalan memenangi Supercoppa Italiana dan Coppa Italia tidak diulang Maurizio Sarri di Serie A. Tidak hanya membawa Juve memenangkan scudetto kesembilan, Sarri juga memenangkan titel Serie A kali pertama selama tiga dekade karirnya.

Allenatore berusia 61 tahun itu seketika berlari ke ruang ganti setelah wasit Francesco Forneau meniup peluit panjang di Allianz Stadium kemarin (27/7). Sarri meninggalkan anak asuhnya yang larut dalam euforia merayakan scudetto setelah menang dua gol tanpa balas.Klik di sini

Tutto Juve menyebutkan, pelatih asli Naples itu ingin cepat-cepat masuk ke ruang ganti lantaran ingin menyedot cerutu. Bagi Sarri, itulah caranya menenangkan pikiran yang sudah lelah setelah 11 bulan menjalani tekanan sebagai nakhoda La Vecchia Signora alias Nyonya Tua, julukan Juve.

Saat diwawancarai Sarri berkelit bahwa dirinya berlari meninggalkan lapangan lebih awal karena tak mau diguyur seember air oleh Giorgio Chiellini dkk. Akan tetapi, di ruang ganti, dia tetap menjadi ’’korban’’ anak asuhnya. Bukan diguyur seember air, melainkan disemprot krim.

Pada akhirnya, Sarri tertangkap kamera mengisap cerutu di ruang ganti. Kebiasaan yang sebenarnya dia kurangi setelah ambruk gara-gara pneumonia sesudah sebulan di Continassa, markas latihan Juve. Portiere Juve Wojciech Szczesny yang didepak Arsene Wenger lantaran suka merokok di ruang ganti Arsenal turut memberikan hadiah untuk Mister 33, julukan Sarri. Apa lagi hadiahnya kalau bukan cerutu.

’’Terimalah ini (cerutu). Anda layak mendapatkannya,’’ ucap Woja –sapaan akrab Wojciech Szczesny– kepada Sarri.

Bek Juve Leonardo Bonucci memberikan testimoni bahwa perjalanan Juve meraih scudetto musim ini adalah yang paling sulit selama dirinya berkostum Nyonya Tua (2010–2017 dan 2018–sekarang). Khususnya dalam memahami filosofi permainan Sarri yang biasa disebut dengan Sarrismo atau Sarri-ball.

’’Kami memasuki era baru dan dunia seperti berubah dalam tiga bulan terakhir,’’ ucapnya kepada Football Italia. ’’Sekalipun sulit menginterpretasi filosofi pelatih, kami tetap menjadi sebuah tim,’’ imbuh bek yang pernah membela Inter Milan sekaligus AC Milan tersebut.

Terlepas dari keras kepalanya Sarri dalam menerapkan Sarrismo atau Sarri-ball, scudetto menjadi ganjarannya. Mencatatkan scudetto di usia 61 tahun praktis menjadikan Sarri sebagai pelatih tertua peraih scudetto sepanjang sejarah. ’’Aku, sama seperti anak-anak kebanyakan, bermimpi memenangkan scudetto. Aku tak memenangkannya saat beranjak dewasa, baru aku alami saat sudah menjadi pak tua,’’ canda pelatih yang musim lalu memenangi Liga Europa bersama Chelsea tersebut.

Sarri membeberkan, banyak pengorbanan yang dilakukan demi scudetto. Yang paling nyata adalah mengorbankan perasaan sang istri, Marina. Sebab, hanya Juve yang ada dalam pikirannya hampir setahun terakhir. ’’Saat makan malam, kadang istriku mengajakku ngobrol, tetapi aku lebih sering tidak menjawabnya. Aku tahu telah menyakiti perasaannya. Ini (scudetto) untuknya dan orang-orang yang aku cintai,’’ tutur ayah satu anak itu.

kesuksesan Sarri meraih scudetto adalah sebuah sejarah yang luar biasa dari sudut pandang sepak bola. Apalagi menilik latar belakang Sarri yang awalnya seorang bankir. Sarri baru banting setir sebagai pelatih di usia 30 tahun. Itu pun dengan jadwal melatih hanya sore sampai malam. ’’Seorang pria berumur 61 tahun yang obsesif dan berdedikasi menulis cerita tentang dedikasi hidupnya demi scudetto. Kelak kisahnya ini akan dibacakan kepada anak cucu kita,’’ tutur Bucchioni.