Korea Selatan Terkenal Dengan Operasi Rahang Dan Sesuap Kimchi

Korea Selatan Terkenal Dengan Operasi Rahang Dan Sesuap Kimchi

Korea Selatan Terkenal Dengan Operasi Rahang Dan Sesuap Kimchi

 

Korea Selatan Terkenal Dengan Operasi Rahang Dan Sesuap Kimchi

Cerdaspoker Domino99 – Kurang lebih 7 bulan saya bermukim di di wilayah Gwangjin-gu, Seoul, demi menimba ilmu di Sejong University jurusan Hospitality Tourism Management, Korea Selatan.

Di samping kuliah, saya pun mengisi masa-masa dengan bekerja paruh masa-masa di suatu restoran.

Dalam seminggu saya menguras empat hari guna kuliah (Senin – Kamis) dan tiga hari guna bekerja (Jumat – Minggu). Agodapoker

Manajemen masa-masa menjadi ilmu berharga yang saya bisa selama hidup di Negara Ginseng ini. Mirip Jepang, warga di sini pun sangat disiplin bila soal waktu.

Jika datang terlambat, mereka pasti mengindikasikan air muka kecewa, sebab mereka merasa sudah mengorbankan waktunya guna datang tepat waktu.

Di samping soal kedisiplinan waktu, wawasan saya soal kebiasaan pop Korea pun bertambah. Kelompok musik Kpop, drama seri Korea, menjadi kebiasaan hallyu yang masing-masing hari saya dengar, baca, dan lihat di media.

Keromantisan warga Korea Selatan yang nampak dalam drakor pun sepertinya benar adanya. Beberapa kali saya menyaksikan pria membawakan bunga guna pasangannya yang ditemuinya di stasiun kereta atau bandara.

Banyak yang berpikir kalau semua warga Korea berpenampilan rupawan. Tapi sebenarnya, standar ketampanan atau keelokan rata-rata orang Korea tak sesempurna yang dibayangkan.

Tak sedikit warga asli yang berwajah bulat dan bermata sipit. Untuk saya tersebut sah-sah saja, sebab malah menunjukkan keanehan dan keberagaman, sama seperti warga Indonesia yang berkulit sawo matang dan bermata bulat.

Tapi terdapat saja oppa atau nonna yang memandang bahwa wajah bulat dan mata sipit yang dimilikinya adalahsebuah kekurangan jasmani yang butuh direvisi.

Dari kabar burung yang beredar, saya mendengar bila wajah-wajah rupawan yang sering hadir di televisi dan layar lebar pun tak terhindarkan dari formalitas operasi plastik.

Operasi plastik guna mendapatkan wajah yang sempurna, kulit yang bersih, hingga tubuh yang singset memang telah menjadi rahasia umum di Korea Selatan.

Tak melulu penduduk lokal, tidak sedikit juga turis mancanegara yang sengaja datang guna melakukannya. Gangnam menjadi area populer di mana tidak sedikit sekali klinik keelokan yang melayani formalitas tersebut.

Bukan cuma wanita yang terlihat terbit masuk klinik di area ini. Para lelaki pun tampak hilir mudik.

Jadi bila melihat terdapat orang dengan perban di muka tetapi masih dapat beraktivitas laksana biasa – tak tampak sakit tertatih laksana terluka pada umumnya, dapat jadi ia baru saja mengerjakan operasi rahang atau lipatan mata, dua formalitas yang menjadi kesayangan di sini.

Di samping soal operasi plastik, warga Korea pun sangat gaya dalam urusan fesyen. Mereka terbilang paling niat guna berbusana masing-masing empat musim; gugur, salju, semi, dan panas.

Kemeja musim gugur akan bertolak belakang dengan kemeja musim panas. Begitu pun untuk hal tas dan sepatu.

Menguras dompet? Sudah pasti. Tapi beruntungnya, ada tidak sedikit cara guna bergaya di Korea, sebab di sini ada tidak sedikit area melakukan pembelian barang yang murah meriah.

Salah satunya di area Ewha Women University, Seoul, yang menjadi pusat perbelanjaan pernak-pernik fesyen trendi dengan harga harga di bawah Rp500 ribuan.

Harga dagangan di sini dapat murah, sebab pasarnya merupakan anak-anak kuliah yang bermukim di sekitarnya. Tema pakaiannya pun sangat kekinian, meski tidak boleh lupa memeriksa kualitasnya.

Jika menggali barang-barang dengan brand berkelas bisa datang ke mal besar, laksana Lotte atau Shinsaege di wilayah Gangnam.

Biaya hidup di tujuan wisata sepopuler Korea Selatan tidaklah murah, bahkan tanpa operasi plastik atau melakukan pembelian barang baju masing-masing hari. Kerja sampingan sudah tentu membantu finansial saya.

Sekali santap saya mesti menerbitkan uang paling tidak Rp60 ribu. Saya memilih santap di area kampus, sebab terbilang lebih murah. Jika santap di luar area kampus, contohnya dekat objek wisata populer, harganya tentu lebih mahal sebab sudah harga turis.

Ada satu keserupaan antara warga Korea Selatan dan Indonesia: sama-sama masih “takut” berbahasa Inggris.

Bukannya congkak atau tak mau akrab ketika disapa turis mancanegara. Penduduk Korea Selatan memang jarang yang dapat berbahasa Inggris sebab malu ditertawakan.

Untungnya di kampus tidak sedikit mahasiswa dari luar negeri, sampai-sampai bahasa Inggris menjadi bahasa yang umum digunakan.

Walau hidup di negara dengan segala perbedaan gaya hidup, fesyen, cuaca, dan bahasa, saya masih merasa kerasan tinggal di sini.

Keramahan warga Korea Selatan menciptakan saya seakan dapat menaklukkan rindu dengan kawan-kawan saya yang terdapat di Indonesia.