Ketidaksetaraan Satu Penyebab Perempuan Sulit Untuk Orgasme

Ketidaksetaraan Satu Penyebab Perempuan Sulit Untuk Orgasme

Ketidaksetaraan Satu Penyebab Perempuan Sulit Untuk Orgasme

Ketidaksetaraan Satu Penyebab Perempuan Sulit Untuk Orgasme

LudoQQ Poker Galaxy – Pemerhati pemberdayaan perempuan, Firliana Purwanti mengungkap sejumlah alasan perempuan sulit orgasme saat berhubungan bersama pasangannya di tempat tidur.
Menurut Firliana, salah satu penyebab perempuan sulit orgasme saat berhubungan, yakni tak ada kesetaraan dengan pasangan. Ketidaksetaraan juga kerap melahirkan kekerasan dalam berhubungan.

“Terus perempuan yang saya wawancarai, orgasme itu selain setara dia pasti bebas dari kekerasan. Orang kalau udah setara gampang banget tuh terjerumus dalam hubungan yang nggak sehat dan toxic,” ujar Firliana dalam diskusi daring, Sabtu (15/8) malam.

Dia menambahkan, kunci perempuan agar bisa orgasme juga harus memiliki pengetahuan seks yang lengkap dan kritis. Menurut Firliana, memiliki pengetahuan seks yang lengkap penting agar perempuan tidak membahayakan dirinya sendiri.

Dia mencontohkan, tak sedikit perempuan karena tak memiliki pengetahuan seks, alih-alih tak ingin selaput daranya pecah, perempuan justru menggunakan anusnya saat berhubungan dengan laki-laki pasangannya.

“Jadi itu yang menyebabkan perempuan sulit orgasme. Karen mitos harus jadi perempuan baik-baik dikaitkan dengan harus perawan, Dan itu menimbulkan kecemasan, keraguan, yang akhirnya nggak bisa orgasme,” kata dia.

“Sayang banget padahal orgasme enak banget kan,” tambahnya.

Sementara, mengutip hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, Firliana menyebut, 81% remaja perempuan dan 84% remaja pria telah berpacaran. Dari angka itu, 45% remaja perempuan dan 44% remaja pria, mulai berpacaran sejak usia 15-17 tahun.

Menurut dia, rentang usia ini menjadi masa organ reproduksi telah beranjak matang dan mulai timbul ketertarikan secara seksual yang natural.

Oleh karenanya, lanjut Firliana, jika tidak mereka tak mempunyai kapasitas soal kesehatan reproduksi dan hak seksual, mereka sangat rentan terhadap praktik perilaku seksual yang tidak sehat dan beresiko yang berpotensi menjadi korban kekerasan seksual.

“Edukasi seks yang komprehensif harus diajarkan sejak dini, bahkan di negara-negara maju, pendidikan reproduksi sudah diajarkan sejak kecil. Hal tersebut dimaksudkan agar setiap individu menghormati dan menghargai diri dan anggota tubuhnya,” ucap pengarang buku The O Project itu.