Konsumen dari Luar Negeri Terkendala Mahalnya Biaya Kirim

Konsumen dari Luar Negeri Terkendala Mahalnya Biaya Kirim

Konsumen dari Luar Negeri Terkendala Mahalnya Biaya Kirim

Konsumen dari Luar Negeri Terkendala Mahalnya Biaya Kirim

Senjaqq Domino99 -Hobi bisa mendatangkan rezeki. Setidaknya itu yang dirasakan Rais Nurhalim Kurniawan saat ini. Di sela kuliah di Universitas PGRI Semarang (Upgris), ia mengembangkan hobinya mengoleksi ikan cupang menjadi lahan bisnis. Pundi-pundi rupiah pun dihasilkan

SELAMA pandemi, ikan cupang naik daun. Banyak yang berdiam di rumah, akhirnya memelihara ikan cupang sebagai hiburan. Hal ini dibaca oleh Rais Nurhalim Kurniawan sebagai peluang bisnis. Ia yang hobi memelihara ikan cupang akhirnya belajar cara mengembangbiakkan.

“Memulai bisnis cupang karena memang awalnya hobi. Sejak 2018, saya sudah mengoleksi cupang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Awalnya, Rais –sapaan akrabnya– tidak bisa melakukan breed atau mengembangbiakkan ikan cupang. Ia pun berusaha belajar ke peternak cupang yang lebih senior. “Pengetahuan beternak cupang saya dapatkan dari seseorang yang sudah saya anggap sebagai ‘guru’. Dia juga memiliki hobi mengoleksi cupang,” ujarnya.

Saat memulai berbisnis dengan brand Kostfish, ia tak mengeluarkan modal sedikitpun. Ia hanya mengembangkan ikan cupang yang dimiliki. Lama-lama jumlahnya terus bertambah. Hingga ia pun tawarkan ke orang lain. Ia membuat line ternak sendiri.

“Di awal bisnis, saya tidak mengeluarkan modal sama sekali. Hingga akhirnya dari hobi ternak cupang tersebut saya dapat mengembangkan line ternak F2 Giant Multi Galaxy,” tutur mahasiswa Bimbingan Konseling Upgris ini.

Sebagai peternak, Rais lebih memprioritaskan bagi mereka yang melakukan pembelian dengan partai besar. “Kostfish masih dikenal sebagai petani kecil, jadi jualnya partaian. Belinya ya persepuluh, perseratus, atau perseribu ekor,” ujarnya.

Untuk omzet penjualan, Rais mengaku dalam sebulan bisa mengantongi hingga Rp 5 juta. Baginya sebagai seorang mahasiswa, jumlah itu sudah tinggi. “Alhamdulillah bisa menghasilkan uang sendiri,” akunya.

Selain ternak ikan, Cupang Kostfish juga menjual semacam jamu atau ramuan untuk ikan cupang dari ekstrak secang atau ekstrak ketapang yang juga dibuatnya sendiri.

Sedangkan untuk promosi, Rais memanfaatkan media sosial. Pemanfaatan media sosial, menurutnya, lebih mudah. Sebab, sebelumnya ia telah menjadi admin di berbagai grup penjualan cupang di Facebook. Salah satunya grup ‘Cupang Semarang Timur’ yang sudah memiliki 8 ribu anggota. “Bagi yang ingin membeli ikan cupang, dapat menghubungi melalui kontak atau alamat yang tercantum di Instagram @cupang_kostfish,” promosinya.

Diakui, terdapat kendala bagi pebisnis cupang di Kota Semarang, yaitu terkait harga jual. “Biasanya masih bisa ‘menghargai’ peternak cupang, namun problemnya kalo di Semarang malah menjatuhkan dan menutup arah ke petani. Itulah kesalahan yang kerap reseller lakukan” imbuhnya.

Rais mengakui, ia kerap mendapatkan pembeli ikan cupang dari luar negeri, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Namun Rais mengaku terkendala mahalnya biaya pengiriman. “Kita sering kebingungan, karena biaya pengiriman lebih mahal ketimbang harga ikan yang dibeli. Selain itu, kendala akses, yakni kurangnya jejaring terkait pengiriman luar negeri, serta kadang kita sudah kasih harga murah, tapi cukainya cukup besar. Itulah yang menjadi kendala konsumen luar negeri,” paparnya.

“Bisnis itu dasarnya harus suka dulu, dan seringlah belajar otodidak. Saya juga mau meluruskan bahwa bisnis tidak selalu tentang modal. Selama kita aktif mencari dan membaca peluang, bisnis bisa dilakukan. Pemuda harus kreatif dan tetap optimistis. Saya sangat terbuka jika ada yang mengajak sharing soal bisnis” katanya. (*/aro)

Status harga masih bisa menghargai petani beda namun problemnya kalo di smg malah menjatuhkan dan menutup arah ke petani. Itulah kesalahan yang kerap reseller lakukan