Kisah Viral Orang-orang Papua Buta Huruf Ditipu Pedagang Diberi Sarden Kedaluwarsa

Kisah Viral Orang-orang Papua Buta Huruf Ditipu Pedagang Diberi Sarden Kedaluwarsa

Kisah Viral Orang-orang Papua Buta Huruf Ditipu Pedagang Diberi Sarden Kedaluwarsa

Kisah Viral Orang-orang Papua Buta Huruf Ditipu Pedagang Diberi Sarden Kedaluwarsa

Kisah yang berlangsung di Papua ini begitu menyayat hati hingga yang membacanya biasanya merasakan perasaan sedih yang mirip dengan penulis cerita ini.

Lewat account Instagram @merawatpapua kisah itu dibagikan seorang yang sehari-harinya jadi guru di sebuah tempat tinggal belajar di Papua. Cerita ini kemudian viral sesudah disebar kembali oleh @hardewiputri di Twitter yang kini telah disukai lebih berasal dari 40 ribu warganet.

Awalnya, @merawatpapua bercerita bahwa kala ia sedang berada di Wamena, ia sempat bersua dengan seorang papa kala idamkan belanja sekaleng ikan sarden. Namun, kala lihat tanggal kedaluwarsa yang tertera, ternyata sarden itu telah tidak layak mengonsumsi agar ia berharap untuk ditukar. http://68.183.234.248/sultan99/

Bapak di sebelahnya pun bingung mengapa ia berharap sarden itu ditukar. Setelah dijelaskan bahwa ikan itu telah melalui tanggal layak konsumsinya, si papa berharap tolong untuk dicek tanggal terhadap kaleng yang telah dibelinya. Ternyata, ikan sarden itu terhitung telah kadaluarsa agar ia berharap untuk ditukar juga.

Setelah si papa pergi, sang penjual memberi salam @merawatpapua. “Kalau senang komplain jangan di depan mereka,” tegur pemilik. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang Papua asli.

Kemudian, ke dua kalinya berlangsung kala ia menjumpai seorang papa yang menjajakan TGC seberat 10 kilogram, tapi cuma dibayarkan senilai 7 kilogram oleh pembelinya. ]TGC merupakan style kayu gaharu yang terkenal dibuat jadi gelang di Papua.

Peristiwa mirip terhitung berlangsung kala tetangganya mendatangi kediamannya sesudah baru saja pulang berasal dari pasar. Ketika sedang mengobrol dan share rumor hangat dengan sebutan lain gosip, tetangganya itu kemudian iseng menaruh beras yang baru saja dibelinya di atas timbangan yang tersedia di tempat tinggal @merawatpapua.

“Beratnya berapa?” bertanya dia. “Satu kilo tujuh ons,” jawabnya.

“Apa artinya?”

“Artinya beras tidak hingga dua kilo.”

Mendengar hal itu, tetangganya kemudian marah besar. Pasalnya, ia membayar untuk beli beras sebanyak 2 kilogram. Lantas, ia segera kembali ke toko dan komplain terhadap si penjual.

Namun keesokan harinya, penjual selanjutnya justru memberi salam @merawatpapua. “Tidak usah ajar-ajar dia orang, dia orang sepanjang ini buta huruf, tidak tau baca tidak tau berhitung, apalagi timbang menimbang.”

Ketika diomeli, ia cuma diam saja untuk hindari perselisihan lebih lanjut. Menurutnya, penduduk Papua yang buta aksara seringkali ditipu, baik oleh para pengusaha, pejabat, apalagi kepala desanya sendiri.

Berdasarkan knowledge berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, per 2018 tetap tersedia enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksaranya lebih berasal dari empat persen. Papua menempati peringkat pertama dengan takaran 22,88 persen penduduknya tetap buta huruf.

Sementara itu, lima provinsi lainnya adalah Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

Untuk menangani hal ini, Kemendikbud memiliki program pendidikan keaksaraan yang dibagi jadi dua yaitu pendidikan keaksaraan dasar dan lanjutan.

Pendidikan keaksaraan dasar bertujuan sebagai fasilitas pendidikan bagi orang dewasa usia 15 tahun ke atas yang buta aksara latin agar memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, berbahasa Indonesia, dan menganalisa. Sedangkan pendidikan keaksaraan lanjutan untuk mengembangkan kompetensi bagi warga penduduk pasca pendidikan keaksaraan dasar. Informasi selengkapnya dapat dibaca DI SINI.

Menanggapi kisah di atas, banyak netizen yang kecewa dengan warga Papua yang memakai isu selanjutnya untuk keuntungan pribadi.