Kasus Penipuan Gunakan Bukti Transfer Palsu Sedang Marak, Ini Imbuan dari OJK

Kasus Penipuan Gunakan Bukti Transfer Palsu Sedang Marak, Ini Imbuan dari OJK

Kasus Penipuan Gunakan Bukti Transfer Palsu Sedang Marak, Ini Imbuan dari OJK

Kasus Penipuan Gunakan Bukti Transfer Palsu Sedang Marak, Ini Imbuan dari OJK

PESIARQQ – Penipuan dengan menggunakan bukti transfer palsu yang merugikan para penjual online sedang marak terjadi belakangan ini.Wakil Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo Tito Adji Siswantoro mengatakan saat ini modus penipuan dengan merekayasa bukti transfer memang sedang marak, Minggu (10/11/2019).

Namun, Tito menyebutkan, hingga saat ini belum ada yang melapor secara langsung ke OJK Solo.

Pihaknya mengimbau seluruh masyarakat untuk berhati-hati dengan modus penipuan tersebut.

“Kami cuma mengimbau atau menyarankan saja, kepada seluruh masyarakat, untuk berhati-hati karena memang sekarang ini banyak modus penipuan dengan merekayasa bukti transfer,” kata Tito melalui sambungan telepon.

Tito menyebutkan, sistem belanja online yang populer saat ini dimanfaatkan oknum penipuan untuk memperoleh uang melalui rekayasa bukti transfer.

Wakil Kepala OJK Solo tersebut menyarankan penjual online untuk mengecek saldo atau riwayat transaksi setelah menerima bukti transfer dari pembeli.

Ia juga menyebutkan, masyarakat akan lebih terbantu jika memanfaatkan fasilitas dari perbankan, seperti m-banking atau notifikasi melalui SMS dari bank.

“Kan sekarang bisa tuh lewat m-banking atau dengan mengaktifkan notifikasi yang diberikan perbankan. Jadi hati-hati kalau menerima transfer, harus dicek dulu,” ujar Tito.

Tito pun menyarankan para korban untuk melaporkan penipuan tersebut ke polisi dengan melampirkan foto bukti transfer serta nomor yang digunakan untuk melakukan modus penipuan.

Selain itu, pelapor juga disarankan mencetak riwayat transaksi untuk memperkuat bukti.
Ia menyebutkan, OJK akan menyosialisasikan modus-modus penipuan seperti ini.
Sosialisasi yang dilakukan tak lain untuk menginformasikan pada masyarakat mengenai modus-modus penipuan serta bagaimana cara masyarakat mencermati transaksi-transaksi online.

“Memang, kalau sekarang, kita mengedukasi masyarakat yang belum terbiasa transaksi dengan perbankan karena biasanya mereka lebih gampang tertipu,” kata Tito.

Cerita korban penipuan

Menurut keterangan korban penipuan, Jovi (21) bukan nama sebenarnya rugi Rp 1.100.000,- karena penipuan ini.

Penipuan itu dialaminya pada Selasa (5/11/2019).
Jovi menceritakan kejadian tersebut bermula saat dirinya mendapat pesanan katering sebanyak 250 kotak.

Pembelinya pun mengaku sudah mengirim uang senilai Rp 5.500.000 kepada Jovi.

Jovi mempercayainya karena terdapat bukti transfer yang dikirim melalui pesan WhatsApp.

“Tiba-tiba orang itu minta pengurangan menjadi 200 kotak. Karena sudah mendapat bukti transfer, saya kembalikan uangnya Rp 1,1 juta,” jelas Jovi melalui keterangan tertulis.

Setelah uang tersebut ia kembalikan, Jovi baru menyadari bahwa pembelinya belum mentransfer uang sama sekali.

Bukti pengiriman yang semula dikirimkan melalui WhatsApp pun dihapus oleh pelaku penipuan tersebut.

“Saya jadi nggak punya bukti itu lagi. Sekarang yang ada hanya riwayat pesan saja,” kata Jovi.

Kejadian serupa nyaris dialami oleh Fathur (21) dan rekan-rekannya yang sedang menangani jual-beli tiket acara kampus.

Ia mengaku sudah dua kali mendapat bukti pengiriman dari pembeli yang kemudian meminta sebagian uangnya dikembalikan.

Kejadian pertama dialaminya pada Minggu (3/11/2019).

Ia mendapat bukti transfer senilai Rp 550.000,-.

Selanjutnya, hal tersebut terjadi lagi pada Kamis (7/11/2019), dengan bukti pengiriman uang senilai Rp 4.000.000,-.
Fathur mengaku, setelah pembeli tiket tersebut mentransfer Rp 4.000.000,-, pembeli meminta sebagian uangnya dikembalikan.

“Dia bilang, transfernya kelebihan, seharusnya Rp 400.000,- lalu minta kelebihan uangnya dikembalikan,” cerita Fathur.

Karena curiga, Fathur pun memeriksa riwayat transaksinya.

Namun, dia tidak menemukan pengiriman uang sebesar Rp 4.000.000,-.

“Setelah itu, panitia tidak menanggapi lagi. Untung uang yang dia minta tidak langsung kami kirimkan,” ujarnya.