PVMBG Sebut Petugas Pos Gunung Gede dan Salak Dengar Suara Keras Dikira Petir

PVMBG Sebut Petugas Pos Gunung Gede dan Salak Dengar Suara Keras Dikira Petir

PVMBG Sebut Petugas Pos Gunung Gede dan Salak Dengar Suara Keras Dikira Petir

PVMBG Sebut Petugas Pos Gunung Gede dan Salak Dengar Suara Keras Dikira Petir

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakinkan dentuman yang terdengar oleh sebagian penduduk di lokasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Daftar di sini

“Bukan (dari GAK), melainkan dari sumber lain. Nah, sumber lainnya kami tidak mampu menentukan,” kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Nia Khaerani

Berdasarkan laporan dari pos pemantauan paling dekat di lebih kurang Anak Krakatau, petugas tidak mendapatkan dentuman itu berasal dari Gunung Anak Krakatau gara-gara intensitas erupsinya relatif kecil. Sehingga tidak kemungkinan membuahkan suara dentuman yang terdengar hingga 125 kilometer ke lokasi Jabodetabek.

“Apalagi di pos pengamatan Gunung Anak Krakatau sendiri yang jaraknya 42 km. Itu tidak terdengar,” katanya.

Namun, petugas di lebih kurang pos pemantauan Gunung Gede, Bogor dan Gunung Salak di Sukabumi termasuk mendengar adanya suara keras. Tetapi mereka menduga suara itu berasal dari petir kala hujan yang berjalan menyusul erupsi di Gunung Anak Krakatau. Demikian termasuk petugas di lebih kurang Gunung Anak Krakatau.

“Jadi bukan cuma di Gunung Gede dan Gunung Salak yang mendengar petir, di lebih kurang Gunung Anak Krakatau terhadap kala bersamaan bersama dengan erupsi itu sebetulnya terkandung termasuk hujan petir. Karena kala ini sedang musim hujan disertai petir,” ujar dia.

Soal suara dentuman, PVMBG sendiri memasang alat bernama infrasound untuk merekam kemungkinan adanya tanda akustik dari erupsi gunung api.

Namun, infrasound cuma merekam gelombang suara yang tidak mampu didengar oleh telinga manusia. Berbeda bersama dengan dentuman yang terdengar oleh sebagian penduduk di lokasi Jabodetabek.

“Jadi meskipun bersama dengan alat itu dia terekam, namun kan frekuensinya tidak serupa bersama dengan dentuman yang langsung mampu terdengar oleh telinga manusia,” terang dia.

Oleh gara-gara itu, Nia meyakinkan suara dentuman menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau bukanlah berasal dari gunung tersebut. Melainkan dari sumber lain yang belum diketahui secara pasti.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar termasuk sependapat bersama dengan perihal itu. Dia menyimpulkan bahwa ancaman primer yang langsung dari erupsi GAK berbentuk lokal gara-gara lontaran batu atau lava cuma terlokalisir di tubuh gunung api.

“Sangat kecil kemungkinan, lebih-lebih diabaikan ancaman bahaya layaknya ini hingga ke Pulau Jawa atau Sumatera,” katanya.

Suara dentuman, kata dia, tidak merefleksikan eksplosivitas erupsi, tidak termasuk mampu dijadikan indkator akan terjadinya erupsi besar. Ancaman bahaya sekunder berbentuk abu vulkanik jangkauannya mampu lebih jauh bergantung arah dan kecepatan angin.

“Untuk perihal itu PVMBG telah menerbitkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) bersama dengan kode warna orange,” katanya.

VONA berikut telah terintegrasi bersama dengan proses penerbangan agar tindak lanjut dari stakeholder dari penerbangan mampu dilakukan.

Untuk itu, PVMBG mengimbau penduduk di Pulau Jawa dan Sumatera untuk tidak kuatir terhadap kemungkinan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.