Inilah 7 Mitos tentang Selingkuh yang Perlu Anda Ketahui

Inilah 7 Mitos tentang Selingkuh yang Perlu Anda Ketahui

Inilah 7 Mitos tentang Selingkuh yang Perlu Anda Ketahui

Inilah 7 Mitos tentang Selingkuh yang Perlu Anda Ketahui

BANYAKNYA kasus perceraian akibat perselingkuhan kian marak terjadi. Meningkatnya kasus ini, diyakini bahwa bukan hanya pihak lelaki yang melakukannya, tapi juga perempuan. Padahal mitos yang sudah lama berkembang dan banyak dipahami justru perselingkuhan itu banyak dilakukan pria dan dianggap lumrah. Apakah mitos ini masih berlaku di masa sekarang? Perkembangan zaman membuat mitos-mitos ini tak lagi berlaku. Jangan percaya pada mitos. Lebih baik telaah lebih dulu, sebelum Anda terjebak dan meyakini mitos yang keliru. Coba simak beberapa di antaranya. Ludoqq Domino99

1. Semua orang tidak setia

Itu sesuatu yang normal dan perilaku yang lumrah. Mozart, dalam opera Cosi Fan Tutti, mengungkapkan keyakinan bahwa wanita juga tidak setia. Sekaligus mengingatkan bahwa sudah menjadi rahasia umum jika pria melakukan perselingkuhan. “Higgamous, hoggamous, woman’s monogamous; hoggamous, higgamous, man is polygamous.” Dalam film garapan Nora Ephron, Heartburn (1986), suami Rachel Louise Samstat (Meryl Streep) meninggalkannya demi wanita lain. Ketika Rachel mengadu pada ayahnya, malah kekecewaan yang didapat. Pasalnya sang ayah malah berkomentar, “Kalau kamu mau monogami, kawin saja dengan angsa.”

Kita tak pernah tahu berapa banyak orang yang berselingkuh. Kalau ada orang yang membohongi pasangannya, maka mereka tak akan jujur menjawab survei yang dilakukan. Tapi menurut laporan yang dimuat dalam Psychology Today bulan Mei/Juni 1993, setidaknya setengah pria dan sepertiga wanita yang sudah menikah pernah berselingkuh, setidaknya sekali. Wow, jumlah yang lumayan besar untuk tahun 1993, yang notabene 11 tahun lalu.

Kebanyakan spesies burung yang pejantannya tidak hanya berfungsi sebagai donatur sperma, umumnya monogami. Sedangkan manusia, sebagaimana halnya pemilik sarang, sebenarnya juga monogami, tapi juga makhluk yang tidak sempurna. Manusia sudah dari sananya mendapat hak untuk memiliki pasangan, again and again. Artinya jika kita mengambil pasangan baru sementara pasangan lama masih ada, pasti akan menghancurkan ikatan dengan pasangan sebelumnya dan menciptakan dis-orientasi. Itulah tragedi dari ketidaksetiaan.

2. Perselingkuhan berdampak positif.

Mungkin saja mampu membangkitkan perkawinan yang sebelumnya hambar. Makin berkembangnya revolusi seks, filosofi yang dianut majalah Playboy dan artikel dalam majalah Cosmopolitan, makin memantapkan ketidaksetiaan sebagai cara to keep men manly, women womanly and marriage vital. Bahkan di beberapa buku seperti Adultery garapan Annette Lawson dan The Erotic Silence of the American Wife-nya Dalma Heyn, wanita didorong untuk mewujudkan fantasi seksualnya sebagai bagian dari kesamaan hak.

Kalau perselingkuhan terjadi secara terang-terangan, krisis ketidaksetiaan ini makin memperburuk perkawinan. Bahkan realitasnya, terjadi secara terang-terangan atau tidak, pasti membahayakan perkawinan. Dalam pengalaman beberapa terapis yang telah berjalan sepanjang 30 tahun, hanya sedikit pasangan yang bercerai lantaran ketiadaan WIL atau PIL. Sisanya lebih banyak yang diakibatkan perselingkuhan. Berarti perselingkuhan dianggap sebagai pembuka jalan menuju perceraian.

3. Pasangan yang berselingkuh melakukannya lantaran tidak cinta lagi pada pasangan resmi.

Benarkah mitos ini? Berdasarkan pengalaman banyak terapis, perkawinan mereka justru baik-baik saja sebelum terjadinya perselingkuhan. Bahwa mereka tidak lagi saling cinta hanyalah cara untuk menjelaskan dan membenarkan perselingkuhan yang terjadi.

Anda yang sedang jatuh cinta, juga tidak bisa bertahan dari yang namanya godaan. Setiap perkawinan diliputi banyak emosi, dari godaan hingga rasa jijik, cinta yang mendalam hingga kemarahan yang mematikan. Rasanya terlalu bodoh jika mengurangi emosi yang sedemikian kaya menjadi satu pertanyaan sederhana: “Kamu mencintaiku atau tidak?” Padahal itulah yang biasa ditanyakan dan jangan salahkan jika itu dijawab. Tidak lagi mencintai pasangan bukanlah alasan untuk mengkhianati pasangan Anda. Jika Anda memiliki defisiensi dalam kemampuan mencintai pasangan, maka tidak masuk akal bagaimana tindakan mengkhianati pasangan menjadi pilihan untuk memperbaiki keadaan itu.

4. Berselingkuh lantaran oversexed.

Affairs are about secrets. Ketidaksetiaan tidak selalu berhubungan dengan seks, tapi dengan ketidakjujuran. Swinger (orang yang secara sadar dan terbuka mau bertukar pasangan dengan orang lain) mau melakukan seks dengan orang lain secara terbuka di hadapan pasangannya sendiri, tidak ada yang ditutupi dan tanpa pengkhianatan. Mungkin saja masing-masing pasangan secara diam-diam menghubungi “pasangan mainnya”, tapi tidak sampai mengganggu keintiman dalam perkawinannya.

Perselingkuhan umumnya melibatkan aktivitas seksual. Dengan begitu pelaku berusaha merahasiakan apa yang dilakukan dengan menutupi perselingkuhannya. Tindakan ini membuat hubungan menjadi tegang, berbahaya sekaligus menyenangkan. Sebagian besar perselingkuhan melibatkan seks liar dan berjam-jam mengobrol lewat telepon.

5. Perselingkuhan disebabkan kesalahan pasangannya.

Cara pandang patriarkal berasumsi, jika suami berselingkuh, maka kesalahan berada di pihak istri yang punya gangguan seksual dan emosional. Sedangkan teori feminis meyakinkan kita bahwa jika istri berselingkuh, maka yang bersalah justru suami yang dianggap brengsek. Banyak orang berpendapat, berselingkuh sebagai respon normal terhadap perkawinan yang tidak sempurna. Artinya, kesalahan ditimpakan pada pasangannya.

Satu cara menghindari kesalahan dan tanggung jawab yang ditimpakan pada diri sendiri dengan menyalahkan perkawinan, misalnya dianggap terlalu dini, terlambat, atau terlalu cepat gara-gara ada kejadian sebelumnya. Atau bisa juga dengan menyalahkan karakter pasangan yang sulit diubah, misalnya terlalu tua, terlalu tinggi, terlalu cerdas atau tidak berpengalaman.

6. Sikap paling bijak dengan pura-pura tidak tahu.

Ada sebagian orang yang menghindari ketidaksenangan dengan memilih berdiam diri ketika rumah terbakar, sementara sebagian lain meneriakkan, “Kebakaran!” Berdiam diri justru akan menambah hangat perselingkuhan yang selalu berusaha dirahasiakan. Perkawinan hanya bisa diperbaiki setelah rahasia terungkap dan pelakunya tak bisa lagi menyembunyikan diri. Hal ini otomatis membantu pelaku menghentikan aktivitas selingkuhnya.

Ada keyakinan yang menyebut mestinya pelaku yang berselingkuh menyangkal perbuatannya. Dengan demikian, pasangannya tidak sakit hati dan justru mempertanyakan tindakannya, apakah hanya ilusi atau benar-benar terjadi. Mereka malah menanyakan diri sendiri, mengapa perlu mempertanyakan kesetiaan pasangannya. Padahal kebohongan dan penyangkalan menjadi aspek tak termaafkan. Agar bisa memahami, cobalah simak kasus menarik ini. Sebut saja Wina, sudah bercerai 20 tahun lalu. Tapi hingga kini tak pernah menikah lagi gara-gara ucapan mantan suaminya. Katanya, Wina punya bau badan yang membuatnya alergi. Setelah dianalisa, sang terapis yakin kalau mantan suaminya berselingkuh. Ketika hal ini ditanyakan, ia mengaku. Setelah 20 tahun, Wina baru tahu kalau mantan suaminya pada saat itu tidak ingin menyakiti hatinya sehingga menutupi perselingkuhannya. Kendati kesal, namun Wina bisa lebih menerima dirinya dan mencoba membuka hati untuk pria lain.

7. Setelah ada perselingkuhan, perceraian tak terhindarkan.

Biasanya perkawinan bisa diselamatkan melalui terapi intensif. Bahkan mungkin saja lebih kuat ketimbang sebelum terjadi perselingkuhan. Ketika terjadi perceraian, biasanya lantaran pelaku yang berselingkuh tak mampu menyelamatkan perbuatan pada waktunya atau tak mampu menghadapi perkawinannya.

Timbulnya rasa bersalah bisa menyelamatkan perkawinan Anda. Tapi harus timbul dari dalam diri pelaku yang berselingkuh dan bukan dari pasangannya. Rasa bersalah berdampak bagus. Pelaku menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki. Sedangkan rasa malu justru membuat orang lari dan sembunyi dari kenyataan.