Mencari Setetes Darah di Tengah Kepungan Covid-19

Mencari Setetes Darah di Tengah Kepungan Covid-19

Mencari Setetes Darah di Tengah Kepungan Covid-19

Mencari Setetes Darah di Tengah Kepungan Covid-19

Ni Ken Ritchie, Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI Jakarta, terus memutar otak demi memenuhi stok darah. Tak dimungkiri semenjak pandemi di awal Maret 2020 jumlah pendonor menurun. Ni Ken menjelaskan PMI biasanya memperoleh darah dari instansi, kampus, juga pendonor mandiri.
Biasanya, PMI biasa ‘jemput darah’ ke instansi-instansi setiap hari. Ni Ken berkata dalam sehari ada sekitar 12-15 instansi yang dikunjungi. Dari satu instansi semisal ada 75 orang calon pendonor, sebanyak 40-50 orang mendonorkan darahnya. Perolehan darah dari aktivitas jemput bola pun bisa memenuhi 60-70 persen stok darah. Ini pun masih ditambah pendonor sukarela yang datang secara mandiri ke PMI pusat maupun di kota-kota di Jakarta.

“Karena WFH, otomatis jemput bola dibatalkan. Kami bergantung dari pendonor mandiri yang jumlahnya rata-rata 200 orang per hari. Ini sudah total dari donor darah per kota. Di sana juga mengalami penurunan. Paling banyak (setelah diakumulasi) hanya 250 pendonor sukarela,” kata Ni Ken pada SenjaQQ dalam wawancara baru-baru ini.

“Rata-rata kami (stok darah) mengalami penurunan 80 persen, bisa dibayangkan betapa sangat drastis (penurunannya).”

Dalam kondisi seperti sekarang, Ni Ken mendorong masyarakat untuk tidak takut mendonorkan darahnya ke UTD terdekat atau PMI di kota-kota. Dia meyakinkan bahwa PMI sudah menerapkan protokol kesehatan mulai dari sebelum masuk gedung ada pengecekan suhu badan, pembatasan jumlah orang di ruang tunggu, penyediaan hand sanitizer, cuci lengan sebelum donor hingga pemberian masker medis untuk memastikan keamanan pendonor.

“Donor darah itu aman dan menyehatkan. Apalagi di masa pandemi, donor darah dan membuat sirkulasi darah lancar, lalu ada produksi darah baru. Donor darah juga membuat kita termotivasi untuk hidup sehat. Supaya bisa lolos, pendonor harus cukup tidur, cukup olahraga,” ujarnya.

Perjuangan mencari setetes darah
Di masa pandemi ini, demi memenuhi kebutuhan stok darah bagi orang yang membutuhkan, PMI tidak hanya berpangku tangan menanti pendonor sukarela.

Selagi mengerahkan kampanye donor darah mandiri di media sosial, mereka menjalin kerjasama dengan pemerintah provinsi, diadakan kegiatan ‘jemput bola’ ke kelurahan-kelurahan. Ni Ken melihat animo masyarakat cukup baik hanya saja sampai jumlah pendonor belum bisa mendongkrak stok.

Dalam satu kelurahan, paling banyak ada 50 pendonor dan rata-rata 20 pendonor. Jumlah ini dirasa kurang signifikan.

Di sisi lain, stok darah dibutuhkan untuk pasien-pasien yang memiliki penyakit seperti thallasemia, orang yang cuci darah dan lainnya. Selain itu juga juga ada kebutuhan mendesak untuk kejadian tak terduga dari rumah sakit, misalnya kecelakaan.

Kondisi ini ditambah dengan pasien covid-19 dengan komobid tertentu. Meski harus diakui permintaan darah dari rumah sakit-rumah sakit tercatat ada penurunan hingga 50 persen dan saat PSBB transisi menurun 30 persen.

Karena tetap ada ‘gap’ stok dan permintaan darah, Ni Ken berkata inilah yang membuat keluarga pasien musti mencari pendonor sendiri.

“Kalau keadaan mendesak dan stok terbatas, dilihat lagi apa masih bisa ditunda semisal untuk persiapan operasi. Kita tunggu dulu dari keluarga atau kerabat pasien,” kata dia.

Belum lagi jika memang ada stok, darah tidak serta merta ditransfusikan ke pasien. Darah musti melewati pemeriksaan kecocokan di laboratorium rumah sakit (untuk rumah sakit yang memiliki bank darah) atau di UTD PMI. Asal melakukan transfusi darah bisa berakibat fatal.

Perjalanan darah dari donor ke penerima
Sebagian orang mungkin bertanya-tanya sebab dalam sekali donor, darah yang diambil terlihat banyak. Apalagi jika 10-20 orang, bukankah darah yang terkumpul sudah cukup banyak, kok masih kurang?

Ternyata donor darah bukan perkara mudah seperti Anda membeli bensin dan ‘menyuntikkannya’ ke tangki kendaraan. Sebelum donor, orang akan dicek kondisi kesehatan terutama kondisi darahnya. Ni Ken menjelaskan dari semua darah yang masuk ke PMI, tidak semua akan didistribusikan ke pasien yang memerlukan.

Darah akan kembali dicek kualitasnya. Perubahan warna pada darah bakal jadi salah satu indikator kualitas darah semisal darah dengan kandungan kolesterol tinggi akan berwarna keruh seperti susu.

Sedangkan kalau darah tergolong memiliki kualitas bagus, darah akan dipisahkan sesuai bagiannya seperti, eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan plasma darah. Pemisahan dilakukan karena kebutuhan pasien akan berbeda satu sama lain.

Selain dipisah sesuai bagiannya, darah juga akan dipisah sesuai golongannya. Golongan darah tidak hanya A, B, AB, dan O tetapi juga faktor Rhesus atau antigen (protein) pada permukaan sel darah merah. Ada Rhesus positif berarti ada faktor Rh sedangkan Rhesus negatif berarti tidak ada faktor Rh.

“Untuk darah yang tidak memenuhi standar mutu akan dimusnahkan dan harus dibakar di incenerator. Ini kami bekerja sama dengan pihak ketiga,” imbuh Ni Ken.