Inilah 3 Tanda Kecanduan Cinta, Anda Merasakannya?

Inilah 3 Tanda Kecanduan Cinta, Anda Merasakannya?

Inilah 3 Tanda Kecanduan Cinta, Anda Merasakannya?

Inilah 3 Tanda Kecanduan Cinta, Anda Merasakannya?

Hanya tidak banyak orang yang tahu bahwa kejangkitan cinta tersebut nyata. Meski demikian, kondisi kejangkitan cinta memang nyata dan tidak sedikit orang berusaha menghadapi jenis kejangkitan ini. Ludoqq Domino99

kecanduan cinta dapat didefinisikan sebagai “ketertarikan yang maladaptif, dalam, dan berlebihan” pada satu pasangan romantis atau lebih.

Individu yang mengalami kejangkitan cinta dapat merasa tak berdaya, kehilangan mohon pada hal beda yang seringkali begitu mereka sukai, dan mengalami sekian banyak konsekuensi negatif. Namun di sisi lain, urusan yang dilafalkan tadi pun adalahtanda-tanda hubungan yang sehat dan solid.

Psikolog Erika Martinez mengatakan, selama 10 persen dari semua populasi di dunia mengalami kejangkitan cinta. Seperti orang yang kejangkitan makanan, pribadi yang kejangkitan cinta pun tak dapat berhenti dari memberi dan menerima cinta. Namun, mereka dapat belajar guna mengella kejangkitan tersebut.

Jika kita mempunyai satu dari sederet tanda kejangkitan cinta, tak berarti kita memang kejangkitan cinta. Sementara bila Anda mempunyai kombinasi sejumlah tanda kejangkitan cinta, urusan itu dapat jadi masalah. Meskipun guna meyakinkan kita benar-benar kejangkitan cinta mesti dicek seorang terapis.

Berikut sejumlah tanda kejangkitan cinta.

Putus Asa
1. Merasa putus harapan ketika pasangan butuh ruang sendiri

Jika kita merasa tak kuasa dan merana bila pasangan menjauh tidak banyak dari Anda, dapat jadi Anda kejangkitan cinta. Tingkat rasa sakit dan kegelisahan yang tak lumrah terhadap kondisi itu dapat menandakan kejangkitan cinta.

Anda perlu mendatangi profesional untuk merundingkan perasaan yang intens itu. Hanya mengandalkan tekad saja terkadang tidak cukup kuat guna mengatasi kejangkitan cinta. Terapi berperan urgen dalam proses pemulihan dari kejangkitan cinta.

Sulit tentukan batasan
2. Sulit menilai batasan

Jika Anda sering kali melalui batas dalam sebuah hubungan, dapat jadi Anda merasakan masalah serius. Solusinya ialah menilai batas. Sayangnya, batasan kerap menciptakan takut pecandu cinta sebab seolah kata tersebut menciptakan pasangan terpisah dari Anda.

Meski demikian, batasan yang sehat dapat membuat pasangan jadi lebih dekat karena urusan tersebut mendorong mereka untuk mengindikasikan respek satu sama lain.

Batasan dapat diartikan sebagai apa saja yang kita perlukan dalam sebuah hubungan supaya merasa baik. Misalnya, kita merasa kesal andai pasangan memanggil kita dengan sebutan tertentu. Jika kita mengalami kejangkitan cinta, bisa jadi Anda bakal merasa cemas akan ditinggalkan pasangan bila berbicara jujur bakal apa yang dirasakan. Anda lantas diam-diam memendam derita, sedangkan pasangan barangkali akan dengan senang hati menghentikan kebiasaan tersebut jika Anda berbicara jujur.

Contoh lain tentang kencaduan cinta yang lebih ekstrem ialah para pecandu cinta dapat jadi tak kuasa menolak bersangkutan intim walau mereka enggan. Mereka justeru akan mengerjakan apa juga yang diharapkan pasangan. Tentu saja tersebut bukanlah sebuah hubungan yang sehat.

Maka, di antara bagian dari mengatasi kejangkitan cinta ialah dengan menciptakan batasan dan mematuhinya.

Putus-sambung
3. Pola hubungan putus-sambung

Bila kita dan pasangan terjebak dalam kelaziman putus-sambung hubungan, bisa jadi Ada mengalami kejangkitan cinta.

Berdasarkan keterangan dari Sharea Farmer, pekerja sosial, seseorang yang kejangkitan cinta dapat jadi menginvestasikan lebih tidak sedikit pada apa yang dapat mereka kerjakan untuk pasangan ketimbang menjadi diri sendiri.

“Orang laksana ini dapat jadi tercebur dalam sikus putus-sambung sebab mereka menyaksikan pasangannya sebagai sosok yang dibutuhkan untuk dapat bertahan,”

“Bagi sejumlah orang, ini laksana suatu urusan yang normal dalam hubungan. Tapi seringkali orang itu hanya konsentrasi memperbaiki pasangan mereka. Artinya, orang yang kejangkitan cinta menggunakan kelemahan atau keunggulan orang beda untuk membungkus identitas mereka.”