Kontroversi Hydroxychloroquine dan Refleksi Uji Klinis Obat

Kontroversi Hydroxychloroquine dan Refleksi Uji Klinis Obat

Kontroversi Hydroxychloroquine dan Refleksi Uji Klinis Obat

Kontroversi Hydroxychloroquine dan Refleksi Uji Klinis Obat

Perdebatan tentang uji jajaki hydroxychloroquine sebagai di antara obat guna menangani infeksi virus corona harusnya dapat menjadi mula guna mengoreksi supaya sebuah kepandaian tak berbasis pada jurnal ilmiah hasil peer review. Harapan ini diutarakan seorang profesor penyakit menular dan kesehatan global di Universitas Oxford, Peter Horby merespons kontroversi pengujian hydroxychloroquine di tengah upaya menangani wabah global Covid-19.

Pada Rabu (3/6) lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberitahukan uji jajaki klinis hydroxychloroquine akan kembali dilanjutkan sesudah sempat ditunda sementara. Penghentian ini lantaran hasil publikasi jurnal medis Lancet mengaku obat yang juga dipakai untuk malaria itu, dapat menambah risiko kematian pasien Covid-19.

Peter Horby mengungkapkan, kontroversi tersebut harus merangsang refleksi serius terhadap kualitas proses peninjauan kolega atau peer review sebuah karya tulis ilmiah.

“Publikasi ilmiah mesti ketat dan jujur. Dalam suasana darurat, nilai-nilai ini dibutuhkan lebih dari yang sebelumnya, ungkap Peter Horby dilansir dari pokergalaxy.

Ia melanjutkan, bagaimanapun keputusan guna menghentikan uji klinis berdasar pada studi pemantauan adalah, “sepenuhnya tidak bisa dibenarkan”.

Seperti diketahui, puluhan ilmuwan meragukan riset yang mengaku hydroxychloroquine dan chloroquine tak berfungsi untuk mengobati pasien Covid-19. Penelitian besar-besaran yang diterbitkan jurnal medis Lancet tersebut lantas menciptakan WHO menghentikan uji klinis obat antiviral tersebut.

Penelitian yang dipimpin Mandeep Mehra dari Brigham and Women’s Hospital di Amerika Serikat tersebut mengkaji data 96.000 pasien dari ratusan lokasi tinggal sakit dalam rentang Desember sampai April. Tim peneliti mencocokkan dengan pasien dalam satu kumpulan kontrol.

Hasil tersebut lantas menggerakkan tidak sedikit peneliti dari sekian banyak negara guna mempelajari rinci studi tersebut. Kemudian hadir nada keprihatinan dari surat terbuka kumpulan ilmuwan itu yang meragukan integritas metodologi dan data studi. Salah satunya berhubungan minimnya informasi negara dan lokasi tinggal sakit yang memberi pasokan data–yang disediakan perusahaan analisis data kesehatan berbasis di Chicago, Surgisphere.

Merespons koreksi itu Lancet kemudian menerbitkan perbaikan atas ketidakcocokan data sekaligus mengaku bahwa pihaknya menyokong perdebatan ilmiah itu beserta tinjauan independen.

Tapi polemik tentang data tersebut terus berlanjut dan pekan ini New England Journal of Medicine pun mengeluarkan keprihatinan memakai basis data Surgisphere berhubungan obat kardiovaskular dan Covid-19.

Mehra sebagai pengarang utama pada kedua studi tersebut pun mengklaim destinasi studinya sebagai auditor independen. “Untuk memverifikasi sumber data dan menilai keakuratan database dan temuan penulis,” ucap Mehra pada Rabu masa-masa setempat.