Orang Kaya Dunia Angkat Suara soal Kasus George FLoyd di AS, Apa Kata Mereka?

Orang Kaya Dunia Angkat Suara soal Kasus George FLoyd di AS, Apa Kata Mereka?

Orang Kaya Dunia Angkat Suara soal Kasus George FLoyd di AS, Apa Kata Mereka?

Orang Kaya Dunia Angkat Suara soal Kasus George FLoyd di AS, Apa Kata Mereka?

Masyarakat di sejumlah negara di dunia ramai-ramai mengutuk insiden pembunuhan pada pria kulit hitam, George Floyd, oleh aparat polisi kulit putih di Amerika Serikat.

Tak kecuali para miliarder yang termasuk turut merespon kejadian ini melalui sebagian pernyataan. Mereka menyuarakan pemikiran, melalui memo hingga fasilitas sosial dan mengecam tindakan kesenjangan rasial. Agodapoker poker republik

Terjadi protes besar-besaran di AS, sesudah kematian dari tiga orang Afrika-Amerika berkulit hitam, yakni Ahmaud Arbery, Breonna Taylor, dan George Floyd. Pada sementara yang sama, orang Amerika kulit hitam tengah berada pada persoalan yang sangat tinggi perihal Covid-19.

1. Evan Spiegel
CEO Snap, Evan Spiegel mengirim memo kepada staf, menyerukan pembentukan komisi non-partisan perihal reparasi dan pajak yang lebih tinggi pada kaum ultra-kaya untuk menanggulangi kesenjangan kekayaan rasial.

“Setiap menit kami diam di hadapan kejahatan dan kekeliruan kami melakukan tindakan untuk membantu pelaku kejahatan,” tulis Spiegel didalam memo.

“Saya patah hati dan marah bersama perlakuan pada orang kulit hitam dan orang kulit berwarna di Amerika,” sambungnya.

Spiegel termasuk berjanji untuk menyumbangkan sebagian dari kekayaannya sebesar USD 4,1 miliar untuk organisasi-organisasi anti-rasis namun menjelaskan filantropi tidak dapat “menghasilkan solusi didalam persoalan ini tanpa pergantian kebijakan.

“Filantropi khusus mampu menambal lubang, atau mempercepat kemajuan, namun itu saja tidak mampu melalui jurang ketidakadilan yang didalam dan luas,” tulis Spiegel.

“Kita perlu melintasi jurang itu bersama sebagai negara yang bersatu. Bersatu didalam perjuangan untuk kebebasan, kesetaraan, dan keadilan untuk semua,” imbuh dia.

2. Melinda Gates

Melalui akun twitter miliknya,Melinda Gates menuliskan bahwa dia tidak percaya bagaimana pakai kekayaannya untuk mengakhiri konflik rasisme sistemik.

“Saya tidak punyai seluruh jawaban perihal bagaimana saya mampu pakai nada dan filantropi saya untuk jadi bagian dari solusi,” tulis dia.

“Saya dapat tetap memperdalam pemahaman saya dan untuk berdiri bersama orang-orang dan organisasi yang bekerja menuju masa depan yang berpusat pada gender dan kesetaraan ras,” sambung Melinda.

Melinda Gates dan suaminya, tidak benar satu pendiri Microsoft, Bill Gates, udah berkomitmen untuk mengimbuhkan sebagian besar kekayaan mereka sebesar USD 102 miliar melalui Giving Pledge.

3. Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg perlihatkan bahwa Facebook perlu berbuat lebih banyak untuk membantu kesetaraan dan keamanan bagi komunitas Kulit Hitam melalui platformnya, dan berjanji untuk menyumbangkan USD 10 juta.

Dalam posting Facebook-nya, Zuckerberg mengutuk sejarah ketidaksetaraan rasial Amerika Serikat dan menguraikan pekerjaan organisasinya, Inisiatif Chan Zuckerberg, perihal persoalan ini.

Meskipun ia berjanji membantu kesetaraan rasial, Zuckerberg menolak untuk menghapus unggahan Presiden Trump yang mengancam “penembakan” para penjarah, yang mengakibatkan kemarahan dari pengguna Facebook, karyawan, dan para pemimpin hak-hak sipil.

Zuckerberg perlihatkan bahwa ketika ia menemukan pernyataan Trump “sangat ofensif” namun tidak melanggar kebijakan perusahaan pada hasutan untuk melaksanakan kekerasan.

Para pemimpin hak-hak sipil yang menghadiri video call pada Senin malam bersama Zuckerberg dan eksekutif Facebook lainnya, menyebut pembelaan CEO atas pendekatan terlepas tangan kepada Trump “tidak mampu dipahami”.

“Kami kecewa dan terpana bersama penjelasan Mark yang tidak mampu dimengerti sebab membiarkan posisi Trump senantiasa naik,” tulis tiga pemimpin hak-hak sipil, presiden dan CEO Konferensi Kepemimpinan perihal Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Manusia, Vanita Gupta, presiden dan direktur-penasihat dari NAACP Legal Defense and Education Fund, Sherrilyn Ifill, dan presiden Color of Change, Rashad Robinson.

“Dia tidak perlihatkan pemahaman penindasan pemilih bersejarah atau modern dan dia menolak untuk mengakui bagaimana Facebook memfasilitasi seruan Trump untuk kekerasan pada demonstran,” sambung mereka didalam sebuah pernyataan.

4. Elon Musk

Tak ketinggalan, Elon Musk turut merespon peristiwa ini melalui cuitan di Twitter. Musk bicara menentang pembunuhan Floyd pada hari Senin, dan mengunggah tagar “#JusticeForGeorge”

Menanggapi video saudara laki-laki Floyd yang bicara bersama pengunjuk rasa, Musk menulis, “Pesan apa ini secara umum kepada petugas yang berdiri sementara yang lain melaksanakan kesalahan?”

5. George Soros
George Soros pada akhirnya berhasil menutup teori konspirasi palsu yang menjelaskan bahwa ia terlibat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas seruan protes dan menjelaskan bahwa Floyd tetap hidup.

Dalam sebuah pernyataan, Juru bicara Soros mengatakan: “Kami menyesalkan asumsi yang tidak benar bahwa orang-orang yang turun ke jalur untuk mengekspresikan rasa sedih mereka dibayar, oleh George Soros atau siapa pun,” tegas dia.

Para pakar teori konspirasi udah secara tidak benar menuduh Soros, seorang dermawan dan mantan manajer dana lindung nilai senilai USD 8,3 miliar, dari segala hal. Mulai dari berkolaborasi bersama Nazi selama Holocaust hingga mencoba memulai perang saudara di AS.

6. Jeff Bezos

CEO Amazon, Jeff Bezos berbagi esai karya Shenequa Golding perihal usaha menjaga profesionalisme sesudah lihat pria dan wanita berkulit hitam terbunuh.

“Rasa sakit dan trauma emosional yang disebabkan oleh rasisme dan kekerasan yang kami lihat pada komunitas kulit hitam punyai jangkauan panjang,” tulis Bezos.

7. Robert F. Smith

Smith menulis memo perihal pengalaman sendiri bersama kekerasan rasial selama akhir pekan. Mengutip Dr. Martin Luther King Jr didalam e mail akhir pekan yang dikirim ke staf perusahaan ekuitas swasta, Smith menceritakan bagaimana keluarganya menanggulangi pembunuhan pamannya oleh petugas pompa bensin putih hampir 50 th. yang lantas dan menyerukan “Cinta dan pengertian.”

“Ini udah jadi minggu yang memilukan dan menyakitkan bagi Amerika dan mengingatkan bahwa didalam pengejaran kami yang tanpa akhir dapat ‘persatuan yang lebih sempurna,’ tetap banyak pekerjaan yang tersisa,” tulis Smith.

Smith, CEO perusahaan ekuitas swasta yang berfokus pada perangkat lunak, Vista Equity Partners, udah lama membantu aksi kesetaraan ras, mendanai Proyek The New York Times 1619 dan mengakibatkan sumbangan khusus terbesar ke-2 ke Museum Nasional Sejarah Afrika Amerika dan Culture melalui Yayasan Fund II pada 2016.