Kenikmatan Membenci

Kenikmatan Membenci

Kenikmatan Membenci

Kenikmatan Membenci

Masyarakat tertegun dengan rentetan aksi teror yang terjadi. Sepasang suami istri yang masih terbilang berusia muda meledakkan dirinya di depan Gereja Katedral Makassar.

MEREKA membunuh diri menggunakan peledak dengan daya yang cukup besar yang kemudian melukai 20 orang. Kejadian ini mengejutkan serta menyebabkan kesedihan bagi para umat yang tengah beribadah misa, namun secara umum kejadian ini juga menimbulkan keresahan bagi masyarakat luas.

Tidak lama kemudian terjadi teror di Mabes Polri. Terduga pelaku adalah seorang perempuan muda yang mengikuti paham ekstremis. Beberapa fakta mengenai rantai kejadian ini adalah aksi teror tersebut dilakukan pelaku yang masih muda dan melibatkan jaringan keluarga. Kejadian yang melibatkan pelaku keluarga pernah terjadi di Surabaya pada 2018, lalu di Sibolga pada 2019. Daftar di sini

Kejadian-kejadian kekerasan di akhir Maret ini tentu membuat murung. Mengingat betapa pentingnya perdamaian dan keakraban relasi antarumat beragama yang terus dibangun. Keletihan sosial terhadap kekerasan bertumpuk dengan berbagai cobaan yang dialami masyarakat, dari pandemi Covid-19 hingga bencana alam.

Kejadian teror ini menyakiti kemanusiaan kita secara keseluruhan. Dalam kegelisahan, saya teringat esai karya seorang penulis Inggris bernama William Hazlitt.

Ia menulis renungannya tentang gairah manusia untuk membenci. Ia berpendapat bahwa jauh pada dasar hatinya, manusia adalah makhluk yang lekat dengan konfrontasi, meski seiring dengan perkembangan zaman dahaga itu dapat dikendalikan sehingga tidak selalu bermanifestasi menjadi kekerasan.

”Kenikmatan membenci seperti mineral beracun, mengunyah ke dalam jantung agama, dan mengubahnya menjadi limpa penuh luka dan kefanatikan.” Kata-kata ini saya baca berkali-kali, namun apakah benar kita makhluk yang dikendalikan oleh kebencian?

Hazlitt bahkan berargumentasi, cinta dapat berubah, rasa cinta dapat pudar, sedangkan benci akan terus bertahan. Seolah-olah Hazlitt ingin menegaskan letak kepuasan dalam membenci. Saya mencoba menepis pesimisme seperti ini dengan menggali kembali makna pengalaman religius bagi individu.

Pengalaman beragama adalah bagian yang fundamental bagi seseorang, pengalaman yang semestinya memberikan pencerahan dan kebahagiaan.

Pengalaman beragama sering kali dipandang sebagai ranah privat bagi individu. Indonesia dengan masyarakatnya yang multikultural memiliki karakteristik kemajemukan dalam berbagai wujud, seperti budaya, adat, tradisi, agama, maupun etnisitas.

Meski demikian, menurut saya ada kesalahpahaman dalam memahami multikulturalisme secara pasif, yakni sebatas diversitas yang dilaksanakan serta bertumbuh di ruang privat. Perbedaan-perbedaan ini seharusnya dapat diterjemahkan sebagai diskursus di ruang publik. Begitu pula pengalaman beragama yang mengalir dinamis dari privat ke publik, lalu sebaliknya.

Dalam filsafat bahasa, Ludwig Wittgenstein menjelaskan hubungan antara bahasa, realitas, dan pikiran. Logika akan memberikan batasan antara apa yang dapat disampaikan maupun tidak.

Memang ia ingin mengkritisi dunia filsafat dari kekacauan berbahasa. Lantas, apa hubungannya dengan pengalaman beragama? Tentu akan menjadi sulit untuk mengekspresikan kekhusyukan serta intensitas seseorang ketika berada dalam keterbawaan religius.

Bisa jadi, kita bersengketa terkait dengan makna-makna yang terlampau subjektif. Meski demikian, menurut saya hakikat kehidupan sosial adalah suatu kebutuhan untuk berdialog, manusia ingin bertutur satu dengan yang lain tentang pengalaman-pengalamannya yang unik, betapapun sukarnya mencapai suatu pemahaman.

Begitu pun terkait dengan apa yang dapat kita sampaikan tentang hubungan antara terorisme dan agama. Alissa Wahid, seorang aktivis dan tokoh perempuan muslim, membantah pandangan bahwa terorisme tidak terkait dengan agama. Ia merespons kejadian teror dengan pikiran terbuka bahwa sebaiknya tidak menyangkal kekerasan berbasis agama.

Hal ini sebagai upaya membenahi pemaknaan pengalaman beragama di ruang publik. Kita perlu mengkhawatirkan bagaimana aksi-aksi teror yang semakin melibatkan perempuan dan anak-anak. Alissa Wahid menggarisbawahi urgensi untuk memahami perekrutan yang menggunakan persuasi narasi kepada individu hingga keluarga.

Siti Musdah Mulia dalam penelitiannya yang telah dipublikasi menjelaskan berbagai peran perempuan dalam aksi terorisme, di dalam kelompok mereka menjalankan tugas-tugas seperti kurir, mata-mata, pendidik, perekrut, menjadi tameng, hingga melaksanakan bom bunuh diri.

Ia juga menyampaikan temuan bahwa pelaku perempuan acap kali pernah mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), trauma, mengalami konflik dalam keluarga, atau perceraian. Kita perlu memperbincangkan persoalan ini secara publik sebagai bagian dari cara untuk membongkar metode penyebarluasan gagasan mereka.

Kebencian yang dipupuk secara privat, di dalam rumah, juga ruang berkelompok terbatas yang tertutup dan berlangsung senyap. Bahasa yang mereka ciptakan di lingkaran yang terbatas ini memunculkan dunia yang tunggal, satu-satunya yang utama, yakni mengorbankan nyawa sebagai kewajiban agama. Asumsi ini tidak teruji dalam bahasa komunitas yang plural maupun penalaran publik.

Upaya pencegahan terorisme atau deradikalisasi tidak selalu berkutat pada strategi pertahanan maupun pemolisian, tetapi juga melalui produksi kultural. Kultural dalam konteks ini adalah bagaimana bahasa bekerja sehari-hari dalam masyarakat. Diperlukan artikulasi-artikulasi pengalaman beragama yang mendorong pertukaran pikiran yang rasional dan jujur tentang pengalaman itu. (*)