Harga Daging Babi di China Meroket Akibat Virus Corona

Harga Daging Babi di China Meroket Akibat Virus Corona

Harga Daging Babi di China Meroket Akibat Virus Corona

Harga Daging Babi di China Meroket Akibat Virus Corona

PESIARQQ – Ekonom memandang virus tersebut membuat disrupsi rantai makanan. Pembeli di China yang menimbun produk pangan turut menciptakan harga naik. Padahal, setelah Imlek harga seringkali menurun.

“Sepertinya disrupsi persediaan dan penimbunan dampak penyebaran Virus Corona menciptakan harga makanan naik sekitar minggu usai Tahun Baru China saat pada normalnya harga-harga pulang turun,” ujar Julian Evans-Prtichard, ekonom senior dari Capital Economics.

Naiknya harga daging babi menciptakan harga pangan naik 20,6 persen pada Januari ini keitmbang periode yang sama sebelumnya. Secara keseluruhan, tingkat inflasi konsumen naik 5,4 persen.

Berdasarkan keterangan dari laporan Market Watch, eskalasi itu ialah yang tertinggi semenjak 2011. Angka 5,4 persen lebih tinggi dari prediksi semua ekonom di polling Wall Street Journal. Prediksi median semua ekonom sebesar 4,9 persen.

Inflasi di provinsi Hubei, asal dari Virus Corona, terdaftar lebih tinggi yakni 5,5 persen. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I 2020 pun diduga lesu dampak Virus Corona.

Dubes China Pastikan Dampak Ekonomi dari Virus Corona Hanya Jangka Pendek

Virus Corona yang menjadi ancaman dunia ketika ini ternyata tidak melulu menjadi gangguan di dunia kesehatan namun pun pariwisata, khususnya ekonomi. Hal tersebut sudah dikonfirmasi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang sudah menyebut bahwa meluasnya Virus Corona dominan besar pada perkembangan ekonomi China.

Sebab, isu yang dihembuskan ketika ini memunculkan pesimisme terhadap situasi ekonomi global, terutama China. “Mereka (China) kehilangan kuartal I momentum growth,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu 29 Januari.

Sri Mulyani menilai Virus Corona yang terjadi mempengaruhi sejumlah negara-negara yang menjadi hub trafic. Dengan tidak adanya kejelasan terhadap penyakit ini lantas akan merespons ketidakpastian yang menimbulkan akibat utama terhadap ekonomi China.

Namun, Duta Besar Tiongkok guna Indonesia, Xiao Qian mempunyai pandangan sebaliknya. Xiao menuliskan bahwa akibat ekonomi yang dimunculkan hanyalah merupakan akibat jangka pendek.

“Nampaknya tersebut hanya mempunyai sifat jangka pendek saja. Saat ini pertumbuhan China sedang sedang di periode kesempatan strategis yang urgen perkembangan ekonomi, pertangguhan yang kuat, perdinamika yang bagus dan potensi yang besar,” paparnya.

Ia lantas menambahkan bahwa China mempunyai dasar ekonomi yang ingin stabil dan bakal terus meningkat. Ia pun yakin bahwa dalam jangka panjang, fakta tersebut belum berubah dan tidak bakal berubah sebab wabah virus corona ini dapat dicegah dan dikontrol.

“Ketidakstabilan dalam jangka masa-masa pendek tidak akan mengolah kecenderungan dalam jangka panjang dan desakan yang sedangkan tidak bakal menghambat dinamika ekonomi yang mendalam. jadi menurut keterangan dari saya, tidak boleh terlalu khawatir,” katanya lagi.

Bersamaan dengan pengakuan tersebut, Dubes Xiao mengucapkan bahwa dalam tahun ini, China akan membina masyarakat yang berkecukupan secara lengkap dan semakin komprehensif memperdalam reformasi. Negara Tirai Bambu tersebut juga terus bakal memperluas keterbukaan dan mendorong kerja sama ekonomi serta perniagaan untuk mendapat pertumbuhan yang lebih maju lagi.

China pun telah berkomitmen guna terus mengerjakan segala upaya dalam menstabilkan ekonomi negara.