Legalisasi Ganja Dinilai Bisa Mengentaskan Kemiskinan di Aceh

Legalisasi Ganja Dinilai Bisa Mengentaskan Kemiskinan di Aceh

Legalisasi Ganja Dinilai Bisa Mengentaskan Kemiskinan di Aceh

Legalisasi Ganja Dinilai Bisa Mengentaskan Kemiskinan di Aceh

Anggota DPR RI Dapil Aceh 1, Rafli, memberi usulan yang tak lazim, yaitu melegalisasi ganja untuk dijadikan komoditas ekspor. Daerah yang paling pas jadi pilot project tak liyan Serambi Makkah, gara-gara hanya di provinsi itu ganja bisa tumbuh subur.

Menurut legislator dari Komisi VI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, ganja berpotensi jadi keliru satu produk unggulan Indonesia untuk bahan baku medis yang bisa dijual ke pasar-pasar internasional melalui perjanjian perdagangan bebas.

Dia menawarkan konsep legalisasi ganja yang diharap bisa disempurnakan kembali, sejalan munculnya pro-kontra sesudah usulan yang ditawarkannya di didalam rapat bersama dengan kementerian terkait, Kamis (30/1/2020) jadi sorotan. Di didalam rapat itu turut dibahas pula berkenaan koordinasi antarkementerian berkaitan bersama dengan jaminan pemasaran hasil pertanian di daerah.

“Penetapan zonalisasi pilot project industri ganja Aceh untuk kebutuhan medis dan turunannya, dijadikan kawasan tertentu di Aceh yang selama ini ganja bisa tumbuh subur,” kata Rafli”

Program selanjutnya menurutnya bisa berhasil kecuali pemerintah melahirkan mekanisme yang tersistem. Ia termasuk mempercontohkan bagaimana negara maju gunakan ganja untuk keperluan medis. Di Indonesia, perihal selanjutnya terbentur oleh UU terkait  Ludoqq Domino99.

“Di Negara kita, hanya terbentur UU No. 35 Tahun 2009 pasal 8 ayat 1 berkenaan narkotika golongan I tidak boleh digunakan untuk kebutuhan medis,” sebut Rafli.

Dia menambahkan, seluruh lembaga berkaitan bisa diajak untuk mengegolkan program legalisasi ganja kecuali pemerintah sudi menyeriusi usulannya. Dengan catatan, pengelolaannya kudu bijaksana, di mana seluruh celah penyalahgunaannya ganja ditutup rapat.

“Secara hukum agama, tumbuhan ganja pada dasarnya tidak haram, yang haram adalah penyalahgunaannya,” tukas dia.

Didompleng Pendapat Profesor Unsyiah

Satu hari sesudah usulan Rafli, nampak diskusi terbuka bertajuk ‘potensi industri ganja Aceh sebagai kiat pengentasan kemiskinan.’ Diskusi itu diselenggarakan di Banda Aceh, menghadirkan seorang profesor dari Universitas Syah Kuala.

Profesor Musri Musman, didalam diskusi di Kamp Biawak itu disebut sebagai ‘peneliti ganja.’ Di sampingnya duduk seorang pegiat dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN).

Liputan6.com menghubungi Prof. Musman via kelanjutan telepon, terhadap malam harinya. Yang menarik, pandangannya bagaimana ganja bisa merubuhkan tembok kemiskinan di area yang didaulat sebagai provinsi berada di kronologis keenam termiskin senasional oleh Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini.

Musman mendompleng pernyataan Rafli bagaimana ganja dijadikan sebagai komoditas ekspor untuk bahan baku medis. Ia menyatakan bahwa badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat (Food plus Drug Administration/FDA) sudah setuju bersama dengan pemanfaatan epiodiolex yang merupakan turunan dari ganja-versi sintetis-untuk obat epilepsi berat terhadap 2018.

Sekarang ada dua obat berbasis ganja yang sudah disetujui oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat untuk pasien kanker, yakni, Nabiximols, dan Sativex, di Inggris. Sativex sendiri digadang-gadang sudah digunakan untuk menanggulangi pasien kanker di Inggris, Spanyol, Itali, dan Jerman.