Harta Karun Sriwijaya Temuan Warga: Cincin Emas Hingga Mantra

Harta Karun Sriwijaya Temuan Warga: Cincin Emas Hingga Mantra

Harta Karun Sriwijaya Temuan Warga: Cincin Emas Hingga Mantra

 

Harta Karun Sriwijaya Temuan Warga: Cincin Emas Hingga Mantra

 

LudoQQ Poker Galaxy – Perburuan barang berharga peninggalan Kerajaan Sriwijaya di lahan gambut bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rupanya telah terjadi semenjak 14 tahun lalu, tepatnya 2005.

Kolektor Benda Peninggalan Sriwijaya Okky Okta Wijaya mengungkapkan, di samping kaya bakal benda peninggalan berharga, area gambut di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terutama di Desa Sungai Jeruju berisi serbuk emas yang biasa ditelusuri oleh warga guna dijual

Okky menjelaskan, peninggalan Sriwijaya kesatu kali ditemukan di tempat tersebut oleh seorang penduduk berupa perhiasan cincin emas pada 2005.

Warga itu mencangkul tanah di halaman rumahnya dan mengejar cincin emas tersebut. Pencarian semakin marak menginjak 2012 seiring penemuan material berisi serbuk emas di tanah tersebut.

Usai karhutla parah yang terjadi pada 2015, masyarakat semakin berduyun-duyun mencari barang berharga dan emas. LudoQQ Poker Galaxy

Lahan bekas terbakar memudahkan akses jalan yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka. Sehingga sekarang masih ada penduduk yang bahkan membuka tenda di dekat lokasi guna berburu benda peninggalan dan serbuk emas.

“Mencari serbuk emas tersebut sudah jadi mata pencaharian warga setempat. Kalau saya melulu membeli barang peninggalan Sriwijaya yang ditemukan warga. Yang serbuk emas, emas alamnya tidak, tersebut ada orang beda yang belinya.

Usai karhutla parah yang terjadi pada 2015, masyarakat semakin berduyun-duyun mencari barang berharga dan emas.

Lahan bekas terbakar memudahkan akses jalan yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka. Sehingga sekarang masih ada penduduk yang bahkan membuka tenda di dekat lokasi guna berburu benda peninggalan dan serbuk emas.

“Mencari serbuk emas tersebut sudah jadi mata pencaharian warga setempat. Kalau saya melulu membeli barang peninggalan Sriwijaya yang ditemukan warga. Yang serbuk emas, emas alamnya tidak, tersebut ada orang beda yang belinya

Di samping koin berbahan emas, koin perunggu dan timah juga ditemukan di tempat tak jauh dari penemuan sebelumnya. Dirinya juga pernah melakukan pembelian guci berbahan porselen dari penduduk yang telah tidak utuh. Setelah diteliti, guci itu adalahporselen masa Dinasti Tang pada abad ke-6.

“Sebagian temuan tersebut saya jual, namun lebih tidak sedikit yang saya simpan. Dijual pun bukan guna dapat dananya saja, tapi guna modal nyari yang lain. Sekali menggali itu dapat sampai terbit Rp50 juta,” kata dia.

Ketua Komunitas Pecinta Antik dan Kebudayaan Sriwijaya (Kompaks) Hirmeyudi berujar, barang peninggalan yang di temukan di Cengal sama serupa dengan barang temuan dari Sungai Musi, Palembang.

Bedanya, temuan di Cengal melulu yang berasal dari abad ke-6 yaitu zaman Dinasti Tang di China. Sedangkan di Sungai Musi, ada barang peninggalan Dinasti Ming abad 12-13, serta Dinasti Qing abad ke-18.

“Di Sungai Musi juga tidak sedikit ditemukan patung berbahan perunggu dan tanah liat tanpa kepala. Itu terjadi ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam yang menyuruh untuk memenggal semua patung yang terdapat di distrik kekuasaannya karena dirasakan berhala. Setelah dipenggal, patung-patung itu dilemparkan ke Sungai Musi,” ujar dia

Di samping patung, koin-koin logam emas, timah, dan perak juga ditemukan di Sungai Musi, serupa seperti yang ditemukan di Cengal. Namun koin-koin emas Sriwijaya tersebut tergolong barang yang paling langka.

Kebanyakan koin kuno yang ditemukan adalahkoin-koin beraksara China laksana yang ditemukan oleh anggota Kompaks, Ary Anggara di Desa Upang, Banyuasin. Ary mengejar satu guci sarat koin perunggu China seberat 50 kilogram memakai metal detector.

“Pencarian barang bersejarah ini memang bukan kini saja, telah ramai dari dulu. Malah kini yang di Cengal tersebut sudah mulai habis. Tapi Pesisir Pantai Timur Sumatera tersebut memang kaya sekali peninggalan laksana ini. Kalau di satu titik ditemukan satu benda berharga, di sekitarnya pasti tidak sedikit yang lainnya karena dapat jadi di tempat tersebut dulunya terdapat pemukiman,” kata dia.