Rekrut Ilmuwan Roket, Performa Manchester City Terus Melesat

Rekrut Ilmuwan Roket, Performa Manchester City Terus Melesat

Rekrut Ilmuwan Roket, Performa Manchester City Terus Melesat

Rekrut Ilmuwan Roket, Performa Manchester City Terus Melesat

Sepak bola di era yang semakin modern tak lagi hanya mengadu taktik dua pelatih dan antar pemain dalam pertandingan. Ada perang sains antar ilmuwan di tiap-tiap klub.

SEJAK 2021, hanya sekali Manchester City terpeleset dari 23 pertandingan di semua ajang. Satu-satunya kekalahan City didapat dari rival sekota, Manchester United, pada matchweek ke-27 Premier League (8/3). Hasil yang menodai kinerja Laurie Shaw.

Siapa Shaw? Dia adalah analis data The Citizens yang baru direkrut Januari lalu. ”Aku gembira bergabung bersama City Football Group (CFG, konsorsium pemilik City) dan berkesempatan bekerja di bidang data dan analitik terdepan dalam sepak bola,’’ kicau Shaw di akun Twitter-nya, @EightyFivePoint.

Shaw bukan sekadar analis data. Latar belakangnya berbeda dari analis data yang sudah bekerja di klub-klub elite Eropa. Pengganti Lee Money itu ternyata seorang ilmuwan roket. Daftar di sini

Menurut Direktur Analis Data dan Pengambilan Keputusan Teknologi City Brian Prestidge, sepak bola dekat kaitannya dengan ilmu fisika. ’’Sepak bola itu berbasis fisika. Yang menguji konsep taktis sehingga cukup kuat untuk dicoba oleh pelatih,’’ tutur Prestidge seperti dikutip Daily Mail.

Sebagai astrofisikawan, Shaw memiliki cara-cara tersendiri dalam penyediaan data pemain. Tapi, City tentu saja tidak membeberkannya kepada publik.’’Kami menginginkan teknologi yang berbeda dari (klub) rival,’’ imbuh Prestidge.

Kerja sama CFG dengan perusahaan perangkat lunak Acronis yang dapat menyimpan materi pertandingan dalam berjam-jam dan mengubahnya ke dalam bentuk algoritma diklaim juga banyak membantu kinerja Shaw.

Perlu diketahui, tugas Shaw tak hanya untuk City. Dia juga mengolah data pemain di sepuluh klub dalam naungan CFG. Selain City, ada Melbourne City, Montevideo City Torque, Lommel SK, New York City FC, Mumbai City FC, Girona FC, Sichuan Jiuniu FC, Yokohama F Marinos, dan Troyes AC.

Apa yang dilakukan City bersama Shaw boleh dibilang mirip dengan Liverpool FC saat memenangi gelar juara Premier League untuk kali pertama musim lalu. Saat itu Liverpool juga diperkuat empat analis data yang mempunyai latar belakang astrofisika. Yakni, Ian Graham, William Spearman, Tim Waskett, dan Dafydd Steele.

Spearman malah pernah bekerja di sebuah organisasi Eropa untuk riset nuklir. ’’Mereka memang terlihat agak kutu buku. Tapi, semua orang menghormati apa yang mereka lakukan,’’ seloroh sumber di AXA Training Centre (markas latihan Liverpool) kepada Liverpool Echo.

Mengacu ucapan Waskett, tugas dia dan ketiga rekannya simpel. ’’Mata uang utama dalam sepak bola adalah gol. Tugas kami adalah mengubah setiap kejadian di lapangan seperti operan, lemparan, atau tembakan menjadi peluang gol,’’ beber pria yang ahli dalam pengodean algoritma tersebut.

Selain mereka berempat, Liverpool ”mempekerjakan” kamera yang ada di stadion tempat mereka bermain di Premier League. Tujuannya memantau posisi 22 pemain di lapangan dengan kapasitas 25 frame per detik selama 90 menit.

’’(Dalam satu laga) kami bisa mendapat sekitar 1,5 juta poin data dan data-data itulah yang memberi kami nilai gol untuk setiap pemain dan setiap posisi di lapangan,’’ tutur Waskett.