Penggunaan Ventilator bagi Pasien Virus Corona jadi Perdebatan

Penggunaan Ventilator bagi Pasien Virus Corona jadi Perdebatan

Penggunaan Ventilator bagi Pasien Virus Corona jadi Perdebatan

Penggunaan Ventilator bagi Pasien Virus Corona jadi Perdebatan

Selain APD bagi tenaga medis, keperluan akan ventilator untuk pasien virus corona condong meningkat. Alat ini dinilai cukup efisien untuk menolong penyembuhan pasien virus corona. Namun benarkah demikian?

Ventilator sendiri merupakan alat bantu pernapasan yang kini diperlukan bagi pasien infeksi virus corona yang tengah didalam kondisi parah. Infeksi virus yang menyerang paru-paru ini sanggup membawa dampak pasien susah bernapas. Ketika tubuh kekurangan oksigen, sanggup mengancam keselamatan nyawa sang pasien.    http://68.183.234.248/sultan99/

Namun dr. Cameron Kyle-Sidell menyebut bahwa ventilator memang tidak sanggup menolong kondisi pasien virus corona jadi lebih baik. Justru keluar sebuah klaim yang menyebutkan bahwa alat itu jauh lebih membahayakan. Hal inipun tetap jadi pembicaraan di dunia medis.

Akhirnya tidak semua dokter memakai ventilator dan alat medis basic untuk penanganan pasien virus corona. pada Sabtu (25/4/2020) pemakaian ventilator mekanis punya risiko. Sehingga kebanyakan dokter cuma memilih opsi ini sebagai pilihan paling akhir kecuali pasien amat tidak sanggup bernapas.

Alternatif yang digunakan dokter

Sebagai alternatif, beberapa dokter berharap pasien untuk berbaring di posisi yang berbeda. Memastikan bahwa anggota paru-paru berada pada aerasi yang lebih baik. Sementara dokter lain coba mengimbuhkan oksida nitrat untuk menolong menambah aliran darah dan oksigen ke anggota paru-paru yang rusak.

Gubernur New York Andrew Cuomo menjelaskan pada Associated Pres bahwa pasien virus corona yang memakai ventilator cuma sanggup bertahan hidup sepanjang 15 hari. Sementara 40-50 % pasien bersama problem sistem pernapasan justru meninggal didalam perawatan memakai ventilator. Namun, pemerintah New York menyebut bahwa 80 % pasien virus corona di kota berikut meninggal didalam perawatan ventilator.

Tak cuma itu, ventilator diperkirakan sanggup menyebabkan kerusakan tubuh pasien sebab tekanan udaya yang tinggi dipaksa masuk ke kantung udara paru-paru pasien,  di China dan Inggris termasuk mencatat tingginya angka kematian akibat ventilasi. Namun dokter Eddy Fan dari Rumah Sakit Umum Toronto menyebut bahwa bahaya akibat sanggup dikurangi kecuali membatasi jumlah tekanan dan ukuran napas yang diberikan oleh mesin.