Percobaan Mencari Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa

Percobaan Mencari Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa

Percobaan Mencari Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa

 

Percobaan Mencari Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa

Cerdaspoker DominoQQ – Ke mana mesti menggali ‘pertolongan kesatu’ ketika stres, kecemasan, kecanduan, keadaan hati tak menentu, depresi, bullying, dan sekian banyak gangguan kesehatan mental lainnya menggerogoti tubuh?

Perkara-perkara tersebut barang kali sering dirasakan sebagai masalah sepele yang tak masuk dalam kelompok darurat. Namun, bila tidak dipedulikan begitu saja dan tidak menemukan pertolongan, masalah gangguan mental tersebut dapat semakin parah bahkan sampai berujung bunuh diri.

Gangguan jiwa khususnya skizofrenia, depresi, dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan hal pencetus bunuh diri. Data global mengindikasikan 800 ribu orang meninggal sebab bunuh diri masing-masing tahunnya setara dengan satu kematian tiap 40 detik.

Dalam rangka mengenang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, saya mencoba menggali sejumlah pilihan perawatan sebab depresi yang dikhawatirkan dapat mengarah pada gangguan kesehatan jiwa. Mulai dari menghubungi HRD di kantor, RSUD, dokter dalam layanan software daring, puskesmas, dan yayasan yang menyerahkan layanan konseling.

Hasilnya, sejumlah memberi pertolongan yang memuaskan dan mudah. Sementara rata-rata lainnya memerlukan proses dan masa-masa yang agak lama guna mendapatkan layanan psikologis.

Pertama, saya menghubungi HRD di kantor, menanyakan ketersediaan layanan psikolog. Sayang, tak terdapat layanan psikolog di lokasi kerja. Namun, bila hendak berkonsultasi, HRD mengaku siap menolong setiap karyawan. Mereka mengklaim dapat jadi rekan ngobrol guna karyawan yang hendak curhat masalahnya.

Saya lalu mengupayakan menghubungi yayasan kesehatan jiwa, sebanyak layanan kesehatan, dan dokter online secara paralel.

Saya menghubungi suatu yayasan yang konsentrasi pada kejiwaan. Mereka meminta saya guna mengisi eksemplar isian dan menantikan jadwal tatap muka yang waktunya belum diketahui. Diprediksi, kabar soal jadwal tatap muka akan hadir sekitar dua sampai empat pekan ke depan.

Layanan konsultasi psikologi di suatu universitas di Depok pun memiliki susunan tunggu sampai sebulan lamanya. Biaya konsultasi di yayasan dan layanan psikologi ini berkisar mulai dari Rp150 ribu sampai Rp250 ribu.

Ada pula layanan konsultasi online yang mewajibkan saya mengirim artikel mengandung masalah kesehatan jiwa. Namun, layanan tersebut juga mewajibkan saya menantikan jawaban hingga sejumlah minggu.

Jadwal dan jawaban yang lama menciptakan saya tak jadi memakai jasa itu dan mencoba teknik lain. Saya juga berpikir, saat saya merasa depresi di ketika ini, masakan saya mesti menantikan atau menunda depresi hingga empat minggu ke depan?

Saya mengupayakan layanan berkata dengan dokter di software online. Awalnya, saya diminta menciptakan akun dan memverifikasi nomor telepon. Setelah itu, fitur chat dengan dokter bisa digunakan. Saya memilih kemahiran psikoterapi.

Di software itu, terdapat sebanyak psikolog yang sedang online dan siap menerima pesan singkat saya. Pengguna dapat menyaksikan nama menyeluruh beserta gelar psikolog, dilengkapi dengan pendidikan, lokasi praktik, dan nomor Surat Tanda Registrasi (STR).

Sebelum chat, pemakai diminta mengonfirmasi ongkos yang mesti dibayar. Rata-rata ongkos yang dikeluarkan ialah Rp50 ribu guna chat sekitar 30 menit. Kebetulan saat tersebut sedang terdapat promo sampai-sampai saya dapat konseling online secara gratis.

Saat chatting, psikolog menanyakan masalah yang sedang dialami. Saya mengisahkan masalah saya. Sang psikolog mencari lebih lanjut dengan menanyakan sebanyak pertanyaan secara online.

Hanya saja, sebab percakapan hanya dilaksanakan melalui chatting, komunikasi tidak jarang kali dilangsungkan lama. Saya harus memahami dan memikirkan jawaban dari pertanyaan psikolog kemudian menyebutkan dan mengirimkannya.

Saya mesti menunggu sejumlah waktu untuk dapat mendapatkan jawaban dari psikolog tersebut. Selama 15 menit kesatu waktu dipakai untuk mencari masalah. Lima belas menit berikutnya, psikolog menyerahkan saran untuk menanggulangi masalah yang saya hadapi.

Saya merasa tak begitu puas mengisahkan masalah yang saya alami melewati chat dengan masa-masa 30 menit. Saya tak memahami raut muka atau juga gaya bicara psikolog saat menyerahkan saran. Saya merasa tak terdapat kontak emosional yang terjalin antara saya dan psikolog laksana yang terjadi ketika saya bicara dengan orang yang duduk di sebelah saya. Sebuah tepukan halus di punggung tangan atau bahu, kontak mata, atau obrolan yang mengalir terasa bertolak belakang ketika melulu terjalin secara online.

Berdasarkan keterangan dari saya, ini merupakan hal penting ketika konsultasi masalah mental atau jiwa. Namun, guna menanyakan hal-hal tertentu saat belum dapat bertatap muka, chat online dapat jadi pilihan tercepat

Karena belum puas, saya mengontak RSUD di Jakarta Selatan via telepon. Sayangnya, lokasi tinggal sakit umum wilayah itu tak punya dokter/psikiater/psikolog yang bisa menangani masalah mental. Alih-alih melayani, saya malah dianjurkan untuk mengunjungi rumah sakit yang lebih banyak di Jakarta Pusat.