Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Kanker Usus Besar

Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Kanker Usus Besar

Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Kanker Usus Besar

Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Kanker Usus Besar

Data World Health Organization (WHO) pada 2020 menyebutkan bahwa kanker usus besar menduduki peringkat keempat yang paling banyak diderita di Indonesia. dr. Errawan Wiradisuria, dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif Mayapada Hospital mengungkapkan, angka harapan hidup akan lebih tinggi jika kanker terdeteksi lebih awal.
Seperti halnya kanker lain, kanker usus besar terbagi menjadi 4 stadium. Hasil penelitian menunjukkan angka harapan hidup untuk pasien kanker stadium I adalah 90 persen, 40 sampai 60 persen untuk pasien stadium II, dan semakin rendah pada stadium lanjut, di mana tindakan paliatif menjadi opsi, yakni tindakan untuk menjaga kualitas hidup meski tidak 100 persen menyembuhkan kanker.

Menurut LudoQQ pokerace99, ada sejumlah faktor risiko yang harus diwaspadai terkait kanker usus besar. Masing-masing adalah faktor keturunan, pernah terdiagnosa polip pada usus besar, pernah menjalani terapi radiasi pada area perut atau pelvis, diabetes dan obesitas, serta gaya hidup tak sehat seperti merokok, pola makan tidak sehat, kurang berolahraga, dan konsumsi alkohol berlebih.

“Deteksi dini kanker usus besar dapat dilakukan secara rutin sejak usia 40 tahun dengan melakukan pemeriksaan virtual colonoscopy, kolonoskopi, dan pemeriksaan penanda tumor, yaitu pemeriksaan zat protein yang dihasilkan oleh sel kanker di laboratorium,” paparnya.

Virtual colonoscopy sendiri merupakan pemeriksaan untuk melihat bagian dalam usus besar secara 3 dimensi dengan alat CT scan, sementara kolonoskopi menggunakan alat serupa selang dengan kamera yang dimasukkan ke dalam usus besar. Cara ini disebut paling baik untuk mendeteksi adanya kelainan seperti polip atau benjolan kecil, namun virtual colonoscopy kerap jadi pilihan bagi pasien yang takut menjalani kolonoskopi.

Dr. Errawan menjelaskan, kanker usus besar umumnya tidak bergejala pada stadium 0 dan I sehingga jarang terdeteksi. Pada kedua stadium ini, bisa dilakukan terapi berupa pembedahan untuk mengangkat kanker tanpa kemoterapi. Gejala biasanya baru mulai dirasakan pada stadium II, seperti BAB sering berdarah, mengecil seperti pensil atau kecil-kecil dan berwarna hitam, sering diare atau sembelit, nyeri perut, kram, dan sering kembung, mengalami penurunan berat badan drastis tanpa diketahui sebabnya, dan sering merasa BAB tidak tuntas.

Selain pembedahan untuk terapi kanker stadium II, kemungkinan dokter akan menyarankan kemoterapi setelah operasi jika sel kanker diketahui berisiko tinggi untuk kembali (kambuh).

“Penting bagi Anda untuk mendiskusikan risiko dan manfaat kemoterapi dengan dokter Anda, termasuk seberapa besar kemoterapi dapat mengurangi risiko kekambuhan dan kemungkinan efek sampingnya,” ujarnya.

Dalam sejumlah kasus, pasien kanker stadium lanjut yang tak dapat dihilangkan sepenuhnya lewat pembedahan akan menerima terapi kemoterapi neoadjuvan (kemoterapi diberikan sebelum pembedahan) yang diberikan bersamaan dengan radiasi. Tujuannya, untuk mengecilkan kanker sehingga dapat diangkat dengan pembedahan.

Kanker pada stadium III artinya telah menyebar ke kelenjar getah bening dan pada stadium IV, kanker kerap kali menyebar ke organ tubuh lain, seperti hati, paru-paru, dan otak. Pada stadium lanjut ini, terapi yang dapat dilakukan adalah pembedahan untuk mengangkat bagian usus besar yang mengandung kanker bersama dengan kelenjar getah bening di dekatnya, ditambah operasi untuk mengangkat area penyebaran kanker.

Di tahap ini, kemoterapi biasanya diberikan setelah operasi. Jika penyebaran kanker terlalu besar, kemoterapi neoadjuvan diberikan untuk memperkecil kanker sebelum diangkat.

Pada stadium IV, jika kanker telah menyebar terlalu banyak untuk dapat diterapi dengan pembedahan, kemoterapi adalah pengobatan utama. Pembedahan mungkin masih diperlukan jika kanker sudah menghalangi usus besar yang mengakibatkan pasien tidak dapat BAB.

Dr. Errawan menegaskan, sangat penting bagi pasien memahami tujuan pembedahan pada stadium IV, yakni demi kualitas hidup pasien agar bisa makan dan BAB
walaupun melalui kolostomi. Menurutnya, setelah melewati masa operasi atau terapi, pasien masih perlu melakukan kontrol dan menerapkan gaya hidup sehat.

“Yang tidak kalah penting juga selalu semangat menjalani hidup dan selalu berpikir positif. Dukungan keluarga juga sangat penting untuk membantu pasien dalam menjalani terapinya. Bila pasien kanker usus besar kembali mengalami gejala maka segera konsultasikan ke dokter,” katanya.

Jika merasa perlu melakukan deteksi dini kanker usus besar, Gastrohepatology Center Mayapada Hospital didukung tim dokter berkompeten dan berpengalaman menyediakan layanan lengkap dan menyeluruh untuk gangguan pada saluran pencernaan dan hati mulai dari deteksi dini, diagnosa, hingga terapi dengan fasilitas dan peralatan terkini.

“Semakin cepat terdeteksi, terapi yang diberikan dapat semakin maksimal sehingga tingkat kesembuhan dan harapan hidup juga akan semakin meningkat,” ujar dr. Errawan.