Lebaran New Normal Saat Tak Ada Takbir Keliling dan Sholat Ied di Masjid

Lebaran New Normal Saat Tak Ada Takbir Keliling dan Sholat Ied di Masjid

Lebaran New Normal Saat Tak Ada Takbir Keliling dan Sholat Ied di Masjid

Lebaran New Normal Saat Tak Ada Takbir Keliling dan Sholat Ied di Masjid

Karena wabah virus corona, Indonesia masuk terhadap model Lebaran new normal. Lebaran tak biasa, penuh bersama dengan pembatasan fisik.

Tidak ada ulang takbir keliling dan halal-bi-halal usai sholat Idul Fitri. Sebagian besar area bahkan melewatkan sholat Ied berjamaah. Namun tak menyurutkan upaya menyemarakkan Lebaran bersama dengan bervariasi cara. http://68.183.234.248/sultan99/

Suasana takbir keliling di kota Banda Aceh terhadap th. selanjutnya amat meriah. Takbir yang dijalankan bersama dengan parade mobil hias keliling kota, diikuti anak-anak yang berlarian ikuti bersama dengan kembang api. Kini cuma kerinduan yang dirasakan warga Aceh dan warga Muslim di Indonesia terhadap umumnya, yang tak ulang sanggup merayakan tradisi-tradisi seperti ini sebab merebaknya pandemi virus corona.

Pemerintah melarang takbir keliling, sholat Idul Fitri berjamaah di masjid dan lapagan, sampai halal-bi-halal yang sering mewarnai lebaran setelah sebulan penuh berpuasa; untuk menghambat meluasnya perebakan virus corona.

“Sekarang kita cuma sanggup membawa dampak mobil hias untuk takbiran di masjid masing-masing dan mengumandangkan takbir bersama dengan selalu memperhatikan jarak yang aman,” kata Al Kautsar.

Sepanjang bulan Ramadan selanjutnya Muhammad Al Kautsar bersama dengan lebih kurang 50an anak muda secara bergantian membangunkan warga untuk sahur dari masjid kecil di kotanya.

Ia tetap menghendaki besar sanggup sholat Idul Fitri berjamaah di masjid bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, tetapi sampai dua hari sebelum akan lebaran, pandemi tak juga berakhir.

Meskipun Aceh juga provinsi bersama dengan persoalan corona yang kecil, tetapi ia tak berkenan ambil risiko. Al Kautsar menentukan ikuti arahan pemerintah untuk tidak berkumpul didalam jumlah besar dan cuma menggelar takbiran di masjidnya saja, tidak berkeliling kota lagi.

Hal senada dijalankan Gusti Aldi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

“Kemeriahan cuma dirasakan didalam keluarga kecil saja. Kemeriahan lebaran tidak merasa bagi penduduk luas sebab pelaksanaan sholat Ied tidak dijalankan di masjid dan lapangan peranan menangkal perebakan Covid-19. Tidak sedikit warga yang memutuskan tidak mampir ke kerabat mereka meski tetap didalam satu kota,” kata Aldi.

Evi Tampakatu, warga di Poso Kota, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah juga merubah kebiasaannya membawa dampak kue atau belanja lebaran sebab Covid-19.

“Kalau th. selanjutnya sejak awal puasa kita sudah buat persiapan bahan-bahan untuk membawa dampak kue lebaran, zakat untuk anak-anak; kali ini kita mengurangi. Kalau pernah kue sampai 10-15 toples, sekarang cuma lima toples. Kami juga berikan pengertian terhadap anak-anak jikalau sekarang tidak sanggup pergi belanja baju dulu,” kata Evi.

Meskipun demikian, Aldi dan Evi mengatakan amat bersyukur mereka sekeluarga selalu sehat wal’afiat di sedang pandemi ini.

Rasa syukur yang juga dipanjatkan Irfan, seorang pengungsi di kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak th. 2018 ia terpaksa hidup di tenda pengungsian setelah rumahnya hancur didalam musibah gempa bumi dahsyat disaat itu.

Irfan yang tinggal bersama dengan empat anak, juga dua yang tetap berusia di bawah lima tahun, selalu merasa bersyukur keluarga kecilnya sehat waafiat dan tetap sanggup bersama di hari penuh rahmat ini.

“Masih alhamdulillah lebaran ini pun kita tetap bersama dengan keluarga, walau tinggal di shelter. Kami ada enam orang didalam satu tenda, empat anak dan istri. Tenda ini ukuran 3X5 meter. Saya sambung bersama dengan tenda-tenda terpal supaya memenuhi enam orang. Kalau untuk sementara ini alhamdulillah bocor-bocor semua,” kata Irfan.

Idul Fitri kali ini memang amat jadi ujian bagi semua. Ingat ini sebagai langkah kita mensucikan diri, sebagaimana makna memang bulan suci Ramadan.