Kenapa Banyak Orang Nekat Belanja Baju Lebaran saat Pandemi Corona?

Kenapa Banyak Orang Nekat Belanja Baju Lebaran saat Pandemi Corona?

Kenapa Banyak Orang Nekat Belanja Baju Lebaran saat Pandemi Corona?

Kenapa Banyak Orang Nekat Belanja Baju Lebaran saat Pandemi Corona?

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Tangerang tampaknya berjalan tidak efektif. Bagaimana tidak, dalam video yang tersebar di fasilitas sosial, ratusan warga menyerbu mal CBD Ciledug, Tangerang, di sedang pandemi dan pemberlakukan PSBB. Klik di sini

Dalam video tersebut, terlihat kepadatan masyarakat yang menanti mal dibuka. Antreannya lebih-lebih hingga mengular ke protokol jalan. Mereka berdesakan tanpa mengacuhkan physical distancing, seolah tak pikirkan tersedia virus yang mengintai. Tatkala pengelola membuka mal, warga langsung menyerbu sejumlah toko baju yang tersedia di dalamnya.

Pemandangan seperti ini termasuk berjalan di daerah lain. Di Jember, misalnya, sejumlah mal nekat membuka hingga berjalan kepadatan dan penumpukan pengunjung. Pertanyaannya, kenapa masih banyak warga yang nekat berbelanja baju lebaran padahal sedang tersedia virus corona yang mengintai dan bisa membahayakan kesehatan?

Alasan orang nekat belanja dicermati berasal dari segi psikologis
Psikolog Bimo Wikantiyoso, M.Psi, Psi. yang termasuk merupakan mahasiswa S3 psikologi di Universitas Atma Jaya menjelaskan, tersedia beberapa pendekatan yang melatarbelakangi kenapa masih banyak warga nekat berbelanja baju lebaran di sedang pandemi COVID-19.

 

Jika dicermati berasal dari teori pola perilaku, maka setidaknya tersedia tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengetahui fenomena ini. Pendekatan pertama adalah tradisi. Berbelanja baju lebaran adalah tradisi atau tradisi yang telah berjalan lama. Semakin lama seseorang jalankan suatu kebiasaan, tambah lama pula sistem untuk menghalau atau mengubahnya.

“Terlepas tersedia pandemi atau tidak tersedia pandemi, itu jadi bukan hal yang dominan alam pikiran masyarakat, tapi bagaimana tradisi ini bisa berjalan,” ujar Bimo

Pendekatan ke-2 adalah ada perbandingan sosial. Berbelanja atau tidak, seseorang bakal mendapatkan konsekuensi. Dalam sebuah tradisi, disaat tersedia orang yang tidak jalankan tradisi yang berlaku di lingkungannya–dalam hal ini berbelanja untuk merayakan Idul Fitri– tak jarang mereka bisa mendapatkan stigma negatif berasal dari group sosialnya.

“Misalnya, jikalau aku tidak merayakan Idul Fitri seperti biasanya, aku barangkali bakal dicap macam-macam, entah sombong, tidak bergaul, atau apa-pun itu. Semua stigma itu bisa saja diterima seseorang jikalau lebaran yang ia jalani melenceng berasal dari tradisi yang telah ada. Akibatnya, tersedia rasa kekhawatiran tersendiri,” kata Bimo.

Menurut Bimo, rasa takut bakal stigma negatif di masyarakat tampaknya lebih dominan ketimbang kekhawatiran terpapar virus corona atau pandemi. Rasa takut masyarakat terhadap pandemi atau virus barangkali masih terlalu abstrak atau tidak konkret dan tidak dirasakan secara langsung.

“Tetapi aku cukup yakin bahwa banyak rekan-rekan yang mengalami langsung betapa bahayanya dampak negatif berasal dari pandemi. Mereka pasti miliki pertimbangan yang berlainan ketimbang orang yang tidak berinteraksi langsung bersama dengan pandemi,” ungkapnya.

Pendekatan ketiga adalah munculnya rasa suntuk dan suntuk yang dialami masyarakat sebab terlalu lama menjalani PSBB. Ketika tersedia peluang atau peluang, seperti dibukanya mal dan transportasi umum, masyarakat bakal memanfaatkannya untuk melepaskan penat.

“Jadi tersedia kecenderungan masyarakat telah cape bersama dengan PSBB, kebetulan rela lebaran dan tersedia uang lebih sebab THR, ya telah mereka memastikan untuk belanja ketimbang cape di rumah. Itu bisa jadi salah satu variabelnya,” kata Bimo.

Itulah tiga pendekatan yang barangkali jadi segi kenapa banyak orang nekat berbelanja baju lebaran di sedang pandemi corona. Kendati begitu, Bimo menggarisbawahi bahwa ia hanya fokus terhadap masyarakat yang bisa berbelanja dan miliki energi beli.