Kepunahan Es Mengancam Populasi Anjing Greenland

Kepunahan Es Mengancam Populasi Anjing Greenland

Kepunahan Es Mengancam Populasi Anjing Greenland

 

Kepunahan Es Mengancam Populasi Anjing Greenland

Penduduk di Desa Kulusuk, Greenland, punya tradisi berburu memakai kereta luncur anjing. Namun pemanasan global menciptakan tradisi tersebut semakin memudar.

Kereta luncur anjing dipakai untuk transportasi hingga perburuan di Greenland, khususnya di musim dingin yang dapat bersuhu sampai minus 35 derajat Celcius.

Beberapa tahun belakangan ini, lapisan es di Greenland menjadi lebih sulit terbentuk dampak pemanasan global.

Tahun ini sampai menjelang musim panas berakhir, negara otonom Denmark ini masih belum sepenuhnya dingin. Padahal tadinya sebanyak 85 persen distrik Greenland berupa lapisan es.

“Lapisan es tidak sedikit berubah,” kata salah satu warga desa empunya kereta luncur anjing.

Mobil salju juga dipakai penduduk Greenland guna berkendara di tengah es, tetapi tak seefektif kereta luncur anjing guna berburu anjing laut dan paus.

Di musim dingin saat es laut membeku, kesebelasan Bajare yang terdiri dari 12 anjing unik kereta luncur kayu ke tepi lautan es. Dari sana, ia mengawali berkayak dengan bedil untuk berburu anjing laut.

Namun, katanya, dalam 35 tahun terakhir, pola terbentuknya es menjadi tidak cukup dapat diprediksi.

Es dulu menebal mulai Februari sampai Juni atau Juli. Sekarang, es membeku lebih mula dan menipis sebelum waktunya, dan area-area yang aman guna kereta luncur ikut berubah.

Naik kereta luncur anjing ialah cara guna kembali ke alam, kata Bajare.

“Ketika saya mempunyai masalah, dengan keluarga, atau kehidupan, saya pergi bareng anjing-anjing saya guna menyendiri sesaat di tengah alam.

“Kini es lebih cepat hilang,” ujarnya.

Bergantung dengan alam

Seperti mayoritas dari 250 warga desa, Bajare ialah Inuit, warga asli yang adalah90 persen dari populasi Greenland.

Dikenal sebab mampu beradaptasi dengan lingkungannya, orang Inuit bergantung dengan alam guna hidup, berburu fauna untuk makanan, pakaian, bahan bakar, dan membina alat.

Sebuah museum kecil di Desa Kulusuk memajang alat-alat yang tercipta dari tulang, kayak yang tercipta dari kayu apung dan pakaian yang tercipta dari kulit samak, menunjukkan bagaimana semua pemburu terus menyempurnakan dagangan ini guna beradaptasi dengan keperluan mereka yang terus berubah.

Selama berabad-abad, semua pemburu laksana Bajare telah merawat anjing-anjing Greenland, jenis yang serupa dengan husky Alaska.

Kehilangan budaya

Dengan distrik Arktik yang memanas dua kali lebih cepat belakangan ini, kekhawatiran Bajare sama dengan mayoritas masyarakat di Kulusuk: 79 persen populasi pulau itu beranggapan lautan es menjadi lebih riskan untuk dilalui.

Dan menurut keterangan dari survei Greenlandic Perspectives, yang dilaksanakan oleh universitas-universitas Kopenhagen dan Greenland, selama 67 persen menuliskan mereka beranggapan perubahan iklim bakal merugikan pengelompokan anjing.

Kunuk Abelsen ialah pemburu muda yang mempunyai dengan 22 anjing.

Baginya, anjing ialah sumber hiburan yang tak ternilai.

“Kami tidak mempunyai lapangan sepak bola, kami tidak memiliki empang renang. kita dapat mengembara ke alam guna rekreasi,” katanya.

“Jika kami berhenti memakai kereta luncur anjing, kami kehilangan mayoritas dari kebiasaan kita.”

Seperti warga lainnya, Abelsen pun menghasilkan duit dengan membawa turis naik kereta luncur anjing.

Bertarif 1.000 kroner Denmark (sekitar Rp1,5 juta), wahana tersebut membantu menutupi ongkos memberi santap anjing-anjing sekitar musim panas.

Tapi Abelsen menuliskan dirinya mulai ragu guna tetap merawat anjing, pasalnya tidak sedikit kawannya yang mulai meminimalisir jumlah anjing peliharaan sebab mahalnya ongkos perawatan.

Data tahun 2016 dari Statistics Greenland menuliskan jumlah anjing sudah turun menjadi 15 ribu dari selama 25 ribu pada tahun 2002.

Tapi Abelsen menuliskan dia pun melihat orang beradaptasi dengan perubahan.

“Perubahan iklim jelas bukan urusan yang baik guna naik kereta luncur anjing,” katanya.

“Tapi tersebut memberi kita bisa jadi untuk memancing, pergi berburu dengan kapal sepanjang tahun. Ada lebih tidak sedikit orang mengerjakan hal baru.”

Ada dalam darah

Peneliti Italia Andrea Fiocca mengatakan bila penduduk Kulusuk dapat beradaptasi dengan evolusi iklim.

Fiocca menguras empat bulan di desa itu, mempelajari bagaimana mereka mengetahui perubahan iklim.

“Ada tidak sedikit adaptasi dan keawetan yang khas dari orang Inuit, yang benar-benar terlukis dalam teknik mereka menyaksikan anjing (dan) memakai anjing.”

Turun di pelabuhan Kulusuk, semua nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka di dermaga kecil.

Ayah Abelsen, Bendt, yang pun seorang pemburu yang rajin, dengan sarat semangat menilik perburuan panjang dengan anjing-anjing di lautan dan bercita-cita putranya bakal dapat melanjutkan tradisi tersebut di masa depan.

“Tradisi berburu dengan kereta luncur anjing terdapat dalam darah saya dan anak saya. Jadi andai tidak terdapat es lagi, apa yang bakal kami lakukan?” CERDASPOKER