Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

PESIARQQ –  Prasasti kutukan terlengkap ditemukan Kota Sriwijaya, Palembang. Penguasa Sriwijaya pun menempatkan prasasti kutukan di luar pusat kota, yakni daerah-daerah yang mereka taklukkan.

Dua prasasti kutukan yang ditempatkan di Palembang, yakni Prasasti Bom Baru dan Prasasti Telaga Batu. Di samping itu, terdapat Prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung.

Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menyatakan Palembang sudah dihuni insan paling tidak semenjak abad ke-7, tepatnya pada 682. Ini cocok dengan pertanggalan Prasasti Kedukan Bukit yang mengabarkan keberhasilan perjalanan Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari Kedatuan Sriwijaya.

Sebelum abad ke-7 pun barangkali Palembang telah berpenghuni. Pasalnya, jauh di terpencil Musi dan anak-anak sungainya telah berkembang kebudayaan yang lebih awal. Misalnya di wilayah dataran tinggi Pasemah, di dekat kota Pagaralam, dan Lahat.

“Melalui Sungai Musi dan anak-anaknya, insan dari wilayah pedalaman datang ke Palembang,” kata Bambang

Palembang pun adalahtempat bertemunya Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Kramasan dengan Sungai Musi. Akibatnya, ia menjadi lokasi bertemunya insan dari wilayah hulu sungai-sungai yang bermuara di lokasi itu. Dari situ terbentuklah pasar.

Di Palembang kemudian tumbuh suatu kemajuan dengan institusi dalam format kedatuan. Ini lantas dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya.

“Saya berpegangan pada anggapan bahwa pusat Sriwijaya pada tadinya ada di Palembang,” ujar Bambang.

Di kota Sriwijaya tersebut tinggalah semua pejabat mulai dari putra mahkota sampai tukang cuci. Karenanya, menurut keterangan dari Bambang, di tempat tersebut ditanamkan prasasti persumpahan terlengkap, Telaga Batu.

Pada unsur atas prasasti tersebut ada ukiran tujuh kepala ekor naga. Bagian yang ditulis terdapat di bawah dekorasi kepala naga. Di unsur bawah bidang tulis ada drainase air yang menyusun cerat di tengahnya.

Mungkin, dulu air suci disiramkan pada prasasti. Air tersebut mengalir ke bawah mengarah ke ke unsur cerat. “Air ditampung pada mangkuk guna diminumkan pada semua pejabat baru yang mengusung sumpah setia,” ujar Bambang.

Prasasti kutukan itu, kata Bambang, ditaruh di Kota Sriwijaya, yang sekarang menjadi distrik Pelambang, agar seluruh warga kota tak berkhianat. “Mulai dari putra mahkota sampai tukang cuci disumpah. Merekalah orang-orang sangat dekat dengan raja,” kata Bambang.

Jika Palembang dipercayai sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya, di luar pusat pemerintahan pun ditemukan prasasti-prasasti kutukan. Seperti prasasti yang ditemukan Karangberahi di Jambi, Kota Kapur di Bangka, Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Bedanya dalam prasasti persumpahan yang ini tak ditemukan nama-nama jabatan dalam lingkup kedatuan.

Berdasarkan keterangan dari Bambang, prasasti-prasasti diciptakan bukan sebab ada masalah di masing-masing tempat itu. Namun, prasasti-prasasti tersebut ditempatkan setelah tempatnya ditaklukkan oleh penguasa Sriwijaya. Sebelumnya pada setiap lokasi tersebut sudah ada permukiman.

Untuk mengantisipasi supaya permukiman-permukiman yang telah ditaklukkan tersebut tidak memberontak, maka ditempatkanlah prasasti kutukan. “Ini sifatnya umum. Berbeda dengan yang ditemukan di Telaga Batu yang sifatnya khusus sebab ditempatkan di Kota Sriwijaya, tempat semua pejabat tinggal,” kata Bambang.

Wilayah Malayu yang kesatu kali diduduki oleh penguasa Sriwijaya pada mula masa perkembangannya. Malayu urgen dikendalikan sebab menguasai sejumlah pelabuhan di dekat Selat Malaka.

“Salah satu lokasi yang ideal di dekat Selat Malaka ialah pelabuhan Malayu,” kata Bambang.

Menurutnya, soal status Malayu yang menjadi unsur dari Sriwijaya didukung oleh daftar biksu Tiongkok, I-Tsing. Ketika pulang dari India pada 685, diamencatat Mo-lo-yeu, yang ditafsirkan sebagai Malayu, kini sudah menjadi unsur dari Fo-shih atau Sriwijaya. Pun terbukti pula dengan adanya prasasti kutukan Karangberahi.

Kemudian adaPrasasti Kota Kapur(686) yang merupakanpetunjuk bahwa wilayah tersebut tergolong dalam wilayah dominasi Sriwijaya. Dalam bukunya, Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra, Bambang mencatat bahwa Kota Kapur butuh ditaklukkan karena bila tidak bakal menjadi penghalang pintu masuk ke pusat Sriwijaya di Palembang.Pelabuhan di Kota Kapur sedang di jalur yang menghubungkan Sriwijaya dan Jawa.

Jauh sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya, Kota Kapur sudah dihuni kumpulan masyarakat yang menganut doktrin Hindu. “Sriwijaya menaklukan Kota Kapur sebab telah terdapat permukiman Waisnawa yang barangkali menguasai sumberdaya alam tambang timah,” kata Bambang.

Mungkin sebab tempat tersebut di anggap strategis, yaitu di ambang Selat Bangka, Sriwijaya juga menaklukannya terlebih dahulu sebelum menaklukan lokasi lain. Soal menaklukan lokasi lain ini tersirat dalam Prasasti Kota Kapur.

“Pemahatannya dilangsungkan ketika balatentara Sriwijaya baru berangkat guna menyerang bhumi Jawa yang tidak takluk untuk Sriwijaya,” catat prasasti itu.

Hal yang sama dilaksanakan juga ke wilayah lain, contohnya ke Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Dengan menempati daerah-daerah itu,Sriwijaya tidak perlu mengalihkan ibukotanya yang terdapat di Palembang. Lalu ditempatkan prasasti persumpahan supaya penduduk dan penguasa di sanatak mengerjakan pembe­ron­takan.