Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur

Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur

Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur

 

Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur

Bali, Lombok, atau Raja Ampat telah lama familiar dengan keindahan area pesisir. Namun harga tiket pesawat yang mahal membuat tidak sedikit turis, khususnya kaum millennial, jadi membatalkan niatnya untuk merasakan ‘vitamin sea’.

Sebenarnya bila punya dana terbatas, turis masih dapat menjelajahi pantai-pantai yang terdapat di Banyuwangi. Di samping dengan pesawat, dari Jakarta pulau yang berada di unsur timur Jawa ini dapat didatangi dengan menumpang kereta atau sambung menyambung bus. Petualangan jalur darat menjadi nilai lebihnya.

Banyuwangi mempunyai sejumlah pantai yang sudah dikenal oleh wisatawan, mulai dari Pantai Pulau Merah, Pantai Sukamade, Teluk Hijau, dan sebagainya. Di samping menyelam, turis juga dapat memancing hingga berselancar di sini.

Jika punya masa-masa singkat guna berwisata di Banyuwangi setelah mendatangi Kawah Ijen atau Taman Nasional Baluran, tidak terdapat salahnya bertandang ke Pantai Boom.

Mungkin belum tidak sedikit orang yang tahu mengenai Pantai Boom. Maklum saja, pantai ini dulunya memang sepi dan ketika ini baru dalam etape proses pengembangan pariwisata.

Pantai Boom diketahui dikelola oleh PT Pelindo III. Hal tersebut karena mulanya area tersebut adalahdermaga atau pelabuhan guna kapal-kapal pengangkut barang.

Tiba di sana, ada suatu loket penjualan tiket. Saat itu, saya harus merogoh kocek sebesar Rp10 ribu, telah termasuk tiket masuk dan parkir mobil.

Melewati gerbang, saya disambut dengan suatu monumen besar bertuliskan ‘Pantai Boom’.

Di dekat tempat itu, ada dermaga yang menjadi bersandar kapal-kapal pengangkut barang. Sementara di pinggir dermaga, terdapat sebanyak kursi dan payung, tempat semua penjual menjajakannya barang dagangannya.

Dari informasi yang saya peroleh dari www.bocahsakti.pro/pokerace99, katanya lokasi tersebut nantinya akan dibangun suatu resor dan akan dilengkapi dengan dermaga guna berlabuh kapal-kapal pesiar.

Di seputar lokasi itu, pun ada gudang kuno. Konon katanya, gudang tersebut ada semenjak zaman VOC, alias semenjak zaman penjajahan Belanda dulu.

Namun, sekarang gudang tersebut sudah tak difungsikan lagi. Pintunya juga digembok rapat. Padahal saya penasaran hendak melihat laksana apa unsur dalam gudang itu. Saya juga hanya dapat mengelilingi gudang tersebut dari luar saja.

Setelahnya, saya langsung bergegas ke tempat utama yang hendak saya tuju, yaitu Pantai Boom.

Hari itu, keadaan di sana terbilang sepi sebab saat saya ke sana bukan hari libur. Sehingga memang tak tidak sedikit wisatawan yang berlibur di sana.

Pantai Boom mempunyai pasir berwarna hitam. Di pinggiran pantainya, berjejer sebanyak kursi payung. Cocok untuk merasakan semilir angin pantai, tetapi tak hendak menghitam sebab sinar matahari. Apalagi, andai didampingi dengan es kelapa muda.

Dari tepi pantai kita dapat langsung menyaksikan Pulau Bali secara jelas. Benar-benar terdapat di depan mata. Kita dapat melihat perbukitan di sisi barat dan unsur utara Pantai Bali.

Ada satu urusan yang unik, andai jam di ponsel kita ditata secara otomatis mengekor zona masa-masa di mana anda berada. Maka jam di ponsel anda secara otomatis akan mengekor zona masa-masa Bali ketika kita berada di ambang pantai. Dua masa-masa di satu tempat, ajaib!

Sebab, konon katanya, andai kita berada di ambang pantai, saat tersebut kita sedang di ujung sangat timur Pulau Jawa.

Di pantai ini, sejumlah pesta rakyat juga sering diselenggarakan. Banyuwangi sendiri memang dikenal sebagai kota festival, saking banyaknya pesta rakyat yang dilangsungkan tiap tahunnya.

Beberapa pesta rakyat yang diadakan di Pantai Boom yaitu Beach Jazz Festival, Gandrung Sewu, dan sebagainya.

Tak melulu hamparan pasir dan kursi payung yang berjejer saja, di di antara sudut ada semacam monumen berbentuk sayap.

Lokasi itu, sering dijadikan sebagai salah spot foto kesayangan para wisatawan. Bagaimana tidak, andai kita berfoto di tengah sayap tersebut, akan menghasilkan potret seolah-olah anda mempunyai sebuah sayap.

Di samping itu, anda juga dapat menjelajahi hamparan pasir hitam di Pantai Boom dengan menunggangi kuda. Lumayan, guna menghemat tenaga andai tak hendak menyusuri garis pantai dengan berlangsung kaki.

Bila perut mulai merasa lapar pun anda tak butuh khawatir. Ada lokasi kantin yang menyajikan sekian banyak makanan yang letaknya tak jauh dari pantai.

Pemandangan sore di pantai ini pun menjadi momen yang patut guna dinantikan. Jika punya waktu pasti saja.