Kisah Pasar Ekstrem Tomohon Secuplik Perlawanan dan Lelucon

Kisah Pasar Ekstrem Tomohon Secuplik Perlawanan dan Lelucon

Kisah Pasar Ekstrem Tomohon Secuplik Perlawanan dan Lelucon

Kisah Pasar Ekstrem Tomohon Secuplik Perlawanan dan Lelucon

PESIARQQ – Tomohon ialah kota kecil nan dingin di Kabupatan Minahasa, Sulawesi Utara. Jaraknya kira-kira satu jam perjalanan dari Manado dengan memakai kendaraan bermotor. Ruas jalan yang menyambungkan kedua kota ini berkelok-kelok, melalui Pineleng (tempat pengasingan Tuanku Imam Bonjol) dan Kinilow (pernah menjadi markas Permesta).

Sejak dulu, Tomohon ialah salah satu kota pelajar di Sulawesi Utara. Meski kecil, kota ini telah memiliki sekolah setingkat SMA, yaitu Algemene Middelsbare School (AMS). Di samping itu, Tomohon pun mempunyai sekolah setingkat SMP dan SD, yakni Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Hollandsch Inlandsche School (HIS).

Kini, di kota ini ada Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sekolah Tinggi Teologi, Fakultas Psikologi dan PGSD dari Universitas Negeri Manado (UNIMA), dan kampus-kampus lainnya. Di kota ini, sejumlah orang terkemuka Minahasa pernah bersekolah, salah satunya ialah pelukis Henk Ngantung yang pernah menjadi Gubernur Jakarta.

Namun, kiwari Tomohon malah terkenal sebab keberadaan pasar fanatik yang menjual sekian banyak daging hewan yang di sejumlah wilayah tidak lazim dikonsumsi. Nama sah pasar tersebut ialah Pasar Beriman Kota Tomohon. Jika kita mengetik kata “Tomohon” di mesin pencari, maka yang kesatu muncul ialah gambar dan tulisan tentang pasar tersebut.

Sejumlah fauna yang dagingnya dipasarkan di pasar ini di antaranya ialah kucing, anjing, tikus hutan, kelelawar, dan ular. Sebagian besar telah dipanggang, melulu ular piton yang masih berupa potongan daging mentah.

Salah satu fauna yang dagingnya telah dilarang guna diperdagangkan sampai-sampai tak gampang ditemukan ialah monyet. Meski demikian, kata seorang supir taksi di Tomohon yang saya ajak bicara pada 2018, daging monyet masih dapat ditemukan di pasar sebelum hari terang.

Di samping di Tomohon, ada sejumlah tempat yang pun menjual daging ular piton, salah satunya di Terminal Malalayang, Kota Manado. Di sana pun terdapat sebanyak restoran yang menyajikan makanan olahan dari hewan-hewan tersebut.

Ular Piton yang biasa dinamakan patola, sering dimasak sebagai makanan bersantan atau sate. Hewan ini agak susah ditemukan di Sulawesi Utara sampai-sampai harus disuplai dari Sulawesi Tengah. Dan kelelawar juga seringkali diolah dengan bumbu santan yang mempunyai nama paniki. Di samping itu, ada pun olahan tikus hutan yang dinamakan kawok.

Alex Mendur, salah seorang pemotret momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang menegakkan IPPHOS, seperti disalin dalam kitab Alexius Impurung Mendur (1986:9), saat bocah tidak jarang mengonsumsi fauna tersebut:

”Alex Mendur suka berburu tikus kebun (tikus hutan) bareng teman-temannya. Begitu bisa lalu dihanguskan dan dimakan.”

Perang, Lelucon, dan Pembelahan

Kebiasaan mengonsumsi hewan-hewan yang tak lazim dimakan, menolong orang Minahasa saat harus bertahan di hutan. Pada era konflik bersenjata tahun 1950-an, orang-orang Minahasa yang menjadi gerilyawan–baik dalam Pasukan Pembela Keadilan (PPK) pimpinan Jan Timbuleng maupun Permesta pimpinan Vintje Sumual–mampu bertahan hidup dengan logistik yang terbatas.

Sebuah misal disampaikan oleh Rudy Manoppo, salah seorang pengekor Permesta yang belakangan masuk Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang angkatan 1962. Dalam kursus kecabangan infanteri, laksana ada dalam kitab Kompi Sulhaspati: Pengabdian dan Perjuangan (2002: 320), Rudy memberikan misal bertahan hidup di hutan dengan memakan monyet dan ular.

Kebiasaan mengonsumsi hewan-hewan ini lantas melahirkan sebanyak lelucon. Salah satunya ialah ungkapan bahwa “semua yang dapat terbang asal bukan pesawat, seluruh yang melata asal bukan kereta api, dapat dimakan oleh orang Minahasa”.

Sejak lama, hewan-hewan tersebut sudah jadi santapan orang Minahasa, bahkan sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Sulawesi Utara. Sebagian orang Kristen yang tidak mengharamkan makanan ini lantas melanjutkan kelaziman tersebut.

”Jelas bahwa makanan membelah antara Kristen-Minahasa dan Islam,” tulis Nono Sumampouw dalam bukunya Menjadi Manado: Torang Samua Basudara, Sabla Aer, dan Pembentukan Identitas Sosial (2018:11).

Namun ia menegaskan bahwa urusan tersebut terjadi melulu dalam soal makanan, bukan membelah Minahasa secara luas. Di samping orang Islam, menurut keterangan dari Roger Allan Kembuan, sejarawan dan pengajar di Universitas Sam Ratulangi, pengikut Kristen Advent pun tidak mengonsumsi hewan-hewan tersebut.