Lari dari Kenyataan adalah Bentuk Gangguan Mental Ini Penjelasannya

Lari dari Kenyataan adalah Bentuk Gangguan Mental Ini Penjelasannya

Lari dari Kenyataan adalah Bentuk Gangguan Mental Ini Penjelasannya

Lari dari Kenyataan adalah Bentuk Gangguan Mental Ini Penjelasannya

 

Semua orang pernah menyebabkan kesalahan, dikarenakan tidak ada manusia yang sempurna. Yang membedakan adalah, respons setelah menyebabkan kesalahan itu; apakah rela mengaku salah atau jadi tidak mengakuinya, supaya lari dari tanggung jawab.

Penting diketahui, lari dari tanggung jawab setelah menyebabkan kesalahan tandanya ada “konstitusi psikologi” yang lemah. Bagaimana penjelasannya?
Lari dari kenyataan, ternyata problem mental Cerdaspoker DominoQQ
Jika seseorang punya konstitusi psikologi yang lemah, itu tandanya, mengaku salah merupakan hal yang “membahayakan” dan bisa mengancam egonya. Bahkan, ia menjadi tidak bisa mentolerirnya.Selain itu, terima fakta bahwa ia menyebabkan kesalahan, bisa menghancurkan kondisi psikologisnya. Orang-orang dengan problem mental ini condong lari dari tanggung jawab dan merubah fakta-fakta di di dalam otak mereka, untuk menjadi tidak bersalah.Lebih dari itu, orang-orang yang lari dari tanggung jawab dan tidak rela terima kesalahannya ini, akan melawan dan menyebabkan penyangkalan terkecuali orang lain selamanya mendesaknya supaya rela bertanggung jawab atau mengakui kesalahannya.Secara psikologis, mereka rapuh, sama sekali muncul amat tegas dan teguh dengan pendiriannya di dalam membela diri.Perlu diketahui, kerapuhan psikologis bukanlah sinyal dari kekuatan diri, melainkan sebuah kelemahan. Sebab, bersikeras di dalam membela diri dari kesalahan, bukanlah kemauan mereka. Hal itu terpaksa dilakukan, untuk melindungi ego semata.Jangankan mereka, individu yang sehat secara psikologis, kadang kala menjadi tidak sedap ketika harus mengakui kesalahan, tetapi bisa move on dan mengabaikan kesalahan itu, serta mengusahakan keras supaya tidak mengulanginya. Namun, lain halnya dengan orang-orang yang punya kerapuhan psikologis.
Mengapa mengakui kesalahan menjadi sulit?
Mungkin Anda pernah bertanya, mengapa mengakui kesalahan dan menjalani tanggung jawab untuk “membayar” kesalahan, begitu sulit?Carol Tavris, seorang psikolog yang menulis buku “Mistakes Were Made (But Not by Me)”, menegaskan bahwa hal itu merupakan disonansi kognitif. Kondisi ini merupakan stres yang dirasakan saat Anda memegang pendirian teguh pada dua pemikiran, keyakinan, pendapat atau sikap yang saling bertentangan. Untuk mengatasinya, orang-orang pun condong tidak mengakui kesalahan dan lari dari tanggung jawab.Pernahkah merasa, ketika rancangan diri seperti “aku pintar”, “aku baik”, dan “aku yakin bahwa ini benar”, terancam oleh hal yang perlihatkan bahwa Anda pernah laksanakan hal yang tidak pintar, atau memperlakukan seseorang dengan sikap buruk? Itulah disonansi kognitif.Disonansi bisa menjadi tidak nyaman. Itulah penyebab pembelaan diri saat seseorang berbuat salah dan lari dari tanggung jawab.
Bagaimana cara “menyembuhkan” problem mental ini?
Ketika Anda atau orang paling dekat punya problem mental ini, ada banyak sekali alasan yang bisa menyebabkan mengakui kesalahan menjadi lebih ringan, seperti tersebut ini.
Akui kesalahan
Dengan mengakui kesalahan dan berharap maaf, sampai selanjutnya bertanggung jawab, Anda bisa memperbaiki komunikasi dengan orang-orang yang dirugikan.
Ekspresikan rasa penyesalan
Anda bisa mengekspresikan rasa menyesal, untuk menyebabkan hati jadi lebih lega.
Tahu salah dan benar
Mendiskusikan berkenaan hal yang salah dan benar, dengan orang-orang yang dirugikan, supaya Anda bisa memperbaiki diri.
Belajar dari kesalahan
Mencari cara dan belajar untuk hadapi beragam macam situasi, supaya kesalahan tak diulangi lagi.
Jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan dan berharap maaf. Sebab, keempat alasan di atas, bisa menyebabkan Anda jadi individu yang lebih baik lagi, dan tidak ulangi kesalahan serupa.Jika udah bisa berlapang dada pada penilaian yang dilontarkan kepada Anda, ini saat yang tepat untuk punya quality time dengan diri sendiri. Jadi, Anda pun bisa introspeksi diri.