Ketika Guyonan Ole Gunnar Solskjaer Jadi Kenyataan

Ketika Guyonan Ole Gunnar Solskjaer Jadi Kenyataan

Ketika Guyonan Ole Gunnar Solskjaer Jadi Kenyataan

Ketika Guyonan Ole Gunnar Solskjaer Jadi Kenyataan

Ini seperti tradisi di Manchester United. Kami tidak pernah memudahkan diri kami sendiri. Sepanjang sejarah, kami selalu menunggu sampai laga pemungkas.’’ Ucapan manajer United Ole Gunnar Solskjaer sebelum menghadapi RB Leizpig (RBL) kemarin (9/12) itu sejatinya dimaksudkan sebagai guyonan di hadapan awak media. Daftar di sini

Guyonan Solskjaer tersebut terealisasi di Red Bull Arena, kandang RBL. United menyulitkan diri sendiri dengan kebobolan dua gol hanya dalam 13 menit awal. Bahkan, The Red Devils bisa tertinggal tiga gol dalam setengah jam permainan seandainya gol Willi Orban tidak dianulir wasit.

Peluang United yang sejatinya hanya butuh hasil seri untuk lolos ke babak 16 besar bisa dibilang musnah setelah gol pemain pengganti Justin Kluivert di menit ke-69.

United memang sempat memperkecil skor melalui eksekusi penalti Bruno Fernandes (80’) dan gol bunuh diri Ibrahima Konate (82’). Tetapi, tidak ada gol menit akhir seperti yang mampu dilakukan United ke gawang Brighton & Hove Albion, Newcastle United, Everton, dan Southampton FC di Premier League.

Bukan meneruskan tradisi, Solskjaer kini malah mematahkan tren United yang selalu lolos ke fase knockout dalam dua partisipasi sebelumnya. Masing-masing melaju ke 16 besar pada 2017–2018 dan perempat finalis di 2018–2019.

Seiring dipastikan finis ketiga di grup H, The Red Devils akan melanjutkan kiprah di Eropa dengan berlaga dalam fase knockout (32 besar) Liga Europa. Musim lalu, United juga berlaga di Liga Europa dan melaju sampai semifinal.

Duo pandit yang mantan pemain United, Rio Ferdinand dan Paul Scholes, sepakat bahwa Solskjaer telah menyulitkan diri sendiri gara-gara perubahan taktik. United yang terbiasa bermain dengan empat bek memilih bermain dengan tiga bek (3-4-1-2). Luke Shaw menemani Harry Maguire dan Victor Lindelof di belakang, sedangkan bek kanan Aaron Wan-Bissaka dan Alex Telles (kiri) naik sebagai gelandang.

Di sisi sebaliknya, der trainer RBL Julian Nagelsmann malah berani meninggalkan skema ”standarnya” dengan tiga bek jadi lebih agresif dengan mengusung 4-3-3.

Skema tiga bek Solskjaer mungkin tidak masalah seandainya komposisi pemainnya tepat. Tapi, menempatkan Wan-Bissaka yang dikritik fans tidak bisa melakukan crossing sebagai gelandang kanan adalah blunder.

Alhasil, sektor kanan United sering ditembus, termasuk oleh gol bek kiri RBL Angelino saat laga baru berjalan dua menit. ”Ole semestinya segera melakukan perubahan dan bukan menunggu setelah turun minum (United kembali bermain dengan empat bek setelah Alex Telles digantikan gelandang Donny van de Beek, Red),” kata Scholes kepada Manchester Evening News.

Scholes pun sepakat dengan ucapan Roy Hodgson, pelatih dari klub Wan Bissaka sebelumnya, Crystal Palace. Hodgson memang sudah lama merekomendasikan kepada Solskjaer untuk mencoba Wan-Bissaka sebagai bek tengah karena memiliki kemampuan bagus dalam tekling/sapuan bola.

Bukan malah menjadikan Shaw sebagai bek tengah yang notabene punya naluri ofensif. Keputusan meminjamkan bek kanan Diogo Dalot ke AC Milan juga membuat United malah tidak punya opsi berbeda (agresif) untuk bek kanan. Timothy Fosu-Mensah sama bertahannya dengan Wan-Bissaka.

’’Mereka (United, Red) kelihatan seperti tim yang tidak tahu bagaimana caranya memaksimalkan para bek,’’ kritik Ferdinand kepada BT Sport. ”Mereka lemah dalam mempertahankan crossing-crossing lawan,’’ imbuh mantan bek sekaligus kapten United tersebut.

Maguire sebagai kapten United tidak memungkiri buruknya pertahanan United melawan RBL. Bek termahal dunia itu beberapa kali menunjukkan gestur kesal dan kecewa dengan koordinasi lini belakang yang amburadul.

’’Pada 20 menit pertama, kami seperti tidak di pertandingan. Mereka (RBL) dengan mudahnya melakukan crossing ke kotak penalti dan dua kali kegagalan kami mengantisipasi menjadi hukuman (gol, Red),’’beber Maguire.