Melepaskan Diri dari Labirin Kacau Depresi Yang menimpa diri kita

Melepaskan Diri dari Labirin Kacau Depresi Yang menimpa diri kita

Melepaskan Diri dari Labirin Kacau Depresi Yang menimpa diri kita

 

Melepaskan Diri dari Labirin Kacau Depresi Yang menimpa diri kita

Tak terdapat yang tahu serupa bagaimana pasien depresi berusaha melawan perasaan kacau-balaunya. Kebanyakan orang masih memandang depresi sebagai gangguan sepele dalam format stres yang wajar di tengah masyarakat. Padahal, depresi dan segala tetek-bengeknya ialah ‘pembunuh’ diam-diam.

Hampir satu dasawarsa sudah Kemangi-bukan nama sebenarnya-terlepas dari jerat penyakit mental satu itu. Mendapatkan diagnosis major depressive disorder atau depresi bukan perkara gampang baginya. “Kayaknya hidup saya akan berakhir saat tersebut juga,” kata dia, pada www.bocahsakti.pro/pokerace99, Rabu (9/10), dalam rangka mengenang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day diperingati masing-masing 10 Oktober saban tahun. Pada peringatan kali ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memungut tema pencegahan bunuh diri dengan aksi 40 detik. Data global menunjukkan, lebih dari 800 ribu kematian diakibatkan oleh bunuh diri masing-masing tahunnya. Angka ini setara dengan 1 kematian pada masing-masing 40 detik.

Kemangi menjadi satu dari sekian tidak sedikit pasien yang sukses melawan kemelut depresi. Penyakit mental satu tersebut telah ‘menggerogoti’ kehidupan Kemangi selama nyaris satu tahun lamanya.

Meski tak hilang sepenuhnya, sekarang Kemangi sudah kembali menjalani kehidupan laksana sedia kala. Kemangi sibuk dengan rutinitasnya sebagai pekerja ibu kota. Keluarga dan teman-teman terdekat menjadi bagian urgen dari perjuangan Kemangi melawan depresi.

Kisah berawal dari pelecehan seksual yang dirasakan Kemangi pada 2009 lalu. Peristiwa traumatis tersebut membawa wanita asal Bandung ini terjun bebas ke dalam jurang kegelapan yang memungut sebagian hidupnya.

“Sebagian hidup saya dipungut oleh peristiwa di masa lalu,” ujar Kemangi lirih.

Tawa berubah nestapa. Kemangi yang periang dan dikenal jahil, pulang menjadi sosok pemurung, rendah semangat, dan sering mengamuk tak karuan.

Beberapa episode kalut dialaminya. Menangis terisak-isak di dalam kamar ialah hal biasa. Sesekali dipukulnya pula cermin yang menempel di dinding kamarnya sampai retak. Polahnya tak karuan.

“Enggak kekontrol,” kata Kemangi mengenang waktu suramnya.

Aktivitas kuliah dan kisah hura-hura di masing-masing sudut tongkrongan Kota Bandung juga sirna untuk Kemangi. Dia unik diri dari lingkungan sosial.

Alih-alih bergaul, Kemangi malah mengurung diri di dalam ‘kandang’ berukuran 2×3 meter, yang tak lain ialah kamar pribadinya. Memandangi cahaya matahari yang pelan-pelan merasuk melewati celah kecil dari tirai jendela yang tidak jarang tertutup. Atau, memelototi semut-semut kecil yang saling bersalaman ketika bertemu. Depresi pun membuatnya mesti mengambil libur kuliah sekitar satu semester lamanya.

Depresi, atau yang dalam istilah medis dinamakan major depressive disorder, adalahsalah satu penyakit mental yang lazimnya ditandai oleh rasa kecil hati secara intens. Satu dari lima orang di dunia merasakan depresi pada etape tertentu kehidupan mereka.

Banyak hal yang mengakibatkan depresi. Mulai dari genetik, stres berlebih, sampai peristiwa traumatis yang dialami. Faktor terakhir menjadi penyebab utama yang merangsang depresi pada Kemangi.

Pasien bakal merasa tak berdaya, putus asa, dan kehilangan motivasi terhadap apa pun. Beberapa pasien bahkan mengalami khawatir berlebih yang diiringi rasa kalut sebagaimana pada Kemangi. Depresi yang tidak ditangani bisa berujung pada gagasan bunuh diri.

“Kalau enggak terdapat ibu, barangkali saya telah berniat bunuh diri,” kata Kemangi. Sang ibu ialah orang kesatu yang menyadari evolusi pada dirinya. Sang ibu pula yang membawanya berobat ke psikiater.

Berbulan-bulan dilewati Kemangi dengan meneguk obat-obatan yang diresepkan dokter. Sejumlah pertemuan psikoterapi juga harus dilakoninya. “Capek,” kata Kemangi.

Tujuh bulan berjalan, Kemangi berhenti menjalani penyembuhan atas keputusan dokter. Meski rasa kalut tersebut terkadang muncul, tapi sokongan yang diserahkan lingkungan terdekat menciptakan Kemangi perlahan bangkit.

Malu-malu dia memasuki ruang belajar kuliah. Beruntung terdapat sang kawan yang setia menemani. Selama Kemangi berusaha melawan depresi, ada sejumlah sahabatnya yang datang berangjangsana hampir masing-masing pekan sekadar guna menemaninya mengobrol. Pada pasien gangguan mental, sokongan dari lingkungan terdekat menjadi hal penting yang dapat menolong mereka terlepas dari jerat depresi.

Namun, bangkit dari depresi dan membalikkan hidup laksana sedia kala bukan perkara mudah. Rasa kalut sering menyelimuti Kemangi dalam sejumlah waktu.

Dibutuhkan kekuatan tambahan untuk akhirnya terbit dari ‘kandang’ dan pulang berada di tengah-tengah lingkungan sosial.

Pada sejumlah waktu, Kemangi bahkan bergidik masing-masing kali puluhan sampai ratusan pasang mata melihatnya. Dia merasa tak layak berada di tengah lingkungan sosial.

“Saya merasa laksana terlalu hina guna berada salah satu mereka,” kata Kemangi. Rasa trauma membuatnya merasa rendah diri.

Hari-hari terus berjalan. Ibarat bayi, Kemangi pelan-pelan ‘merangkak’ maju. Pertemuan bareng orang-orang baru membawanya pada satu titik evolusi yang signifikan.

Di tengah usahanya guna bangkit, Kemangi diperkenalkan dengan seorang lelaki bertubuh gempal, berambut gondrong, dengan janggut panjang. “Saya memanggilnya Kang Owi,” kata Kemangi sambil tertawa.

Owi ialah seorang mantan pengamen jalanan. Bersama Owi dan teman-teman barunya, motivasi Kemangi guna bangkit makin terpacu. Ada motivasi hidup baru yang diam-diam dialami Kemangi.

Kemangi ikut melatih anak-anak di atas jembatan rongsok di di antara sudut Kota Bandung. “Saya pun pernah ikut teman-teman ngamen. Haha,” kenangnya bahagia. Tak hanya itu, Kemangi pun kerap melukis bareng teman-teman barunya.