Persiapkan Masa Pensiun Bisa Putus Rantai Tradisi Sandwich Generation

Persiapkan Masa Pensiun Bisa Putus Rantai Tradisi Sandwich Generation

Persiapkan Masa Pensiun Bisa Putus Rantai Tradisi Sandwich Generation

Persiapkan Masa Pensiun Bisa Putus Rantai Tradisi Sandwich Generation

Masa pensiun adalah hal penting yang, ironisnya, sangat jarang disiapkan oleh mayoritas orang-orang yang masih bekerja. Padahal, mempersiapkan masa pensiun bisa membuat hidup kaum pekerja lebih tenang dalam soal keuangan tanpa perlu memberatkan anggota keluarga yang masih bekerja, khususnya anak.

Managing Director of Customer Solution & Delight Prudential Indonesia Himawan Purnama menuturkan bahwa berdasarkan data, cuma 3,6 persen pekerja yang sudah mempersiapkan masa pensiun mereka. Daftar di sini

“Sementara, sebagian besar (yang belum mempersiapkan masa pensiun, Red) terancam miskin di masa tua,” ujar Himawan dalam konferensi pers virtual, Rabu (3/3).

Himawan memaparkan, selain bisa menopang hidup kala sudah tidak bekerja, persiapan masa pensiun juga perlu untuk memutus rantai tradisi sandwich generation.

Sandwich generation adalah istilah untuk generasi pekerja yang tidak cuma harus memenuhi kebutuhan mereka dan anak-anak mereka (untuk yang sudah berkeluarga, Red), tapi juga orang tua mereka yang sudah tidak punya pendapatan apapun.

Hal ini tidak dipungkiri membuat mereka yang berada di posisi generasi tersebut cukup kesulitan menikmati uang hasil kerja mereka karena harus menanggung cukup banyak orang. Berdasarkan data, setidaknya ada 77,82 persen lansia yang ekonominya ditopang oleh keluarga yang bekerja karena tidak mempersiapkan masa pensiun.

“Mereka (sandwich generation, Red) yang ada di tengah-tengah harus menopang ekonomi di atas (orang tua) dan di bawah (anak). Mereka terhimpit. Jadi, memang masa pensiun ini harus disiapkan dari dini supaya tidak perlu bergantung pada anak,” ujar Himawan.

Lebih lanjut, Himawan memaparkan bahwa ada beberapa alasan mengapa banyak kaum pekerja yang belum menyiapkan masa pensiun. Menurutnya, orang-orang yang masih bekerja lebih banyak memikirkan hal-hal yang ada di hadapan mereka ketimbang hal jangka panjang seperti pendidikan anak, cicilan rumah, beli aset baru, dan lainnya.

“Banyak yang masih berpikir bahwa masa pensiun mereka masih lama. Jadi memang masih sedikit sekali yang mempersiapkan masa pensiun,” ujarnya lagi.

Selain untuk memutus tradisi sandwich generation, persiapan masa pensiun juga bisa membuat seseorang lebih mandiri secara finansial. Hal ini tentunya membuat harapan hidup mereka bisa meningkat.

“Juga untuk memanfaatkan investasi jangka panjang dengan hasil yang maksimal,” ujarnya.

Terkait hal ini, Prudential sudah bekerja sama dengan Standard Chartered Bank untuk mengeluarkan produk investasi persiapan masa pensiun, yakni PruLife Harvest Plan yang memiliki beberapa keunggulan. Beberapa di antaranya adalah adanya penghasilan tunai di usia pensiun, terjaminnya pendapatan tunai berkala selama masa pensiun, perlindungan atas meninggal dunia dan cacat, fleksibelnya menentukan pembayatan premi, serta tidak ada pemeriksaan kesehatan.

Sementara itu, Head of Wealth Management Standard Chartered Bank Indonesia Meru Arumdalu,
mengatakan, pihaknya bangga bermitra dengan Prudential untuk meluncurkan PruLife Harvest Plan produk pensiun baru yang eksklusif untuk klien Standard Chartered Bank.

“Produk ini menawarkan nilai tambah tidak hanya untuk pemegang polis, tetapi juga untuk keluarga,” ujarnya.

Dalam konferensi pers virtual yang sama, Head of Consumer Private and Business Banking Standard Chartered Bank Jeffrey Tan menuturkan bahwa pihaknya optimistis bisa melaju lebih kencang di 2021, meski pandemi Covid-19 belum usai. Optimisme ini berkaca dari performa bank pada 2020 yang tetap bisa berjalan dengan baik di tengah terpaan banyak hal.

“Kami melihat pertumbuan di segmen ritel kami yang mencakup Priority Banking, Wealth Management, kartu kredit, CASA, dan pinjaman di 2020, dengan para nasabah semakin berpindah ke layanan digital. Kami optimis terhadap 2021 dan kami akan terus menguatkan penawaran di segmen menengah ke atas melalui berbagai kampanye, pengayaan portofolio produk, dan layanan nasabah yang prima, serta di saat yang bersamaan, menjaga budaya kepatuhan yang kuat dan tata kelola perusahaan yang baik,” kata Jeffrey.