Sapu Bersih Ini Adalah Buah Ketangguhan M1 Melibas Trek Lurus

Sapu Bersih Ini Adalah Buah Ketangguhan M1 Melibas Trek Lurus

Sapu Bersih Ini Adalah Buah Ketangguhan M1 Melibas Trek Lurus

Sapu Bersih Ini Adalah Buah Ketangguhan M1 Melibas Trek Lurus

Kali ini, tidak ada lagi kejadian yang mampu merampas lampu sorot dari Fabio QuartararoRider Petronas Yamaha itu –tim satelit Yamaha– sukses merebut kemenangan kedua beruntun. Yakni, di GP Andalusia di Sirkuit Jerez tadi malam.

Hebatnya, kemenangan back-to-back itu dibukukan hanya dalam kurun waktu sepekan. Fabulous! Klik di sini

Hebatnya lagi, Quartararo sama sekali tidak mengalami gangguan. Mengawali lomba dari pole position, dia start dengan mulus dan tanpa kesulitan menjauh dari dua rider Yamaha (dari tim pabrikan), Maverick Vinales dan Valentino Rossi.

Gapnya signifikan. Ketika beberapa rider mengalami masalah, baik kecelakaan maupun teknikal, dia malah menjauh.

Alhasil, dia finis dengan selisih 4,495 detik atas Vinales yang finis kedua. Ternyata, meski tampak mulus-mulus saja, Quartararo menyebutkan bahwa hal tersulit dalam lomba kemarin bukanlah menjadi juara.

Tapi menjaga supaya dirinya tidak membuat kesalahan. Seperti delapan pembalap lain yang gagal finis.

’’Aduh, soal itu, susah banget,’’ kata Quartararo dalam wawancara di parc ferme. ’’Normalnya, kami memulai balapan dengan set ban baru. Tapi, hari ini (tadi malam WIB, Red) kami menggunakan ban yang sudah diuji coba dalam warm-up lap. Sekitar tiga lap kami manfaatkan untuk melihat apakah banku oke,’’ papar dia.

Strategi itu disebutnya jitu. Sebab, dia bisa langsung menemukan pace dan melarikan diri dari kejaran Vinales serta Rossi. ’’Amazing feeling. Terima kasih buat tim yang sudah bekerja sangat keras dalam sepekan. Keluargaku pasti mulai mabuk merayakan kemenanganku,’’ lanjut rider asal Nice, Prancis, tersebut.

Quartararo mencetak banyak rekor mengagumkan seiring dengan kemenangannya tadi malam. Di antaranya, dia menjadi pembalap pertama satelit Yamaha yang juara dalam dua race beruntun. Sekaligus pembalap termuda kedua setelah Marc Marquez yang mencetak kemenangan back-to-back.

Kemarin rider berjuluk El Diablo itu berusia 21 tahun 97 hari. Masih banyak rekor lainnya.

Hasil GP Andalusia kemarin juga menjadi anomali. Podium didominasi warna biru. Tidak ada oranye (Honda), apalagi merah (Ducati). Setelah Vinales, yang finis nomor tiga adalah Rossi.

Ketiganya dari Yamaha!

Itu pemandangan pertama sejak GP Australia 2014. Saat itu Rossi, Jorge Lorenzo, dan Bradley Smith (Yamaha Tech3) menguasai Phillip Island, Australia.

Bagi Rossi, hasil kemarin juga sangat spesial. Dia kembali naik podium setelah lebih dari setahun. Kali terakhir dia podium adalah saat finis runner-up di GP Amerika 14 April 2019.

’’Rasanya kayak juara,’’ kata Rossi di parc ferme.

’’Setelah berbulan-bulan kami mencatat hasil buruk,’’ ujar pembalap 41 tahun tersebut.

Kesuksesan Yamaha tidak terlepas dari performa M1 musim ini yang berkembang signifikan ketimbang tahun lalu. Bahkan, mereka mampu meladeni ketangguhan Ducati di lintasan lurus.

Fakta tersebut juga dirasakan Rossi pada GP Andalusia kemarin. Dia membuktikan diri masih kompetitif bertarung di kelas premier.

Suhu di Sirkuit Jerez menjadi tantangan berat buat para rider MotoGP. Terpantau suhu lintasan mencapai 59 derajat Celsius dengan titik tertinggi menembus 69 derajat Celsius di sejumlah titik.

Itu menjadi salah satu alasan begitu banyak rider yang gagal finis. Di antara 21 pembalap, hanya 13 yang mampu menyelesaikan lomba.

Yang paling nyesek, tampaknya, rider Pramac Ducati Francesco Bagnaia. Dia keluar dari lintasan pada lap ke-20. Padahal, saat itu dia nyaman di posisi kedua, leading atas Rossi dan Vinales. Motornya mengeluarkan asap putih dan di beberapa tikungan berikutnya dia menepi.

Rekan setim Quartararo, Franco Morbidelli, juga mengalami masalah hingga harus out