Mengulik Mitos Jika Sulung Nikah dengan si Bungsu. Saling Melengkapi atau Justru Tak Serasi?

Mengulik Mitos Jika Sulung Nikah dengan si Bungsu. Saling Melengkapi atau Justru Tak Serasi?

Mengulik Mitos Jika Sulung Nikah dengan si Bungsu. Saling Melengkapi atau Justru Tak Serasi?

Mengulik Mitos Jika Sulung Nikah dengan si Bungsu. Saling Melengkapi atau Justru Tak Serasi?

Jika kamu sudah menonton film Nanti Kita Cerita Hari Ini, mungkin kamu bisa menyoroti bagaimana perbedaan sifat yang jauh dari anak sulung dan anak bungsu. Dua posisi ini seperti sangat bertolak belakang dalam beberapa hal. Pasalnya anak pertama sering dianggap sebagai sosok yang mandiri dan lebih ngemong, sedangkan anak bungsu dianggap merupakan anak yang manja namun penyayang.

Walaupun nggak berlaku untuk semua orang, namun stereotip ini akhirnya memunculkan mitos-mitos termasuk saat dua anak ini menjalin sebuah hubungan pernikahan lo. Apa saja stereotip pernikahan anak pertama dan terakhir ini? Kita simak yuk selengkapnya!

1. Anak sulung sering dianggap sebagai orang yang sering mengalah kepada si bungsu, hal ini bisa jadi tetap berlaku dalam sebuah hubungan

Anak sulung dan bungsu

Anak sulung biasanya terkenal dengan kemampuannya ngemong adik-adiknya, termasuk si bungsu. Ia terbiasa bertanggung jawab terhadap adiknya sehingga saat ia menikah dengan anak bungsu maka ia sudah terbiasa menghadapi sifat ‘keadikan’ yang mungkin dimiliki pasangan. Jika terjadi masalah, maka kemungkinan si sulung akan banyak mengalah. Namun, kamu perlu hati-hati juga karena  ada juga sulung yang justru menganggap dirinya lebih paham segala sesuatu sehingga ia akan merasa benar sendiri. Hal ini tidak jadi masalah jika si bungsu yang penyayang justru memiliki keinginan untuk mengalah.

2. Anak sulung memiliki kebiasaan untuk mengatur sesuatu demi meyakinkan bahwa segalanya akan berjalan sesuai rencana, si bungsu bisa jadi sebaliknya

Sulung si pengatur

Karena tanggung jawab besar yang dimiliki oleh si sulung, maka ia akan terbiasa dengan hal-hal yang bersifat kepemimpinan dan mengatur segala sesuatu. Hal ini mungkin akan kamu temukan juga dalam hubungan pernikahan dengan posisi anak yang satu ini. Namun, si bungsu  bisa jadi akan mendapatkan keuntungan dari kebiasaannya yang justru biasa diatur atau lebih banyak diuruskan segala sesuatunya.

3. Salah satu stereotip yang lekat pada anak sulung adalah sifat pekerja keras yang dimilikinya, anak bungsu justru memiliki kebiasaan menabung

Karena merasa memiliki adik-adik yang akan menjadi tanggung jawabnya, maka anak sulung biasanya akan lebih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di sisi lain, anak bungsu memiliki kebiasaan baik yaitu gemar menabung. Sehingga pendapatan yang sudah didapatkan dari si sulung akan berhasil terkumpul dan diatur dengan baik oleh si bungsu saat mereka berada di dalam sebuah hubungan pernikahan

4. Meskipun ada banyak perbedaan yang dapat dilihat dari dua anak yang berbeda ini, namun mereka justru bisa saling melengkapi

Anak pertama yang identik dengan sifat-sifat penuh tanggung jawab dan pekerja keras mungkin akan berbenturan jika mendapatkan seseorang yang sama ambisiusnya dengan dia. Makanya, kehadiran si bungsu bisa jadi akan menyeimbangi keadaan ini. Sifatnya yang penyayang dan penuh perasaan akan membuat rumah tangga semakin hangat. Kedua anak ini jika bersama dinilai akan saling melengkapi satu sama lain.

5. Pasangan sulung dan bungsu juga dinilai bisa mengatasi berbagai permasalahan yang ada dengan baik

Saling melengkapi

Si sulung mungkin akan banyak menuntun si bungsu untuk menjadi orang yang lebih mandiri dan kuat, sedangkan si bungsu akan membuat si sulung menjadi seseorang yang lebih hangat. Saat terjadi sebuah permasalahan, maka pasangan ini akan dianggap bisa menyelesaikan semuanya dengan baik karena sifat yang saling melengkapi. Alih-alih mengedepankan ego masing-masing, pasangan ini akan lebih banyak berkompromi.

Intinya anak sulung kerap dianggap cocok dengan anak bungsu jika menikah. Hal-hal tersebut adalah stereotip yang mungkin dimiliki oleh anak sulung dan bungsu, namun semua kembali ke masing-masing orang ya, tentu hal ini nggak berlaku secara general. Bisa saja, si bungsu malah lebih ngemong daripada si sulung karena keduanya melewati kehidupan yang berbeda dengan keluarga pada umumnya hingga sifat yang dibentuk juga berbeda. Kalau kamu, percaya nggak nih sama mitos pernikahan sulung-bungsu ini?