Penuhi Kebutuhan Gizi, Benarkan Daging Ayam Disuntik Hormon?

Penuhi Kebutuhan Gizi, Benarkan Daging Ayam Disuntik Hormon?

Penuhi Kebutuhan Gizi, Benarkan Daging Ayam Disuntik Hormon?

Penuhi Kebutuhan Gizi, Benarkan Daging Ayam Disuntik Hormon?

Di masa pandemi Covid-19, masyarakat harus mencukupi kebutuhan gizi guna meningkatkan sistem imun. Pemenuhan gizi salah satunya bisa didapatkan dari sumber protein hewani seperti daging ayam. Namun sayangnya, masih ada kekhawatiran di masyarakat terkait keamanan daging ayam. Terutama daging ayam yang dikatakan disuntik hormon.Daftar di sini

Terkait hal tersebut, Ketua DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Rakhmat Nurianto, mengungkapkan, Indonesia jelas melarang penggunaan hormon untuk pertumbuhan ayam. Lagipula, harga hormon itu sangat mahal. Yakni sekitar Rp 800 ribu.

Kalaupun ada penyuntikan pada anak ayam, itu adalah vaksin vidam. Yakni vaksin inaktif dalam ajuvan minyak. Bukan hormon pertumbuhan.

“Biasanya disuntukkan pada leher anak ayam, sering dikira hormon,” kata Rakhmat dalam Webinar kampanye GEMAYA ‘Tingkatkan Konsumsi Ayam Dalam Negeri, Selamatkan Peternak dan Peningkatan Gizi’, Senin (26/10).

Untuk itu, masyarakat diminta untuk tidak khawatir mengosumsi daging ayam. Diungkapkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, daging ayam adalah sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang baik dan mudah terjangkau oleh masyarakat. Daging ayam disebutkan sebagai salah satu asupan makanan yang dibutuhkan agar imun tubuh meningkat.

“Menjaga pola makan dengan asupan gizi yang seimbang penting dilakukan sebagai upaya menjaga daya tahan tubuh di tengah pandemi. Oleh karena itu mengkonsumsi daging ayam merupakan
bagian dari upaya meningkatkan daya tahan tubuh karena gizinya dapat meningkatkan kekebalan tubuh,” ungkap Nasrullah.

Tapi sungguh disayangkan, dengan kandungan gizi yang baik, konsumsi daging ayam di Indonesia masih cukup rendah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, konsumsi daging ayam di Indonesia hanya 12,79 kg per kapita per tahun.

Diakui Nasrullah, data tersebut masih rendah jika dibandingkan negara tetangga, Malaysia. Sebab, Malaysia bisa mencapai 38 kg per kapita per tahun.

Bahkan, diungkapkan Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Hardiansyah, meningkatkan konsumsi daging ayam bisa mengatasi masalah gizi buruk penyebab stunting di Indonesia.

“Ini (masalah gizi, Red) masih jadi persoalan di Indonesia karena kurangnya asupan makanan yang bergizi kualitas termasuk sumber protein salah satunya ayam,” tuturnya.

Untuk itu, perlu kerja sama dari berbagai pihak agar mendorong masyarakat gemar mengonsumsi daging ayam sebagai sumber protein hewani. Selain sehat, banyaknya daging ayam yang dikonsumsi masyarakat bisa membantu kelangsungan bisnis para peternak ayam di seluruh Indonesia. Terlebih di tengah pandemi Covid-19.