Kenzo Takada dan Pesan Kebebasan dalam Balutan Busana

Kenzo Takada dan Pesan Kebebasan dalam Balutan Busana

Kenzo Takada dan Pesan Kebebasan dalam Balutan Busana

Kenzo Takada dan Pesan Kebebasan dalam Balutan Busana

Desainer Kenzo Takada berpulang di usia 81 tahun pada Senin (5/10) akibat Covid-19. Kepergiannya tak pelak menimbulkan duka mendalam baik di antara rekan sesama desainer, sahabat, bahkan pemerintah Jepang.
Bagi pemerintah Jepang, Takada dinilai berjasa dalam menyebarkan seni dan budaya Jepang pada dunia.

“Sangat menyedihkan. Sebagai seorang desainer Jepang dengan jangkauan global, dia sangat sukses dan dikenal dengan baik,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet, Katsunobu Kato, mengutip pokerrepublik.

Takada adalah pendiri label Kenzo dan desainer Jepang pertama yang bertandang ke Paris. Tak ada satu pun warga Jepang yang melupakan sumbangsih Takada dalam dunia mode.

Lahir di Himeji, Jepang, 27 Februari 1939, Takada mulai tertarik terjun ke dunia mode setelah membaca majalah mode milik saudaranya. Mengutip dari New York Times, ketertarikannya akan fesyen ini tidak direstui orang tua.

Demi menyenangkan orang tua, Takada pun mempelajari sastra di Kobe University. Tapi, kemudian dia keluar dan masuk bergabung ke Bunka Fashion College di Tokyo. Kala itu, Takada menjadi siswa laki-laki pertama di sekolah tersebut.

Kariernya melesat kala memenangkan penghargaan fesyen bergengsi Soen Prize pada 1960. Takada mendesain busana perempuan untuk department store Sanai.

Namun, persiapan Olimpiade Tokyo pada 1964 malah mengubah jalan hidupnya. Apartemen miliknya harus digempur demi pembangunan fasilitas olimpiade. Ganti rugi yang setara untuk sewa tempat selama 10 bulan ia jadikan modal untuk berangkat ke Perancis, salah satu negara kiblat mode dunia.

Selama 56 tahun Takada berada di Paris. Selama itu pula karya-karya dikenal dan diakui dunia mode. Takada memulai petualangannya di Paris dengan menjual sketsa untuk para desainer. Baru pada 1970, dia membuka butik pertamanya.

“Saat saya membuka butik, saya berpikir tak ada gunanya melakukan sesuatu yang dilakukan desainer Prancis, karena saya enggak bisa melakukannya. Jadi saya melakukan sesuatu dengan cara saya untuk tampil beda, dan saya menggunakan material kimono dan pengaruh lain,” ujar Takada dalam sebuah wawancara pada 2019 mengutip South China Morning Post.

Masih lekat di ingatan orang akan desainnya yang menghiasi sampul majalah Elle. Desain yang menggambarkan kebebasan lewat busana oversized memberikan kesan tentang pentingnya ‘memerdekakan’ tubuh.

Takada juga dikenal sebagai desainer yang kerap hadir melalui desain busana yang fun, penuh warna, menonjol, dan penekanan bordir pada detail. Baginya, fesyen tak ubahnya bersantap. Seseorang seharusnya tak melulu menyantap makanan dengan menu yang sama.

“Saya ingat, dia mengungkapkan pada saya bahwa dia ingin membuat ‘happy clothes’. Itu berarti penuh warna dengan kebebasan tubuh perempuan,” tulis kritikus mode Suzy Menkes.

Tidak membatasi diri hanya pada busana perempuan, Takada memperluas desain ke ranah busana pria pada 1986. Bahkan pada 1988, dia memperkenalkan produk parfum yang hingga kini masih disukai.

Sayangnya, masa sulit menghampirinya pada 1993 silam saat pasangannya meninggal dunia dan partner bisnisnya terkena stroke. Takada kemudian memutuskan untuk menjual perusahaannya ke LVMH, grup label fesyen mewah asal Prancis. Takada kemudian memutuskan pensiun pada 1999 silam.