Kemarau Panjang di Maluku Barat Daya, Ribuan Kerbau Mati

Kemarau Panjang di Maluku Barat Daya, Ribuan Kerbau Mati

Kemarau Panjang di Maluku Barat Daya, Ribuan Kerbau Mati

Kemarau Panjang di Maluku Barat Daya, Ribuan Kerbau Mati

Ketua Komisi III DPRD Maluku, Anos Yermias menyatakan kemarau panjang telah memicu ratusan lebih-lebih nyaris capai 1.000-an ekor kerbau mati mengenaskan setiap th. di Pulau Moa anggota timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

“Ada surat dari Kades Tounwawan, Kecamatan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya yang ditujukan ke Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dan tembusannya disampaikan ke Komisi III DPRD Provinsi Maluku mengenai kematian kerbau akibat kemarau dan sulitnya memperoleh air,” kata Ketua Komisi III DPRD Maluku, Anos Yermias di Ambon, Selasa  LudoQQ pokerace99.

Ia menyatakan bahwa matinya ternak kerbau punya warga Kecamatan Moa ini bermula dari kunjungan reses yang dikerjakan Anos Yermias ke Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) maupun Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Menurut dia, dari kunjungan ke desa-desa dan dusun di Kabupaten MBD terungkap setiap tahunnya angka kematian kerbau cenderung naik akibat musim kemarau panjang yang umumnya berlangsung pada September hingga awal Desember.

“Setiap th. per dusun, bila di Dusun Kiera yang merupakan petuanan (hak ulayat) Desa Tounwawan, kematian kerbau mencapai sekitar 300-an ekor belum terhitung desa induk yang bervariatif pada 300 hingga 500 ekor kerbau,” kata Anos, dilansir Antara.

Kemudian kala kunjungan kerja di Desa Klis, Kabupaten MBD angka kematian kerbau setiap th. terhitung mengalami peningkatan.

“Karena itu kita perlu sampaikan bahwa hingga kala ini pemerintah kabupaten terhitung tidak cukup peduli dengan kematian kerbau setiap th. terutama di Pulau Moa anggota timur,” katanya.

Kebetulan kala reses, dirinya terhitung singgah dengan staf dari Balai Wilayah Sungai Maluku sekaligus menggunakan peluang mencari sumber air untuk nantinya dikerjakan pembangunan air bersih atau air baku seperti yang sudah dikerjakan di Desa Wakarleli, Kecamatan Moda.

Sehingga, kata dia, terhadap th. 2021 sanggup dibangun sarana air bersih di Tounwawan dan Dusun Klis untuk menyelamatkan kerbau-kerbau yang selama ini hidup dan makan di padang rumput.

“Ini merupakan harapan DPRD dan mudah-mudahan saja surat yang disampaikan kepala desa sanggup segera terealisasi,” katanya.

Yang disayangkan, kata dia, adalah jarak pada desa-desa dan dusun dengan Tiakur sebagai Ibu Kota Kabupaten MBD hanya sanggup ditempuh melalui jalur darat sekitar 30 menit.

Namun hingga hari ini ada program pemerintah tempat yang disebut “Agrowisata Kerbau Moa” atau “artakekemo” sehingga harusnya perlu ditindaklanjuti dengan upaya-upaya untuk menyelamatkan kerbau ini.

Saat ini harga satu ekor kerbau di Moa dan Pulau Kisar di atas Rp4 juta dan jikalau setiap th. kematian kerbau di atas 500 ekor bila lantas dikonversikan ke nilai rupiah maka sudah capai Rp2 miliar.

“Kasihan rakyat di sana, dan untuk apa pemerintah ada di kabupaten jikalau lantas kebutuhan penduduk terhadap air bersih bila masih tetap terabaikan,” katanya.

Komisi III DPRD Maluku terhitung sudah menghendaki Balai Wilayah Sungai laksanakan evaluasi program-program penyediaan air bersih dan embung sehingga yang dialkukan terlalu tepat sasaran.

Misalnya pembangunan air bersih, sediakan kran-kran air, dan membangun tempat minum tertentu untuk kerbau-kerbau yang berdatangan, demikian Anos Yermias.