Hujan yang Berkelindan dengan Pernikahan, Kematian, dan Harapan

Hujan yang Berkelindan dengan Pernikahan, Kematian, dan Harapan

Hujan yang Berkelindan dengan Pernikahan, Kematian, dan Harapan

Hujan yang Berkelindan dengan Pernikahan, Kematian, dan Harapan

Di tangan 16 penulis yang dilatih lewat grup WhatsApp selama 10 pekan, hujan bisa menjelma apa saja.

DI tangan alam, hujan bisa menjadi apa pun. Sedikitnya saya mencatat tiga hal sederhana yang dapat dilakukan (baca: manfaat) hujan.

Pertama, air hujan jatuh dan langsung terserap tanah menyegarkan daun-daun. Kedua, yang mengumpul dan tak terserap tanah akan menjadi oase bagi hewan-hewan yang kehausan. Atau, yang ketiga, bagi kita yang tengah galau atau bersedih hati, ia akan menjadi sahabat dan mengganti air mata kita. Daftar di sini

Di tangan penulis, hujan, dengan segala kekuatannya, bisa menjelma apa saja. Kita tentu sangat mengingat puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, dan bagaimana puisi tersebut dialihwahanakan dalam bentuk-bentuk lain. Hujan pula yang rupanya menyergap sastrawan Wina Bojonegoro (hal vii) saat dirundung gelisah, efek dari pandemi Covid-19 di awal tahun ini. Bisnisnya tiarap, pemasukan mendekati titik nadir, hingga hobi jalan-jalannya pun harus terhenti.

Dari arah balkon rumahnya di kawasan Desa Semambung, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dia begitu kesal dengan mendung tebal yang disangkanya akan turun hujan itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Menguap, tak menyisakan tetas harapan sedikit pun. Ya, bisa jadi, hujan menjadi semacam harapan ’’kecil’’ untuk menyenangkan diri di tengah pandemi.

Tak ingin mengandung kegelisahan seorang diri, ia lemparkan ide ini kepada para murid yang diampunya bersama rekan-rekan penulis yang lain seperti Damhuri Muhammad, Yusri Fajar, Ken Hanggara, Endri Kurniawati, dan Masdar Zainal. ’’Tubuh boleh tidak ke mana-mana, tetapi otak dan pikiran tak boleh lengket dengan tempat kita berada.’’

Ya, ia memanfaatkan teknologi yang saat itu bisa dijangkaunya, yakni grup WhatsApp, untuk memberikan pelatihan menulis. Hingga dapat kita bayangkan, bagaimana ruwetnya menggelar diskusi atau kelas menulis cerpen dengan platform grup WhatsApp.

Selama 10 minggu, 28 peserta yang bergabung ini dilatih. Tema hujan yang tak jadi datang itu pun bak virus menyusup ke benak para peserta terpilih. Dan, saya rasa, inilah kecerdasan Wina. ’’Aku ingin tahu jadi apa tema itu di benak mereka,’’ ungkapnya.

Fifin Maidarina mengubah hujan menjadi ketakutan akan pernikahan. Sebab, hujan senantiasa membuyarkan pesta pernikahan kedua kakaknya (cerpen Menahan Hujan). Atau, di tangan Dhian H.P., hujan yang urung turun seperti keringnya maaf sang almarhumah ibu saat melihatnya kini bersama dengan wanita lain yang ia cintai (cerpen Mengkhianati Ibu).

Yang paling saya suka adalah karya Metta Mevlana, Batu Kelam Tetasan Hujan. Memadukan legenda urban Bidadari Haur Uljanati, yang ternyata juga adalah karangan Metta saat melihat arti lema haur di KBBI, yang ditutup begitu tragis dengan menggelindingkan tubuh sang suami ke sungai di depan rumah.

Pengarang menggunakan simbol karena simbol mempunyai sifat multitafsir. Simbol dikatakan objek yang tidak dapat dimengerti secara langsung. Sebab, selain simbol merupakan proses pikiran yang rumit, simbol pulalah yang akan mendekatkan kita sebagai pembaca pada karya yang ditulis pengarang. Termasuk, simbol pulalah yang membawa pengarang pada kebaruan proses penciptaan.

Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini, saya rasa, adalah simbol harapan yang berupaya membawa pembaca pada kesadaran bahwa, sekali lagi, manusia harus terus bergerak meski digempur keringnya kesempatan. Sebagaimana cerpen karangan Dewi Purboratih yang berjudul Laki-Laki Masa Lalu. Nyonya Darmawan yang harus mengikhlaskan mantan kekasihnya untuk menjadi seorang romo.

Kesempatan memang tak membuatnya menikah dengan Hatue, laki-laki asal Dayak yang begitu dicintainya. Namun, keputusannya untuk berserah membawanya pada pemahaman baru akan iman percaya.

Hanya, sedikit ketidakjelian kurator terjadi di cerpen ini. Tokoh ’’aku’’ dalam cerita menggunakan setting waktu Paskah yang ia rayakan pada 12 April 2020. Padahal, kita tak mungkin melakukan kegiatan apa pun di masa itu. Pandemi yang menyerang Indonesia di awal Maret 2020 belumlah berakhir pada April tahun yang sama.

Dengan menggadang diri sebagai antologi cerpen yang lahir di tengah pandemi, sekaligus hasil dari workshop menulis cerpen bach #1 yang dihelat Padmedia dengan cara yang terbilang ’’ruwet’’, bagi saya, kehadiran buku ini patutlah dirayakan dan diapresiasi. Terlebih ketika kita tahu, nama 16 penulisnya bukanlah nama-nama sastrawan yang karyanya senantiasa hilir mudik di media cetak atau daring.

Mungkin, dan ini adalah hal kedua yang saya kagumi dari sosok Wina Bojonegoro, adalah ketelatenannya mengajar. Dari yang tak bisa menjadi bisa, dari yang ’’belum pernah’’ menjadi ’’telah’’.

Ya, sebagai buku bacaan, saya merekomendasikan Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini sebagai bacaan bagi Anda yang ingin bangkit dari posisi stagnan untuk mendapatkan semangat yang mengalir di sana. (*)