Mantan Napi Teroris Siap Gelar Upacara 17 Agustus di Lamongan

Mantan Napi Teroris Siap Gelar Upacara 17 Agustus di Lamongan

Mantan Napi Teroris Siap Gelar Upacara 17 Agustus di Lamongan

bendera

Sejumlah mantan narapidana teroris (Napiter) dan mantan kombatan yang bernaung di Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) besutan Ali Fauzi Manzi, adik kandung Amrozi, pelaku Bom Bali I, akan menggelar upacara bendera 17 Agustus 2019 dalam rangka HUT RI di Lamongan, Jawa Timur.

“Yayasan Lingkar Perdamaian dalam menyambut HUT RI ke 74 di halaman asrama YLP pada tanggal 17 Agustus besok, jam 08.30 WIB, akan menggelar upacara bendera dan ikrar sumpah setia pada NKRI,” tutur Ali Jumat (16/8/2019).

Ali menuturkan, upacara bendera HUT RI tersebut akan diikuti oleh sejumlah mantan napi teroris dan kombatan, keluarga mantan napiter anak istri mertua dan saudara, mantan donatur dan simpatisan Jamaah Islamiyah (JI) dan juga ISIS.

“Dan juga anak – anak Taman Pendidikan Al – Quran di bawah asuhan YLP serta donator YLP. Jumlah peserta upacara 235 orang,” kata dia.

Kegiatan ini hasil kerja sama yayasan lingkar perdamaian dengan Polres lamongan. Bertindak sebagai petugas upacara bendera dalam rangka HUT RI:

1. Ali Fauzi Manzi sebagai pembaca teks proklamasi

2. IRUP. Kapolres Lamongan AKBP Febby Dapot Hutagalung

3. Perwira upacara, ustad Asadullah alias ustad Sumarno (Napiter kasus bom Bali 1)

4. Komandan upacara, Yoyok Edi (Jebolan ponpes Al Islam mantan anggota JI)

5. Pengibar Bendera A. Saiful Abid mantan napiter kasus penembakan polisi di Poso. B. Hendra, anak terpidana mati Amrozi C. Mustain, anak mantan napiter Norminda

6. Putagas Ikrar Sumpah Setia NKRI : Atho, Hasan, Hamim T, Azhar, Zaim, Arif, Abu Bilal, Norminda

“Tidak letih berlatih demi sebuah harapan, bahwa setiap orang baik mempunyai masa lalu dan setiap orang jahat punya masa depan. Keduanya punya kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Ali.

Jurus Polisi Cegah Paham Radikal di Lamongan

barang-bukti

Paham Radikal Mengintai Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi di Malang
Buku memuat paham radikal disita dari rumah terduga teroris di Malang, 2016 silam
Sebelumnya, Polisi berupaya menggandeng seluruh pemangku kepentingan atau tokoh masyarakat termasuk mantan narapidana terorisme untuk menangkal peredaran paham radikal di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Salah satu yang dilakukan melibatkan puluhan mantan narapidana terorisme yang tergabung dalam Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP).

Kapolres Lamongan AKBP Feby Hutagalung menuturkan, setelah bom Bali I yang pelakunya merupakan warga Lamongan, penyebaran paham itu kini di Lamongan tidak signifikan. Namun, polisi tetap berupaya dengan menggandeng seluruh pemangku kepentingan atau tokoh masyarakat, termasik mantan narapidana terorisme.

“Ada Yayasan Lingkar Perdamaian yang didirikan BNPT di mana itu cukup efektif menggandeng mantan napiter untuk direkrut bergabung sehingga mereka terakomodasi dalam satu komunitas,”
tutur Feby Minggu, 28 Juli 2019.

Ada wadah yang bersifat kekeluargaan diyakini membawa pencerahan dan pemberian wawasan kebangsaan yang cukup efektif sehingga terjadi perubahan pandangan.

“Salah satu tujuannya menjauhkan mantan anggota dari sifat destruktif,” ujar Feby.

Meski begitu, Feby menyebut terdapat daerah rawan yang terus diawasi untuk mencegah adanya aksi amaliah. “Kekhususan tidak bisa saya sebut. Memang ada beberapa yang rawan dan masuk pantauan dari kami dan Densus 88,” ucap dia.

Total sebanyak 42 mantan napiter serta anggota organisasi radikal bergabung dengan YLP. Bahkan pada 17 Agustus 2018, semuanya mau terlibat dalam upacara, baik sebagai peserta mau pun petugas.

“Luar biasa mantan napiter awalnya dalam pikirannya Pancasila dianggap kafir, tidak sesuai pemahaman mereka, secara perlahan dengan adanya pengarahan dan bimbingan, mau melajutkan penghormatan dan menjadi petugas upacara. Meski prosesnya cukup panjang,”
tutur Feby di Lamongan.

Selain itu, belasan warga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang pernah berangkat ke Suriah, baik yang telah bergabung dengan kelompok radikal ISIS mau pun yang dideportasi sebelum sampai terus diawasi pergerakannya.

“Kami memantau keberadaan mereka melalui Bhabinkamtibmas dan baur pengumpulan bahan dan keterangan tingkat polsek,” tutur Kepala Kepolisian Resor Lamongan AKBP Feby Hutagalung di Mapolres Lamongan, Jumat.

Polres Lamongan disebutnya juga bekerja sama dan berkoordinasi dengan pemerintah dan tokoh agama untuk melakukan pendekatan halus secara simultan sejak belasan warga tersebut kembali ke Lamongan pada 2015.

Selama tiga tahun melakukan pendekatan dinilainya kurang efektif karena para kombatan yang bergabung dengan ISIS itu tertutup dengan orang di luar kelompoknya.

“Kendalanya mereka cenderung tertutup sehingga upaya-upaya lain melalui teman-teman mantan napiter juga dimaksimalkan untuk melakukan pendekatan juga,” kata Feby.

Untuk itu, selama setahun terakhir, pendekatan semakin diintensifkan melalui berbagai kegiatan dengan melibatkan mantan napiter yang sudah aktif melakukan kontra radikal.

Feby yakin pendekatan manusiawi yang menyentuh dan menyerap aspirasi kelompok tersebut atas keinginannya di Lamongan lambat laun akan menunjukkan hasil. Ada pun pada 2015, terdapat dua perempuan dewasa dan anak-anaknya yang hendak ke Suriah, tetapi tertangkap oleh aparat Turki dan kemudian dideportasi ke Indonesia. Semuanya merupakan keluarga.

Salah seorang suaminya masuk ke Suriah dan bergabung dengan ISIS, sementara suami perempuan lainnya meninggal saat dilakukan upaya penangkapan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri pada 2013. Selain satu keluarga tersebut, pada 2016 terdapat seorang remaja yang kedua orangtuanya lolos masuk ke Suriah sehingga harus tinggal dengan neneknya di Lamongan.